Siang dan Malam, kendaraan menuju akhirat

Siang dan Malam, kendaraan menuju akhirat

Allah menjadikan malam dan siang silih berganti

bagi orang yang ingin mengambil pelajaran,

atau bagi orang yang ingin bersyukur.

Maka kerjakanlah pada malam dan siang ini, amal baik kalian bagi Allah, karena malam dan siang itu adalah dua kendaraan yang mengantarkan manusia kepada kematian. Keduanya mendekatkan segala sesuatu yang jauh, mengauskan segala sesuatu yang baru, dan kelak pada hari kiamat keduanya datang membawa segala apa yang terjadi pada diri mereka.

 

Duh … sendunya paragraf diatas.

Tapi ” yen tak piker – piker ” (kalo dipikir – pikir), betul juga ya !. Keadaan yang senantiasa mengiringi kita pasti siang ataupun malam. Saat mbaca alif ini mungkin dalam keadaan siang, yang berarti sebentar lagi akan malam, atau sebelum itu juga malam. Dan kalo setahun kira – kira ada 365 siang dan 365 malam, maka coba hitung berapa siang yang telah kita lalui, trus berapa malam pula yang telah kita lewati. Tak terasa yach, sudah beribu siang dan beribu malam yang telah kita lalui bersama. Lalu pertanyaannya, “ Kita habiskan untuk apa, sekian siang dan sekian malam tersebut ?”

 

Dia yang tak akan kembali

 

Sementara kita berusaha untuk mencari jawabannya, coba kita perhatikan firman Allah Yang Maha Menciptakan berikut ini, yang artinya :

“ Apakah kalian mengira bahwa Kami menciptakan kalian untuk main – main, dan bahwa kalian tidak akan dikembalikan kepada Kami ? “ (Al Mukminun : 115)

 

“ Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepada Ku. “ (Adz Dzariyat : 56)

 

Modal setiap manusia di dunia ini adalah waktu yang singkat, nafas yang terbatas, dan hari – hari yang terbilang. Maka barang siapa mengunakan kesempatan dan saat – saat itu dalam kebaikan serta ibadah, beruntunglah ia. Namun barang siapa yang menyia – nyiakannya, maka ia telah merugi. Dan waktunya tidak akan pernah kembali lagi.

 

Pernahkah kita mencoba untuk memanggil kembali waktu – waktu kita yang telah lampau ?. Kemudian apa jawabannya ?. Ternyata waktu enggan untuk kembali lagi. Waktu yang telah kita lewati akan dilipat oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Dan baru akan digelar kembali pada hari kiamat kelak, hari dimana diperhitungkannya hasil karya manusia atas setiap waktunya.

 

Mungkin diantara kita ada yang berfantasi dengan “mesin waktu”. Itu tuch, mesin yang bisa ngirim kita ke masa lampau, maupun yang akan datang, seperti di film – film. Yang tujuan utamanya : “merubah sejarah yang lampau, maupun yang akan datang”. Tapi ketahuilah, para remaja yang baik, film hanyalah sekedar film, angan – angan tinggallah angan – angan. Maka kembalilah ke realitas yang ada, tidak mungkin kita akan “meloncati” waktu. Meskipun didukung dengan “teori – teori ilmiah” (seperti teori relatifitasnya Einsten), namun prakteknya tidak ada yang mendukung kearah sana. Kalaupun ada, syaratnya hanya dapat terwujud di angan – angan belaka.

 

Oleh karena itu janganlah terkontaminasi dengan radiasi tersebut, radiasi yang hanya akan melemahkan daya dan usaha kita. Berbuatlah sesuatu yang bermanfaat untuk dunia dan akhiratmu. Jangan sampai ketinggalan dan menyesal karena waktu, sebab dia tak kan kembali lagi.

 

Selanjutnya……

 

Seorang penyair berkata :

Tak kan kutunda pekerjaan hari ini,

hingga esok karena malas.

Sungguh,

esok adalah hari, bagi pemalas.

 

Keputusan kini berada di tanganmu, kebetulan aja saat ini merupakan awal tahun 2002, dimana trend secara umum yang ada adalah “kembali liat soal waktu”. ‘Tul nggak ?. Sesungguhnya waktu adalah hidup. Oleh karena itu mengetahui dan menyadari akan pentingnya waktu, berarti memahami pula nilai hidup dan kehidupan. Sebaliknya, orang yang tidak mengenal pentingnya waktu, maka seakan – akan ia hidup dalam keadaan mati, meskipun ia bernafas di muka bumi. Lho, kok bisa ?

 

“ Allah bertanya : ‘ Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi ? ‘. Mereka menjawab : ‘ kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada orang – orang yang menghitung ‘. “ (terjemahan QS Al Mukminun : 112 – 113)

 

Jawaban mereka itu menunjukkan bahwa seakan – akan mereka hidup hanya sehari atau setengah hari, padahal sebenarnya di antara mereka ada yang hidup selama 60 tahun, atau 80 tahun, bahkan 100 tahun. Tetapi mereka tidak memahami arti umur, tidak mampu menguasainya dan mengisinya dengan berbagai aktivitas bermanfaat. Inilah penyebab mereka merasa hidupnya begitu singkat. Mereka hanya mengisi hari – harinya dengan urusan duniawi semata, dan merasa buta dengan urusan akhirat. Padahal akhirat adalah kampung halaman mereka, tempat mereka dikembalikan nantinya, dan kekal abadi disana selama – lamanya.

 

Allah menjadikan malam dan siang silih berganti

bagi orang yang ingin mengambil pelajaran,

atau bagi orang yang ingin bersyukur.

 

Maka kerjakanlah pada malam dan siang ini, amal baik kalian bagi Allah, karena malam dan siang itu adalah dua kendaraan yang mengantarkan manusia kepada kematian. Keduanya mendekatkan segala sesuatu yang jauh, mengauskan segala sesuatu yang baru, dan kelak pada hari kiamat keduanya datang membawa segala apa yang terjadi pada diri mereka.

 

“ Lho, tulisannya kok diulang lagi ! “

 

Betul, 100 buat yang ngerasa. Sengaja diulang satu paragraf tersebut supaya lebih nyanthol alias menempel terus dalam benak kita. Tetapi rasanya lain khan ?. Kalo tadi rasanya asin, sekarang jadi manis (hush … ngawur aja).

 

OK lah, ‘ala kulli khal, alias by the way, mulai sekarang kita harus memanfaatkan waktu dengan sebaik – baiknya. Isilah hidup kita yang “namung mampir ngombe” (sekedar singgah untuk minum) ini dengan kegiatan dan amal yang bermanfaat. Yang terpenting adalah berislam dengan baik dan benar, sebagaimana Islamnya Rasululllah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat, serta pendahulu – pendahulu kita yang sholeh (contohnya : sholat, berbakti kepada ortu, bergaul, belajar, disiplin, takut, mengharap, dan lain – lainnya). Adapun kalo sekolah, ya … sekolah yang betul. Kalo bekerja, ya … bekerja yang baik. Kalo nyantri, ya … nyantri yang benar. Kalo nganggur, ya … … ….

Wallahu a’lam.

 

 

 

(alif).

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *