Sejarah Pendakwahan Islam di Jawa

Sejarah Pendakwahan Islam di Jawa

Mungkin saya akan berbicara diluar tema yaitu “satu suro”  tetapi saya akan masih berbicara tentang tradisi yang berada di jawa yang bernama “sekaten”. Mungkin kita sudah tahu tentang apa itu sekaten dan segala yang meliputinya. Akan tetapi pernahkah kita menengok kebelakang, sebab asal-usulnya sekaten itu sendiri. Mungkin sebagian orang sudah mengerti dan sangat paham tentang hal ini, dan saya adalah orang yang kesekian kalinya untuk menulis sekaten.

Sekaten, banyak sekali orang mentafsirakan kata ini dari mulai Bahasa Arab sampai Bahasa Jawa. Ada yang mengatakan bahwa sekaten berasal dari kata Syahadatain, maksudnya adalah meyakini 2 kebenaran. Yang pertama menTauhidkan atau meng-Esa-kan Allah SWT dan kedua adalah membenarkan bahwa Nabi Muhammad Saw adalah hamba dan utusannya.  Pendapat lain mengatkan berasal dari bahasa arab yakni, kata Sakhatain yang berarti “dermawan,  suka menanamkan budi pekerti luhur dan menghambakan Allah SWT ”. Pendapat lain juga mengungkapkan bahwa sekaten berasal dari bahasa jawa yaitu sekati yang artinya dua perngkat gamelan kraton yang dibunyikan sebagai peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad Saw. Adapun yang lain mengatkan sekati artinya satu kati (berat ukuran pencu gong).

Terlepas dari etimologi itu semua sekaten adalah sebuah upacara atau ritual yang dibalur   agama Islam. Dan sekaten itu sendiri merupakan sebuah media untuk mendakwahkan Islam di Jawa.

Pada mulanya sekaten pertama kali dilakaukan pada tahun 907 H(1425 Saka/ 1503 miladiah) di Kerajaan Demak Bintara. Sebagai peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad Saw dan juga penobatan Raden Patah menjadi Sultan Demak. Dengan gelar Senopati Jimbun Abdurrahman Panembahan Palembang Sayyidina Panatagama.

Didalam proses sekaten ada penabuhan gamelan dan untuk pertama kalinya gamelan dibuat oleh Raden Patah atau Syah Alam Akbar I, lalu diboyong ke Kesultanan Cirebon sebagai hadiah karena anaknya yang  bernama Raden Ayu Wulan dipersunting oleh Panembahan Cirebon. Pendapat lain mengatakan bahwa diboyongnya Gamelan Sekaten pada saat kekuasaan terakhir Kerajaan Demak yaitu Raden Trenggana.

Setelah Raden Trenggana wafat, tahta kerajaan pindah ke Kota Pajang, dan Jaka Tingkir sebagai menantu Raden Trenggana membuat kerajaan baru dan bergelar Sultan Hadiwijaya. Dalam periode ini tidak diketahui apakah sekaten masih dilakukan atau tidak karena tidak ada bukti yang memadai.

Pada masa Mataram diawali dengan perebutan kekuasaan dari Sultan Hadiwijaya di Pajang oleh Sutawijaya tahun 1586, maka kadipaten Mataram berubah menjadi kerajaan. Akan tetapi perubahan status dari kadipaten menjadi kerajaan tidak diikiuti dengan symbol-simbol kerajaan contohnya adalah gelar sang raja yang hanya bergelar Panembahan Senopati. Dan masa ini juga tidak menunjukkan adanya Upacara Sekaten.

Panembahan Senopati berganti dengan Panembahan Seda Krapyak di masa ini Upacara sekaten tidak ada karena yang ditonjolkan masa ini adalah perebutan-perebutan wilayah dengan cara militer maupun perundingan.

Setelah Panembahan Seda Krapyak digantikan oleh Raden Mas Rangsang, di masa R.M. Rangsang beliau mulai menggunakan symbol-simbol yang melegitimasi bahwa dia seorang raja. Yang pertama dilakukan adalah menggunakan gelar Agung, maka gelar sang raja sekarang adalah Panembahan Agung. Tidak puas dengan gelar Panembahan Agung maka setelah menaklukan Madura tahun 1625, beliau menambahkan gelar menjadi Sunan atau Susuhan agar lebih berwibawa. Setelah melihat raja Banten menggunkan embel-embel sultan, maka R.M. Rangsang menginginkan gelar itu. Sejak tahun 1641 perubahan gelar terjadi yakni dari Panembahan Agung menjadi Sultan Agung.

Pada masa Sultan Agung Rangsang menjadi raja maka Upacara Sekaten diadakan kembali tetapi dengan sebuah pembaharuan-pembahruan. Untuk menggatikan Gamelan yang dibuat pada Raden Patah maka beliau membuat Gamelan baru dengan nama Kyai Guntur Madu dan Kyai Guntur Sari. Pemabaharuan yang dilakukan sang raja adalah memanjang waktu Upacara Sekaten dulunya hanya 12 Rabiul Awal sekarang dari tanggal 5 Rabiul Awal sampai 12 Rabiul Awal. Untuk tumpeng pun mengalami perubahan yaitu yang dahulunya sederhana menjadi tumpeng yang besar –wah beud- dan bahkan bukan lagi bernama tumpeng tetapi gunungan.

Itu adalah sekilas cerita yang bisa sampaikan dan memang banyak sekali kekurangan dan banyak sekali anakkronisme serta cara penulisan yang amburadul. Mohon koreksinya.

Created by:

Mubarok

Mahasiswa Ilmu Sejarah UGM

email: mubarokachmad18@yahoo.com

.

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *