Rihlah di Pantai Goa Cemara

Rihlah di Pantai Goa Cemara

Liputan event kali ini diambilkan dari karya tulis salah satu mahasantri kami, semoga bisa menggambarkan sesuatu yang memenuhi relung kalbu mereka saat belajar Islam bersama PMAN, dan ada pesan yang sampai kepada pembaca sekalian

rihlah 1

Suasana Rihlah: “pertahankan bentengmu”, sebuah permainan seru saling merebut dan mempertahankan benteng masing-masing, penuh dengan siasat, intrik, strategi dan kekuatan.

rihlah 2

Suasa Rihlah: makanan sudah siap, mari kita santap dengan bismillah…

Coretan kisah Al-Madinah

Rihlah di Pantai Goa Cemara

Sabtu 9 Februari 2013. Ketika matahari masih tersipu malu menerbitkan cahayanya, kami mahasantri pondok mahasiswa al-madinah nusantara melaksanakan sholat subuh berjamaah seperti hari biasa lalu mempersiapkan diri untuk ber rihlah di Pantai goa cemara yang bertempat di kabupaten Bantul,Yogyakarta. Acara tersebut sudah kami persiapkan dan rencanakan  sebulan yang lalu sebelum ujian semester digelar. Dalam acara itu, kami merencanakn acara kecil-kecilan yakni masak bersama, out bond dan bersenang-senang melepas kepenatan pasca ujian semester, selain itu juga bertujuan untuk mentadabburi alam dan menikmati megahnya kekuasaan Alloh subhanahu wata’ala.

Fajarpun mulai terbit dan kami mulai bergegas berangkat, mas yoga sudah siap dengan motor vespa tua kebanggaannya, mas ogi sudah ready dengan peralatan masak dan bahan-bahannya, sedangkan aku masih linglung memikirkan kemana STNKku berada..? ternyata eh ternyata, mas firyan yang membawanya. Dengan berbekalkan buah rambutan dari halaman pak achmadi yang kami petik kemarin sore dan bahan-bahan makanan yang kami persiapkan, kami berangkat dengan semangat. Mulai dari jalan Kalimantan sampai jalan Godean, kami lalui dengan kecepatan maksimal, kendaraan yang lalu lalang seakan-akan mengiringi perjalanan kami. Tak terasa kota demi kota telah kami lewati dan pantai goa cemara sudah menanti. Ketika hampir sampai di tempat tujuan, kami disambut dengan marcusuar tua yang tinggi menjulang dan seolah-olah mengucapkan salam ahlan wa sahlan kepada kami.

Setelah tiba di tempat tujuan kami dibuat takjub akan keindahan ciptaan Alloh Subhanahu wata’ala. Cemara yang berbaris rapi terbentang seluas mata memandang, gelombang ombak besar yang menggulung-gulung menyapu benda-benda ringan yang ada di pesisir pantai. Subhanalloh . . . .Maha suci Alloh yang telah menciptakan alam semesta beserta isinya yang indah dan tak ada tandingannya. Akan tetapi sayang seribu sayang, manusialah yang menjadi tersangka utama perusak sebagian keindahan pantai dengan membuang sampah sembarangan. Dari hal itu aku malu dan bertanya dalam hati, “Apakah masih pantas manusia menjadi kalifah bumi yang seharusnya menjaga dan melestarikan bumi seisinya ini?” Entahlaah , , Wallohu a’lamu bissowab. Seusai istirahat dan menikmati pemandangan, datanglah sesosok laki-laki berperawakan sedang yang membawa bola, mas tulus namanya. Tanpa berfikir panjang kami segera membentuk dua tim dan bermain bola di atas pantai pasir berkemiringan 300, Kami berlari naik turun mengejar bola dan bermain seolah-olah sebagai bintang lapangan yang memperebutkan piala champion.

Rasa letih mulai menghampiri, kamipun menyudahi permainan dan meregangkan tubuh untuk beristirahat dan menghela nafas untuk menghirup oksigen yang ada di udara sekitar. Diwaktu istirahat tiba-tiba terdengar suara lantang , “ Ayo berbaris “ teriak mas alfan mengundang , kami segera menghampirinya. “Skarang kita bermain perang benteng dan semua teman-teman di bagi menjadi 3 tim, nantinya masing-masing tim membuat satu benteng dan saling memperebutkan simbol benteng antar tim, barang siapa yang berhasil menembus benteng lawan dan mengambil simbol benteng, maka tim itulah yang menang … Semua mengerti ?“. Dengan kompak kami menjawab “Mengerti“. Permainan berlangsung sangat sengit , penuh dengan intrik, strategi dan kekompakan juga di uji. kami bermain layaknya pasukan perang yang berusaha mati-matian mempertahankan kejayaan kerajaan. Dan akhirnya permainan dimenangkan oleh tim 1 karena menggunakan strategi yang apik dan terencana, meskipun kelompokku kalah tapi tak apalah, yang penting kami menikmati dan sama-sama senang.

Tak terasa hari sudah pagi menjelang siang , perut kami semua mulai bergemuruh karena belum ada makanan yang mengganjal . Kami bergegas mempersiapkan santap siang. Sekitar 20 ikan mujair segar yang kami bawa sudah siap untuk di bakar, mas ogi dan mas anas sibuk meracik rempah-rempah sebagai bumbu masakan. Dengan telaten kami bakar ikan bersama-sama dan diselingi dengan canda tawa sambil menikmati sejuknya udara pantai yang masih asri belum tercemar polusi. Seiring dengan naiknya matahari pertanda siang, masakanpun telah siap untuk di hidangkan dan kami bergegas menuju ke bawah pohon cemara yang tertata rapi membentuk goa yang rindang dan sejuk. ikan mujair yang tadi kami bakar disajikan bersama sambal tomat dan lalapan yang ditata rapi dan menggugah selera kami untuk segera menyantapnya. Setelah semuanya siap, tak menunggu lama lagi kamipun menyantap hidangan itu bersama-sama dengan lahapnya, kehangatan dan keeratan persaudaraan sangat terasa pada momen itu seakan tak ada tembok yang menghalangi ukhuwah kami semua.  Itulah tujuan kami yang utama. Acara yang sukses tak harus menghamburkan banyak materi dan berfoya-foya tetapi acara yang menuai manfaat yang besar dan kaya akan makna meskipun sederhana. Waktu dzuhurpun tiba dan kami segera menunaikan sholat berjamaah dan kembali pulang ke base camp Al-Madinah dengan senang dan gembira. ( M.R Ali Fikri ).

Share this post

Comment (1)

  • M Syaiful Islam

    Bisa di jadikan tempat wisata untuk libiran semester nih,,,,

    March 15, 2016 at 1:16 am

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *