Sabar itu Subur

Sabar itu Subur

“…Jadi orang itu yang sabar…”

“…Anggaplah itu cobaan dari Allah…”

“…Orang sabar itu disayang Allah…”

 

Mungkin itu adalah kalimat-kalimat yang seringkali kita dengar dari telinga kita dari orang-orang yang dekat dengan kita. Namun bukan saatnya membicarakan struktur kalimatnya, mana subyek, mana predikat, mana obyeknya, karena ini bukan pelajaran bahasa Indonesia. Yang akan dibicarakan adalah essensinya.

 

Tidak hanya waktu terkena musibah saja…

 

Sabar itu apa, ya?

Sabar adalah menahan diri dari kemurkaan terhadap apa yang telah ditaqdirkan, menahan lisan dari berkeluh kesah, dan menahan badan dari berbuat maksiat.

 

Sabar itu sendiri meliputi beberapa hal:

Sabar ketika menerima musibah

Sabar sewaktu menjalankan perintah agama

Sabar saat meninggalkan maksyat

 

Jadi, sabar itu tidak cuma sewaktu menerima musibah saja. Akan tetapi sabar juga haruslah ada untuk tetap taat kepada perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

 

Maksudnya Bagaimana…??

 

Biar gampang, dikasih contoh saja. Ketika ada perintah dari Allah untuk shalat shubuh berjama’ah, rasanya sungguh terasa sangat berat. Tidak berhenti sampai disitu saja, lebih parah kalau pakai menggerutu segala: “Aduuhh.. lagi khusyuk-khusyuknya tidur, mana udaranya dingin…” Na’udzubillaahi min dzaalik. Kalau kita tidak sabar, tentunya berlalulah waktu tadi –yang sebenarnya adalah ujian- tanpa makna dan berakhir dengan kemenangan telak buat syaithon.

 

Contoh lain saja misalnya, ketika dijalan raya kita melihat sepasang sejoli (lain jenis-bukan mahram-belum nikah) berboncengan dengan mesranya. Apa yang dirasakan oleh seorang manusia normal?

Kepingin…!!! Dan itu lumrah… Kita tidak bisa membohongi diri sendiri, karena kita orang normal seperti mereka. Namun, apabila kita ingat akan larangan Allah dan rasul-Nya, maka ada-tidaknya sabar akan menentukan langkah kita selanjutnya. Apakah kita sabar dalam menjauhi larangan agama. Ataukah kita menuruti hawa nafsu dan langkah syetan untuk kenikmatan semu yang sifatnya sementara. Sebagai orang yang beriman, sudah pasti akan mengedepankan keta’atan kepada Allah. Jika kita mengaku mencintai-Nya, maka kita bersedia untuk sabar dalam menjalani takdir-Nya, sabar dalam mentaati-Nya, dan sabar dalam menjauhi larangan-Nya.

 

Allah berfirman –yang artinya-: “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka akan dibiarkan begitu saja mengatakan ‘kami telah beriman’ sedang mereka tidak diuji lagi. Dan sesungguhnya kami kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui mana orang-orang yang benar dan mana orang-orang yang dusta.” (terjemahan Al Qur’an surat Al Ankabut ayat 2-3)

 

Posisi Istimewa

 

Sabar ini punya kedudukan yang spesial dalam keimanan seseorang. ‘Ali berkata –yang artinya-: “Sesungguhnya posisi Shabar dengan Iman sebagaimana posisi kepala terhadap jasad” –kemudian beliau mengangkat suaranya- “ketahuilah sesungguhnya tidak ada iman bagi yang tidak bershabar. “ (terjemahan riwayat Bukhary dan Muslim)

 

Ketika Musibah Menimpa

Saat musibah datang, bagaimana supaya sabar dapat tumbuh di hati?

 

1. Sadar kita adalah milik-Nya

Semua orang yang beriman mengakui kalau diri ini milik Rabbnya. Maka oleh karena kita milik Allah, maka Allah berhaq melakukan apa saja terhadap milik-Nya. Dia berhaq menimpakan musibah terhadap makhluk-Nya. Dia berhaq memerintahkan apa saja terhadap makhluk-Nya. Dan Dia bebas melarang berbagai macam larangan bagi makhluk-Nya. Oleh karena itu sebagai makhluk yang berakal, kita harus tahu diri. Kita ini milik Allah, maka sudah sewajarnya kita harus patuh dan rela akan segala keputusan-Nya.

 

2. Taqdir tetap berlaku

Misalkan datang keputusan Allah kepada kita berupa musibah. Apabila kita sabar dan rela, maka pahala dijanjikan sebagai balasannya. Namun bila kita berkeluh kesah dan tiada rasa sabar, maka musibah tetap berlaku bagi kita dan tetap saja kita mengalaminya. Maka lebih baik menjalani cobaan dengan rela daripada menjalani dengan ketidaksabaran. Toh, sama-sama mengalami musibah, tetapi dijalani dengan kesabaran insya Allah berpahala.

 

Allah berfirman –yang artinya-: “Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (terjemahan Al Qur’an surat Ath Thaghabun ayat 11)

 

AlQamah menafsirkan iman dalam ayat tersebut, yaitu: seseorang yang ketika ditimpa musibah ia meyakini bahwa itu semua dari Allah, maka ia pun ridla dan pasah.

 

3. Pahala dan Cobaan Berbanding Lurus

Allah menjanjikan pahala bagi mereka yang bersabar. Sebaliknya, Allah murka kepada mereka yang tidak bersabar atas ketentuan-Nya. Sebagaimana sabda Rasulullaah –yang artinya-: “Sungguh, besarnya pahala setimpal dengan besarnya cobaan, dan sungguh Allah Ta’ala apabila mencintai suatu kaum, diuji-Nya mereka dengan cobaan. Untuk itu barangsiapa yang ridha maka baginya keridhaan dari Allah, sedang barangsiapa yang marah maka baginya kemarahan Allah.” (terjemahan hadits hasan riwayat Tirmidzi)

Maka bila kita mengalami musibah, bayangkan saja pahala yang akan kita dapat kalau kita mau bersabar.

 

4. Penghapus Dosa

Rasulullah bersabda -yang artinya-: “Tiada seorang muslim yang menderita kelelahan atau kesusahan hati, bahkan gangguan yang berupa duri melainkan semua kejadian itu akan menjadi pelebur dosa baginya.” (terjemahan hadits riwayat Bukhary dan Muslim)

Seandainya musibah menimpa, jangan terlalu berlarut-larut dalam kesedihan. Insya Allah musibah itu bisa menjadi penggugur dosa-dosa. Sabar, ya..?

 

5. Hukuman Segera

Musibah yang menimpa bisa jadi merupakan kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Seperti sabda Rasulullah –yang artinya-: “Apabila Allah menghendaki terhadap hamba-Nya kebaikan maka Dia menyegerakan hukuman baginya di dunia. Dan apabila Allah mengehendaki keburukan pada seorang hamba-Nya, maka Dia tangguhkan dosanya sampai Dia penuhi balasannya di hari Kiamat” (terjemahan hadits shahih riwayat At Tirmidzy)

Bagi mereka yang terkena musibah, tiada kata lain selain: Sabar. Siapa tahu itu merupakan hukuman dari Allah. Daripada disiksa di akhirat, lebih baik menjalani hukuman di dunia

 

Teladan Generasi Terbaik Ummat

 

Tengoklah ke sana, bagaimana kisah kesabaran Rasulullah dalam dakwahnya. Misalnya ketika beliau berdakwah ke Thaif. Bukan hanya dakwahnya tidak diterima, beliau diusir, diteriaki dan dilempari batu. Tindakan yang sangat lancang terhadap beliau. Pengikut Muhammad mana yang tidak bakalan geram nabinya diperlakukan semcam itu?

 

Tapi lihatlah kesabaran kekasih kita ini…

Beliau didatangi oleh malaikat Jibril dan malaikat penjaga gunung. Malaikat itu menawarkan kepada beliau –yang artinya-: ”Jika engkau mau aku balikkan gunung ke atas mereka, niscaya aku akan melakukannya.”

 

Apa jawab beliau?

Beliau bersabda –yang artinya-: “Tidak. Boleh jadi Allah akan mengeluarkan dari keturunan mereka orang yang akan menyembah Allah.”

 

Inilah kesabaran… maka bersabarlah!

 

Fathul Majid, ‘Abdurrahman bin Hasan

 

 

(alif).

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *