Sikap Politik Remaja Islam

Sikap Politik Remaja Islam

Jangan dikira bahwa Islam hanya berlaku di masjid saja. Islam nggak cuma syahadat, sholat, puasa, zakat dan haji. Lebih dari itu, Islam agama yang sempurna. Agama ini sudah mengatur sampai hal yang sekecil-kecilnya. Allah berfirman -yang artinya-: “Hari ini telah Ku-sempurnakan bagi kalian agama kalian, dan telah Ku-sempurnakan bagi kalian ni’mat-Ku dan telah Ku-ridloi islam menjadi agama bagi kalian” (terjemahan Al Qur’an surat Al Maidah ayat 3)

Islam sudah mengatur dari masalah senyum sampai perkara akhlaq berperang. Islam pun sudah mengatur dari soal cebok sampai perkara adab terhadap pemerintah.

Adab terhadap Pemerintah

Pernah dengar istilah “tidak beradab”? Istilah itu cocok dikenakan untuk orang-orang yang relatif kurang perhatian terhadap adab. Muslimin adalah umat yang beradab tentunya punya adab-adab yang perlu diperhatikan. Termasuk adab terhadap pemerintah.

Adab-adab itu antara lain:

Loyal Kepada Penguasa Muslim

Rasulullah telah bersabda, -yang artinya-: “Sebaik-baik para penguasa kalian adalah yang kalian cintai dan mereka pun mencintai kalian. Mereka mendoakan kebaikan bagi kalian dan kalian mendoakan kebaikan bagi mereka. Sedangkan sejahat-jahat penguasa kalian adalah mereka yang kalian benci dan mereka pun membenci kalian. Kalian melaknati mereka dan mereka pun melaknati kalian.” Lalu ditanyakan –yang artinya-: “Wahai Rasulullah, tidakkah kita perangi (saja) dengan pedang?” Lalu beliau menjawab -yang artinya-: Tidak, selama mereka menegakkan shalat di tengah-tengah kalian. Dan jika kalian melihat sesuatu yang tidak kalian sukai dari para penguasa kalian, maka bencilah perbuatannya saja dan janganlah kalian melepaskan tangan dari ketaatan” (terjemahan hadits riwayat Muslim)

Sangat menyedihkan apabila sebagian kaum muslimin berkeinginan memberontak kepada pemimpinnya yang masih menegakkan shalat (penguasa muslim). Penguasa itu tentunya akan melawan dengan tentara yang dimiliki. Maka sangat mungkin terjadi pertumpahan darah sesama kaum muslimin.

Hal ini pernah terjadi, ketika penduduk madinah melepas ketaatannya kepada Yazid bin Mu’awiyah, seorang penguasa dinasti Umayyah. Maka Abdullah putra Umar bin Khaththab mengumpulkan keluarganya, mengingatkan mereka untuk tidak memberontak, dan membacakan sabda nabi –yang artinya-: “Bagi setiap pengkhianat akan ditancapkan sebuah bendera pada hari kiamat” (terjemahan hadits riwayat Bukhary)

Ketika Yazid mendengar pemberontakan penduduk Madinah, maka dikirimkannya pasukan, dan dibantailah sebagian penduduk madinah. Sangat memilukan… jika seseorang masih mempunyai rasa kasih sayang, maka tentu hatinya akan meratapi tumpahnya darah saudaranya seagama.

Taat dalam Perkara yang Baik

Pemerintah punya tugas untuk mengatur dan mengkoordinir rakyatnya, agar kehidupan masyarakat berjalan tertib dan teratur. Untuk mencapai hal itu, maka ketaatan rakyat kepada penguasa menjadi hal yang dibutuhkan. Sebagaimana hadits riwayat Muslim dari Hudzaifah bin Al Yaman -yang artinya-:
“… Sepeninggalku akan ada para penguasa yang mengambil petunjuk bukan dengan petunjukku, mengambil sunnah bukan dengan sunnahku dan akan muncul di tengah-tengah mereka (penguasa) yang di antara mereka terdapat orang-orang yang hati mereka adalah hatinya para setan yang berada dalam tubuh manusia.” Aku (Hudzaifah) bertanya –yang artinya-: “Apa yang bisa aku perbuat wahai Rasulullaah jika aku dapati keadaan seperti itu?” Beliau menjawab –yang artinya-: “Dengar dan taatilah penguasa itu, walaupun punggungmu dipukul dan hartamu dirampas. Tetapi tetap dengar dan taatilah (pemimpin itu).” (terjemahan hadits riwayat Muslim)

Sesungguhnya aturan Allah dan rasul-Nya adalah pilihan yang terbaik. Maka semua aturan yang tertuang dalam syariat Islam pasti akan membawa kepada hal yang paling baik. Di antara kebaikan yang diperoleh dengan ketaatan kepada penguasa -meskipun dia lalim- adalah tercegahnya kemungkinan terjadi kekacauan dan huru-hara. Bayangkan jika sebagian rakyat tidak patuh kepada masyarakat dengan alasan penguasanya lalim. Ketidaktaatan mereka dapat menyebabkan terganggunya keteraturan. Dikhawatirkan akan timbul kekacauan, pembangkangan dan bahkan sangat mungkin peperangan-pemberontakan.Jika dihitung-hitung kerugian akibat rakyat tidak taat pada aturan lebih besar daripada kerusakan akibat kelaliman penguasa. Anggap saja kelaliman mereka sebagai cobaan dan bencana, sehingga Allah berkenan menambah pahala dan menggugurkan dosa.

Akan tetapi ketaatan kepada penguasa bukanlah ketaatan mutlak. Artinya, apabila penguasa itu memerintahkan rakyatnya dengan perintah yang menyelisihi syariat Islam, maka Allah dan rasul-Nya wajib didahulukan. Dalam hal ini, perintah penguasa itu terlarang untuk dipatuhi. Sebagaimana sabda Rasulullah –yang artinya-: “Wajib bagi seorang muslim untuk mendengar dan taat (kepada pemimpin negara) dalam perkara yang ia cintai maupun yang ia benci, kecuali jika dia diperintah untuk berbuat maksiyat, maka tidak (wajib) ia mendengar dan taat (kepada pemimpin itu)” (terjemahan hadits riwayat Bukhary)

Sabar terhadap Kedzaliman Penguasa

“Penguasa koq dzalimnya nggak ketulungan, ya? Bagaimana ini?” Masalah ini telah diterangkan 14 abad yang lalu oleh Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa salam –yang artinya-: “Barangsiapa membenci sesuatu dari pemimpinnya maka hendaklah ia bersabar. Karena tidak ada seorang manusia pun yang keluar dari (kekuasaan) penguasa meskipun sejengkal lalu dia mati dalam keadaan demikian, melainkan matinya tak lain dalam keadaan mati jahiliyyah.” (terjemahan hadits riwayat Muslim)

Pikirkan kalau masyarakat nggak sabar, kemudian main rusuh. Pemerintah bukannya tambah baik, mungkin jadi tambah senewen. Pemerintah sibuk meredakan emosi rakyatnya, menyebabkan pelayanan pemerintah kepada masyarakat menjadi terbengkalai. Mereka nggak lagi mengatur kepentingan umum, tapi waktunya malah tersita buat membungkam kekacauan. Persoalan lama belum selesai, diikuti kekacauan baru akibat ketidaksabaran.

Yang dimaksud mati dalam keadaan jahiliyyah adalah mati seperti matinya orang jahiliyyah di atas kesesatan dan dalam keadaan tidak memiliki imam yang ditaati, karena mereka tidak mengetahui perkara tersebut. Bukan mati dalam keadaan kafir, tetapi mati dalam keadaan berbuat maksiyat. Begitu pendapat Ibnu Hajar.

Jangan Suka Menghina

Setiap orang punya kecenderungan benci dihina. Itu wajar dan manusiawi. Demikian juga penguasa. Tentunya mereka pun nggak bakalan senang dihina. Rasulullaah pernah bersabda –yang artinya-: “Barangsiapa menghinakan penguasa Allah di muka bumi maka Allah hinakan orang itu” (terjemahan hadits hasan riwayat Tirmidzi)

Penguasa memikul amanat yang berat dalam menjalankan roda pemerintahan. Tanggung jawab ini akan sulit terwujud sesuai harapan, apabila diiringi celaan dan makian. Penghinaan terhadap mereka dapat menyebabkan ketidaktaatan dalam perkara yang baik dan membakar kemarahan rakyat.

Tidak Mengobral Celaan

Sabar dan taat terhadap pemerintah bukan berarti kita diam melihat kelalimannya. Pemerintah juga boleh dinasehati, tetapi… harus pakai aturan. Hal ini pernah dicontohkan oleh Usamah bin Zaid, seorang shahabat yang sangat disayangi Rasulullaah. Usamah pernah ditanya –yang artinya-: “Tidakkah engkau menemui Utsman untuk menasehatinya?” Dia menjawab dengan balik bertanya –yang artinya-: “Apakah kalian berpendapat semua nasehatku terhadap beliau harus diperdengarkan kepada kalian? Demi Allah aku telah berbicara empat mata dengannya tanpa membesar-besarkan perkara tersebut. Aku tidak suka menjadi orang pertama yang suka membeberkannya” (terjemahan riwayat Muslim)

Misalnya kita jadi ketua kelompok. Lalu ada sebagian anggota kelompok yang membeberkan kesalahan-kesalahan kita di depan teman-teman yang lain. Sudah bisa ditebak; malu, marah dan kecewa. Boleh jadi, kalau kita orang yang kurang sabar, terjadi bentrok fisik dengan tukang kritik itu. Akan lebih sejuk tentunya jika tukang kritik itu berbicara mengenai kesalahan kita berdua saja.

Bagaimana jika penguasa tidak mendengar nasehat? Boleh jadi penguasa itu punya pertimbangan-pertimbangan yang lebih matang, sehingga sikapnya terlihat lalim. Atau kalau penguasa itu memang jahat, maka bersabar terhadap kejahatan mereka lebih baik. Apabila kesalahannya dibeberkan, dapat membuka peluang masyarakat menjadi terbakar emosinya dan tidak mentaati aturan. Hal ini dapat menyebabkan stabilitas sosial terganggu. Ujung-ujungnya yang rugi masyarakat. Iya, khan?

Itulah sebagian adab-adab kepada penguasa yang ditetapkan oleh syariat Islam, sesuai dengan pemahaman Salaf Ash-sholih (para pendahulu islam yang sholih). Naah… saat menyikapi pemerintah, kaum muslimin tinggal pilih; mengedepankan emosi, akal, dan pendapat manusia yang belum pasti kebenarannya, ataukah adab dari Allah dan rasul-Nya?

(alif)

Sikap Politik Ahlus Sunnah wal Jamaah terhadap Pemerintah, Abdus Salam bin Barjas.

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *