Syari’at Nyanyi

Syari’at Nyanyi

Alunan musik yang mendayu-dayu, suara penyanyi yang sangat merdu, ditambah dengan wajah dan bodi penyanyinya yang “aduhai”, memang dapat membuat hati siapapun terbuai. Terbuai oleh alam hayal penuh fatamorgana.

 

Saat ini pun banyak kita jumpai berbagai “aliran” jenis musik, dari yang “slow” sampai yang keras, … semuanya ada. Tetapi, gimana sih sebenarnya tinjauan Islam mendengarkan nyanyian-nyanyian seperti itu, boleh nggak sih? Sayang kan kalau nyanyian-nyanyian sebagus itu tidak dibolehkan? Kan bisa dijadikan hiburan kalau kita lagi suntuk atau stress?

 

Nah, untuk mengetahuinya secara benar, simak deh uraian berikut ini. Tentunya tidak boleh kita mengatakan ini boleh dan ini tidak boleh, ini halal dan ini haram, hanya berdasarkan akal dan perasaan kita semata. Akan tetapi, harus berdasarkan penjelasan dari Al Qur’an dan As Sunnah sebagaimana yang telah dipahami oleh generasi pendahulu kita yang shalih.

 

Hukum asal alat-alat musik adalah dilarang

 

Hal ini didasarkan dari sabda Rosulullah : “Sesungguhnya akan ada beberapa kaum dari umatku yang mereka itu menghalalkan zina, khamr, dan alat musik.” (terjemahan H.R. Bukhory 4/30 no. 5590, silsilah Al Hadits Ash Shohihah no.91). Dan tidak terdapat pengecualian untuk alat musik ini kecuali “duff” (rebana) yang ditabuh oleh wanita (Adabuz Zifaf halaman 108, dan penjelasan tentang pengkhususan ini adalah sangat panjang, yang tidak mungkin untuk diterangkan di sini).

 

Dan syaikh Uqail bin Muhammad Maqthiry berkata (yang artinya) : “Dan tidak diriwayatkan adanya seorang sahabat radhiyallaahu’anhum yang pernah memukul rebana. Ini berarti mereka memahami bahwa memukul rebana tidak diperbolehkan bagi laki-laki, bahakan perbuatan tersebut termasuk tasyabbuh (menyerupai) terhadap wanita.” (Ibid. hal. 14)

 

Nyanyian sekarang pada umumnya

 

Bila kita melihat masa sekarang ini, maka sungguh sangat memprihatinkan sekali. Bagaimana tidak? Bila kita tengok dgn hati yang bersih, maka nyanyian-nyanyian atau lagu-lagu yang kita temui saat ini sungguh terasa lebih jelek lagi daripada yang telah digambarkan oleh Rosulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Selain memang diiringi oleh alat-alat musik yang tidak diperbolehkan (seperti gitar, piano, seruling, dan sebagainya), nyanyian-nyanyian itu pun sering berisi syair-syair kotor/jorok bahkan ada juga yang bertentangan dengan aqidah. Selain itu ada juga yang dinyanyikan oleh wanita. Wanita yang mereka memamerkan kemolekan tubuh mereka, na’udzu billaahi min dzaalik, tidakkah mereka takut akan siksaan dari Allah Subhaanahu Wata’ala yang pedih.

 

“Sekali-kali buat hiburan kan Nggak Apa-apa”

 

Pernyataan seperti ini adalah suatu pernyataan yang sangat salah. Mengapa? Karena pernyataan seperti ini berarti kita melegalisasikan bentuk kemaksiatan kita terhadap Allah. Secara tidak langsung pula, kita telah meremehkan suatu perbuatan dosa. Dapatkah kita menjamin bahwa setelah melakukan dosa ini kita masih diberi kesempatan untuk hidup da bertaubat?

 

Islam Adalah Ajaran yang Syamil

 

Kita harus bersyukur kepada Allah, bahwa kita adalah termasuk orang-orang yang telah mendapatkan kenikmatan Iman dan Islam. Dan kita pun harus bersyukur bahwa Islam ini adalah ajaran yang sudah lengkap dan sempurna. (lihat Q.S. Al Maidah : 3)

 

Agama Islam adalah ajaran yang disesuaikan dengan fitrah manusia. Dalam masalah hiburan, Islam pun mengaturnya. Yang mana pada asalnya hukum hiburan adalah masalah muamalah yakni hukum asalnya adalah halal, sebelum datang suatu dalil yang menyatakan keharamannya. “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka)?” (terjemahan Al Hadid : 16). Dan kalau kita lihat pembahasan di atas, maka nyanyian-nyanyian seperti yang ada pada zaman sekarang ini pada umumnya adalah jelas-jelas ketidakbolehannya.

 

Dan kalau kita ingin mencari hiburan dan ketenangan hidup, tidak cukupkah kita denga Al Qur’an? Seperti firman Allah (yang artinya), “Dan apakan tidak cukup bagi mereka bahwa Kami telah menurunkan kepadamu Al Kitab (Al Qur’an) sedang dia dibacakan kepada mereka?” (Al Ankabut :51). Juga kata Al Hasan (yang artinya): “Carilah kemanisan dalam sholat, dalam Al Qur’an, dan Dzikir. Jika kalian mendapatkannya, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya pintu sudah tertutup.”

 

Jadi.., kita harus mengintrospeksi diri kita apakah sampai saat ini kita masih belum merasakan manis dan lezatnya beribadah kepada Allah, seperti sholat, membaca dan memahami Al Qur’an, Dzikir dan sebagainya. Sebab, jangan sampai suatu saat nanti Allah benar-benar akan mengharamkan pada diri kita, manis dan lezatnya beribadah kepada-Nya.

(alif)

 .

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *