SIM SALABIM

SIM SALABIM

Magic002Dikisahkan seorang anak muda yatim piatu berumur 11 tahun harus hidup dengan keluarga pamannya yang nggak begitu ramah padanya. Hidupnya yang semula menderita di tengah keluarga pamannya, karena harus tidur di sebuah lemari sempit di bawah tangga dan tidak pernah boleh bertanya tentang ortunya, berubah ketika seekor burung hantu dan raksasa negeri sihir membawanya ke sebuah sekolah penyihir. Anak muda yang ternyata punya darah keturunan penyihir dan memiliki kekuatan besar belajar sihir di sekolah tersebut. Petualangan sihir pun dimulai.

 

Itulah sekelumit cerita tentang film yang mengisahkan tentang adanya sihir aliran putih dan sihir aliran hitam yang akhir-akhir ini kayaknya sedang populer dan ditonton banyak orang.

 

Lantas, bagaimana sih keberadaan sihir pada kenyataannya? Ia benar-benar ada atau cuma khayalan pengarang-pengarang dongeng? Islam sebagai agama yang sempurna tentu saja juga berbicara tentang sihir dan mengatur hal-hal yang berhubungan dengan sihir. Tentu kita semua harus mengetahuinya.

 

Pengertian Sihir

 

Secara bahasa, sihir itu adalah sebutan bagi semua hal yang sebabnya tersembunyi atau lembut. Sebagian ahli bahasa juga mengatakan bahwa asal arti sihir adalah memalingkan sesuatu dari hakikatnya kepada selain hakikat tersebut. Dalam hal ini, seorang penyihir melihat kebatilan dalam bentuk kebenaran dan membayangkan sesuatu tidak menurut yang sebenarnya. Ibnu Faris berkata, “Sihir ialah mengeluarkan kebatilan dalam bentuk kebenaran.” Tersamar gitu.

 

Secara syariat, Ibnu Qudamah, seorang ulama mumpuni, berkata tentang sihir, “Sihir ialah buhul (ikatan), mantera, dan perkataan yang diucapkan atau ditulis atau dibuat sesuatu yang berpengaruh pada jasad orang yang disihir atau pada hati dan akalnya tanpa menyentuhnya secara langsung.”

 

Benar-benar Ada kah?

 

Sebagian orang ragu malah nggak percaya tentang keberadaan sihir ini. Mereka menganggap sihir ini hanyalah khayalan belaka, nggak ada hakikatnya.

 

Sebagai orang Islam, kita semua harus mengembalikan semua hal kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagaimana para pendahulu islam yang sholih, termasuk dalam hal keberadaan sihir ini.

 

Dalam Al-Qur’an, surat Al Baqarah ayat 102 Allah sendiri mengakui keberadaan sihir dengan cerita kaum jin yang belajar sihir pada zaman Nabi Sulaiman serta pelajaran sihir dari Harut dan Marut.

 

Kalau kita mau membuka-buka Al-Qur’an lagi, kita akan mendapati cerita Nabi Musa yang atas izin Allah mengalahkan tukang-tukang sihirnya si Fir’aun. Cerita ini jelas sekali mengatakan bahwa sihir dan tukang sihir itu ada. Silakan saja buka Yunus:77, 81-82; Thaha: 67-69; Al-A’raaf: 117-122.

 

Yang mudah saja, kita-kita tentunya sudah hafal surat di bawah ini –yang terjemahannya- :

“Dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul” (Terjemahan surat Al Falaq ayat 4). Ibnu Katsir menanggapi ayat keempat surat di atas dengan berkata, “Mujahid, Ikrimah, Al-Hasan, Qatadah, dan Adh-Dhahak berkata, ‘yakni wanita-wanita tukang sihir,’.” Maksudnya adalah yang suka menghembuskan nafas dengan sedikit ludah di buhul-buhul tali tersebut adalah para wanita tukang sihir.

 

Perlu diketahui juga selain bahwa sihir itu memang ada, namun kita juga tetap harus meyakini bahwa sihir itu bisa berpengaruh pada seseorang hanya karena kehendak dan takdir Allah ‘Azza wa Jalla. Sekuat apa pun tukang sihir melancarkan sihirnya, kalau Allah berkehendak sihirnya tidak akan berpengaruh, maka sihir itu pun tidak akan berpengaruh banyak. Allah telah berfirman, yang artinya, “Dan mereka (tukang sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorang pun kecuali dengan izin Allah.” (Al-Baqarah: 102)

 

Bolehkah Belajar Sihir?

 

Mau jadi tukang sihir yang baik hati? Tunggu dulu, kita kan orang Islam, lihat dulu bagaimana hukum belajar sihir di dalam Islam.

 

Ibnu Hajar berkata, “Firman Allah, ‘…sesungguhnya kami ini hanyalah cobaan bagimu, karena itu janganlah kamu kafir.’ (Al-Baqarah: 102) mengandung isyarat bahwa mempelajari sihir adalah kekafiran.”

 

Abu Hayyan berkata di dalam Al-Bahrul Muhith, “Adapun hukum mempelajari sihir ialah, jika di antara sihir itu terdapat mengagungkan selain Allah seperti mengagungkan bintang-bintang dan setan serta menambahkan kepada apa yang telah diberitahukan oleh Allah, maka secara kesepakatan ulama hal ini dinyatakan kafir, tidak boleh dipelajari dan tidak boleh diamalkan. Demikian pula jika tujuan mempelajarinya adalah untuk menumpahkan darah dan menceraikan suami istri atau merusak persaudaraan. Jika tidak diketahui adanya sesuatu dari apa yang disebutkan di atas tetapi ada kemungkinannya maka jelas tidak dibolehkan mempelajari dan mengamalkannya. Jika termasuk sihir pengelabuan, kejahatan, dan perdukunan, maka tidak dibenarkan mempelajarinya karena termasuk kebatilan. Jika tujuannya untuk bermain-main dan menghibur orang melalui kecepatan tangan (sulap) maka dinyatakan makruh.”

 

Belajar sihir untuk kebaikan, istilah lainnya sihir aliran putih, ya tetap saja dilarang. Bukankah suatu amalan itu mempunyai syarat dua agar diterima Allah Subhanahu wa Ta’ala?, yaitu ikhlas dan sesuai petunjuk Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Walaupun niatnya baik tapi kalo ilmu untuk menegakkan kebaikan itu adalah sihir yang telah dilarang tetap saja dilarang untuk mempelajari dan mengamalkannya.

 

Lebih Jelasnya Rasulullah Shollallaahu ‘alaihi wa salam bersabda,-yang artinya- :

“Jauhilah tujuh perkara yang menghancurkan!” Para shahabat bertanya, “Apa itu, wahai Rasulullah?” Nabi Shollallaahu ‘alaihi wa salam bersabda, … sihir, … (terjemahan hadits riwayat Al-Bukhari dan Muslim).

 

Rasulullah Shollallaahu ‘alaihi wa salam juga bersabda, “Tidak termasuk dari kami orang-orang yang melakukan tathayur atau meminta dilakukan thathayur, atau orang yang bertenung atau minta ditenungkan, atau orang yang menyihir atau minta disihirkan.” (Hadits riwayat Al-Bazzar, Al-Mundziri berkata, “Sanadnya baik,”).

 

Hadits-hadits di atas jelas sekali menyebutkan bahwa sihir harus dijauhi.

 

Zaman sekarang ini memang zaman fitnah. Sihir pun banyak ditawarkan di koran dan majalah, bahkan ada yang pakai nama-nama dan kemasan-kemasan “Islami”. Kalau kita tidak hati-hati, bisa-bisa kita jadi tertarik dengan yang begituan. Setelah tahu gimana hukum sihir dan mempelajarinya, tentunya kita semua akan lebih hati-hati jika ingin cari ahli pengobatan, karena siapa tahu dia itu termasuk tukang sihir. Banyak-banyak berdzikir dan meminta perlindungan kepada Allah, Insya Allah, kita mempunyai benteng yang tangguh buat menghadang serbuan sihir.

 

Sudah nggak mau jadi penyihir yang baik hati, khan? Dalam Islam, masih ada cerita-cerita kepahlawanan nyata yang lebih baik, mengapa harus ikut menyebarkan cerita-cerita yang di dalamnya banyak bertebaran hal-hal yang dilarang oleh Allah dan RasulNya?

 

*Tathayur: menisbatkan kesialan/merasa sial karena melihat burung atau binatang tertentu

 

Alif#19.

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *