Selagi Mentari Masih Terbit Dari Timur

Selagi Mentari Masih Terbit Dari Timur

“Manusia itu tempatnya salah dan dosa”

Demikian mungkin jawaban sebagian orang kalau diingatkan bahwa ia telah melakukan kesalahan. Tapi,… kok nggak buru-buru istighfar? Malah dengan tenangnya mengulangi kesalahannya (ini contoh yang buruk… jangan ditiru, yaa…)

Manusia memang tempatnya salah

Memang sudah ditaqdirkan oleh Allah bahwa manusia adalah tempatnya salah dan dosa, seperti sabda nabi –yang artinya-: ”Setiap bani Adam (pernah) melakukan kesalahan …” (terjemahan hadist hasan riwayat Imam Ahmad).

Namun bukan berarti ini merupakan legitimasi bagi kita untuk beranggapan bahwa tidak mengapa kita melakukan perbuatan dosa, atau lebih celaka lagi kalau merasa aman-nyaman apabila berenang dalam keni’matan lautan maksiyat. Sebab pada ayat dan hadist lain, Allah dan rasul-Nya sangat mencela dan murka kepada para pelaku dosa. Sebaliknya Allah dan rasul-Nya sangat memuji orang-orang yang berbuat kebaikan dan meninggalkan dosa, dan akan menempatkan mereka pada kedudukan yang mulia di sisi-Nya. Seperti firman Allah –yang artinya-: ”(Dan orang-orang yang bertakwa) ialah orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau mendholimi diri sendiri lantas mereka ingat akan Allah, lalu mereka mohon ampun atas dosa-dosa mereka. Dan siapakah yang berkuasa mengampuni dosa-dosa selain dari Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu sedang mereka mengetahui” (terjemahan Ali Imron :135)

Taubat, Jalan Pintas Pembersih Dosa

Mungkin ada yang bilang:

“Aku sudah terlalu kotor. Dosaku buanyaa…kk banget. Aku sudah malu bersujud kepada-Nya. Aku sudah nggak pantas meminta ampunan-Nya.”

Tidakkah dia tahu…

Allah adalah Dzat Yang Maha Pengampun dan Penyayang. Keluasan kasih sayangnya melebihi kasih seorang ibu kepada anaknya. Oleh sebab itu jangan kita berputus asa dari rahmat Allah. Jangan kita merasa bahwa Allah sudah tidak sayang kita lagi karena dosa-dosa kita melangit. Jangan kita merasa sudah tidak dapat perhatian lagi dari Allah lantaran dosa kita yang seluas samudera.

Benar bisa diampuni?

Iya, meskipun kita memiliki dosa yang memenuhi isi langit dan bumi, Allah pasti akan ampuni. Asalkan kita benar-benar mohon ampun dan bertaubat kepada-Nya dengan benar, dengan perasaan tunduk merendahkan diri, dan takut yang sebenar-benarnya akan pedih siksa-Nya.

Allah berfirman dalam surat Muhammad: 19, yang artinya: “Dan mohonlah ampun terhadap dosamu, dan juga untuk kaum mukminin dan mukminat.”

Juga dalam ayat lain:

“Mintalah ampun kepada Rabbmu dengan membaca istighfar dan bertaubatlah kepada-Nya” (terjemahan Al Baqarah:199)

Bagaimana Caraku Bertaubat???

Tidaklah cukup taubat hanya dengan menangis saja ketika memohon ampun kepada Allah, sementara di lain kesempatan masih saja ia keenakan melakukan dosa tersebut. Bisa sia-sia taubat kita. Lalu bagaimana cara taubat yang benar itu?

1. Hentikan maksiatnya!!!

Bagaimana kita akan bertaubat kepada Allah, sedang pada saat itu kita masih saja ingin melakukannya? Kita harus tegas bersikap. Kalau tidak, akan timbul sifat mendua kita kepada ingin bertaubat dan tetap ingin melakukan maksiat. Ini berarti kita memberikan kesempatan yang kesekian kalinya kepada syetan untuk semakin menjerumuskan kita ke dalam lembah maksiat.

2. Menyesal Banget

Penyesalan, ini yang jadi inti dari taubat. Dari sinilah timbul suatu perasaan bersalah, karena pembangkangan kepada Allah. Allah berfirman yang artinya: “Keduanya berkata: Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi” (terjemahan Al A’raf: 23)

3. Aku tidak ingin melakukannya lagi

Dengan tekad dan semangat membaja kita berusaha sekuat tenaga biar tidak terjerumus lagi pada lembah dosa yang sama. Kemudian, kita tetap sabar seandainya segala cobaan datang menggoda.

4. Jika dosa itu …

Apabila kesalahan itu berhubungan dengan hak orang lain dan kehormatan sesama, kita harus membereskannya dengan yang bersangkutan.

Misalnya saja, kita telah menghina dan merendahkan orang lain, kita minta maaf padanya. Apabila kita telah merampas atau mencuri hak orang lain, maka kita harus mengembalikannya atau meminta keikhlasan darinya (jangan menunggu sampai barangnya rusak atau habis dulu ya?)

Tobatnya Nanti Saja…

“Kita kan masih muda, rugi kalau nggak foya-foya, tobatnya setelah tua saja, jadi kalau mati tetap bisa masuk surga”. Mungkin ada juga yang punya pikiran model begitu.

Mungkin dia lupa, kalau mati itu tidak bisa kompromi, tak kenal tua maupun muda. Betapa banyak orang yang muda dan sehat, bisa mati dalam sekejap.

Mungkin dia tak tahu, bahwa matahari tebit dari barat tidaklah menanti dia berusia tua. Matahari hanya menunggu perintah Rabbnya.

Bagaimanakah kita jika belum bertaubat, nyawa telah melesat? Tidakkah kita ketakutan dan terpekur, jika mentari tidak terbit lagi dari ufuk timur?.

Dialah Yang Maha Pengampun

Allah Yang Maha luas kasih sayang-Nya berfirman -yang artinya-: “Wahai anak Adam! Sesungguhnya selagi engkau masih mau berdoa dan berharap kepada-Ku, niscaya Aku selalu mengampuni dosa-dosamu dengan tiada memperdulikan dosa itu. Wahai anak Adam! Walau engkau berbuat keburukan hingga keburukan itu memenuhi semua tempat sekalipun, niscaya Aku akan mengampuni keburukan dan dosa-dosamu” (terjemahan hadits Qudsi riwayat Tirmidzi)”.

Maka adakah yang lebih celaka daripada orang yang diberi ampunan, namun ia mencampakkannya bagaikan kotoran di tepi jalan?

Ketahuilah, Dia Yang Maha Pengampun senantiasa mengawasi kita, maka bersegeralah mengais ampunan hanya kepada-Nya.

Taubat wahai diri-diri yang masih tau diri, jangan tunggu didahului umur, selagi mentari masih terbit dari timur…

(alif)

.

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *