YANG NAMANYA ANAK

YANG NAMANYA ANAK

Pak … , Bu … , saya pergi dulu ya …… !

O… iya, hati – hati dijalan.

 

Itulah sepenggal dialog antara anak dengan orang tuanya, namun juga ada dialog yang lain.

 

Kamu nanti cuci piring ya …

Ibu nggak lihat apa, …saya ini kan sedang capek … !

 

“Interaksi dengan orang tua”, yah … itulah salah satu yang musti kita jalani. Nggak bisa tidak, tiap hari kita senantiasa bergaul dengan mereka, kecuali – maaf – yang sudah ditinggal pergi orang tuanya sejak lahir. Tapi sebagai remaja Islam sudah tepatkah sikap kita kepada mereka ?. Mari simak yang dibawah ini.

 

BERBAKTI KEPADA KEDUA ORANG TUA ADALAH PETUNJUK PARA NABI DAN RASUL.

 

Sesungguhnya berbakti kepada kedua orang tua adalah termasuk perkara yang Allah telah menjadikan fitrah manusia diatasnya. Dan manusia – manusia paling lurus dan sholeh, yaitu para Nabi dan Rasul, serta hamba yang sholih setelah mereka mempunyai sifat ini. Dimana dengan sifat inilah, mereka meniti jalan kemanusiaan yang mulia.

 

Maka inilah Muhammad bin Abdillah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, sewaktu tahun 6 H melewati kota Al Abwa, dimana Ibu beliau dikubur. Pada waktu itu beliau bersama beberapa sahabat dan tentaranya yang berjumlah sekitar 1000 penunggang kuda berbaju besi. Lalu beliau menziarahi kubur Ibunya, kemudian menangis. Maka menangislah orang – orang disekeliling beliau. Kemudian beliau bersabda :

“ Aku mohon izin untuk memintakan ampun Ibuku, namun Allah tidak mengizinkannya. Dan akupun mohon izin untuk menziarahi kuburnya, maka Allah mengizinkanku. Oleh karena itu berziarahlah ke kubur !. Karena hal itu mengingatkan kamu kepada akhirat. “ (HR Muslim, Abu Dawud, An Nasa’I, dan Ibnu Majah. Shahih)

 

Subhanallah …… Sungguh, rasa kasih dan sayang muncul pada diri Nabi kita Shalallahu ‘alaihi wa sallam walaupun telah lama ditinggal oleh orang tuanya.

 

Kemudian inilah Ibrohim ‘Alaihissalam, bapak para nabi dan kekasih Allah. Beliau berbicara kepada bapaknya dengan kelembutan dan penuh kasih sayang pada saat beliau mengajaknya kepada agama yang lurus, walaupun bapaknya telah menyakitinya. Allah telah mengabadikan ucapan RasulNya ini dengan sebuah firman, yang artinya :

“ Wahai Bapakku, sesungguhnya aku khawatir bahwa engkau akan terkena siksa dari Allah karena engkau telah menjadikan syetan sebagai pemimpin. “ (QS Maryam : 43)

 

Ketika beliau diusir dan diancam oleh bapaknya :

“ Dia (Ibrohim) berkata : ‘ Mudah – mudahan keselamatan atasmu, aku akan memohonkan ampun untukmu kepada Rabbku, sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku.’ “ (terjemahan QS Maryam : 47)

 

Maka lihatlah !, beliau menasehati, membimbing, dan mengajak bapaknya menuju kebaikan dengan lemah lembut. Dimana ucapan beliau adalah : “ Wahai bapakku “, yang merupakan seruan penuh perasaan kecintaan dan kelembutan, serta ucapan beliau “ Aku akan memohonkan ampun untukmu kepada Rabbku “.

 

Berdasarkan Hadits Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam yang Shahih tadi, kita dilarang untuk memintakan ampun bagi orang tua yang meninggal dalam keadaan bukan Islam. Maka syariat Nabi kita inilah yang harus kita laksanakan. Adapun kisah Ibrohim tadi adalah sebagai gambaran kelembutan terhadap kedua orang tua.

 

Demikian pula Nabi Yahya yang berjuluk “orang yang berbakti kedua orang tuanya”. Firman Allah yang artinya : “Dan dia adalah orang yang berbakti kepada kedua orang tuanya, dan dia bukanlah orang yang sombong dan maksiat.” (QS Maryam : 14). Lalu Nabi Isa bin Maryam, Allah berfirman yang artinya : “Dan (aku adalah) orang yang berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikanku sebagai orang yang sombong dan celaka.” (QS Maryam : 32). Tak lupa tentang Ismail bin Ibrohim yang begitu taatnya kepada kedua orang tuanya selama merupakan perintah Allah, yaitu menyembelih Ismail, Allah berfirman yang artinya : “Wahai bapakku, kerjakanlah apa yang engkau diperintahkan (oleh Allah), Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang – orang yang sabar.” (QS Ash Shaffat : 102)

 

MENGAPA SAMAR TERHADAP KEBAIKAN

 

Kebaikan dan keutamaan orang tua telah jelas dan berlalu keterangannya …… Perhatikanlah saat kita masih kecil, dan ingatlah tatkala masa kanak – kanak kita yang lemah !

 

Sebagaimana doa : “ Wahai Rabbku, kasihanilah keduanya sebagaimana keduanya telah memeliharaku waktu kecil. “

 

Ibu kita telah mengandung kita di dalam perutnya selama sembilan bulan, dalam keadaan lemah dan bertambah lemah. Beliau telah mengandung kita dengan susah payah, sekaligus dengan susah payah pula melahirkan kita. Pertumbuhan kita dalam perut beliau tidaklah menambah kecuali beban dan kelemahan. Juga sewaktu melahirkan, beliau melihat kematian dengan kedua matanya, namun setelah beliau melihat kita selamat disisinya, dengan cepat beliau lupakan seluruh rasa sakitnya …… Beliau gantungkan sebagian besar harapannya kepada kita …… Beliau melihat keindahan dan perhiasan hidup pada diri kita.

 

Kemudian beliau sibuk melayani kita siang dan malam. Beliau menjaga kesehatannya untuk memelihara kita. Makanan kita adalah air susunya, rumah kita adalah pangkuannya, dan tunggangan (kendaraan) kita adalah anggota badannya. Beliau mengawasi kita, menjaga kita. Beliau merasakan lapar supaya kita merasa kenyang, beliau bergadang supaya kita tidur. Dan beliau sangat kasih sayang terhadap kita.

 

Jika beliau tidak tampak, engkau memanggilnya, jika beliau berpaling, engkau menyerunya, dan jika engkau merasa tertimpa musibah, engkau meminta tolong kepadanya. Engkau merasa aman jika berada dalam pelukannya, engkau merasa tentram jika berada dalam pandangan matanya.

 

Adapun Bapak kita, beliau menjadi penakut dan bakhil karena sayang kepada kita. beliau bekerja keras, berusaha, menepis berbagai rintangan, menahan diri dari bahaya sekedar mencari sesuap (nasi) penghidupan karena kita. Beliau membelanjai kita, mengurusi kita, serta mendidik kita. jika engkau menemuinya, beliau lembut, jika engkau menghadapnya, beliau riang.

 

Jika beliau keluar, engkau bergelantungan padanya, dan jika beliau hadir, engkau merangkul di pangkuan dan dadanya …… Engkau menakut – nakuti setiap orang dengan bapak kita, engkau ceritakan kebaikan bapak kita di hadapan mereka.

 

Itulah kedua Ibu – Bapak kita, dan itulah masa kecil dan kanak – kanak kita. maka mengapa samar terhadap kebaikan ?. Dan kenapa muncul kekasaran omongan serta kekejaman sikap kepada mereka ?. Seakan – akan engkau adalah yang memberi karunia dan anugerah.

 

Keduanya menantikan kebaikan, mengharapkan hubungan yang baik, namun tiba – tiba kita anaknya yang dicintai ini pura – pura lupa dengan masa kecilnya yang lemah. Kita telah mulai berani menyakiti keduanya dengan omelan dan kejengkelan. Terang – terangan berbuat buruk, perkataan keji, bentakan, bahkan tamparan dan tendangan. Na’udzubillahi min dzalik, “keutamaan” akan terganggu, dan “keutamaan” akan menangis melihat nasib mereka yang seperti ini.

 

Wahai kita yang sebenarnya hina, apakah ketika kedua orang tua telah lanjut usia yang kemudian sangat membutuhkan kita, lalu kita menjadikan mereka sesuatu yang sepele ?!!. Engkau berbuat baik kepada orang tua yang lain, namun melupakan kebaikan kepada kedua orang tua kita ?. Urusan mereka memberatkan kita, dan umur mereka terlalu panjang bagi kita …… ?.

 

Oleh karena itu masihkah samar terhadap kebaikan …… ?

 

 

(alif).

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *