Ramadhan Ideal

Ramadhan Ideal

Ramadhan di Indonesia merupakan Ramadhan yang paling ideal dibanding dengan Ramadhan di belahan bumi lainnya. Sebagaimana yang di lansir oleh islamicfinder.org Indonesia hanya memerlukan waktu rata-rata 13 jam untuk berpuasa. Berbeda hal-nya dengan muslim di Selandia Baru yang tidak sampai 10 jam menahan lapar, dahaga dan nafsu mereka. Namun sungguh waktu yang panjang ketika kota Sastra Dunia, Reykjavik di Islandia yang memerlukan waktu rata-rata 21 jam 57 menit untuk melaksanakan salah satu rukun islam ini.

Sungguh ironis bila muslim terbanyak di dunia saat ini yang berada di Indonesia mengeluh dengan waktu berbuka yang cukup lama. Negara-negara Arab yang kondisi iklim yang relatif panas saja membutuhkan waktu rata-rata 15 jam puasa sehari semalam untuk menjalani perintah Allah di Surah AlBaqarah Ayat 183 bersemangat dengan ibadahnya, mengapa kita yang di daerah tropis yang ideal ini masih saja mengeluh dengan kondisi paling pas sedunia?

Lain waktu lain juga keadaan. Kondisi Indonesia saat ini bisa dikatakan ‘aman’ dari kegiatan yang membuat hati tak tenang. Kajian banyak dilakukan di tempat peribadatan, sekolah dan kampus serta di lingkungan desa dan perkotaan, semua banyak tergelar majelis-majelis ilmu. Masyarakat dapat dengan khusyuk beribadah mulai dari makan sahur hingga adzan maghrib berkumandang.

Coba banyangkan saudara seiman di Rohingya yang harus menjalankan kewajiban ini, dengan rasa was-was oleh kekejaman etnis. Lain pula hal-nya kota tempat kiblat pertama umat muslim di Masjid Al-Aqsa, kota Palestina yang mana saat ini masih dihantui oleh kekejaman dan kebiadaban zionis Israel. Walau dihadapkan pada kondisi siap siaga, namun tekad untuk melaksanakan perintah wajib dari Allah ini sangat disambut baik oleh mereka, bukan dengan berpegang teguh pada hadist dhoif yang menerangkan bahwa tidurnya orang berpuasa adalah ibadah. Adakah mereka (baca:Rohingya dan Palestina) banyak tidur saat menjalankan ibadah shaum?

Tanyakan pada diri kita, apakah kita telah berbuat yang terbaik untuk Ramadhan tahun ini. Pikirkanlah nasib saudara-saudara kita yang rela diusir dari negaranya, renungkan pula semangat beribadah saudara-saudara kita yang dihantui hujan bom dan roket. Tak pantas bagi kita yang berada pada posisi waktu dan kondisi yang paling ideal di dunia untuk berlaku malas dan tidak ber-talabul ilmi. Jadikanlah Ramadhan yang mubarok ini sebagai Ramadhan terbaik bagi kita untuk meraih nilai taqwa disisi Allah SWT.

Bila rasa dan pikiran kembali pada zona malas, marilah kita renungkan dan ambil ibroh dan perjuangan saudara-saudara kita seiman dibelahan bumi sana yang harus berjuang melawan waktu dan keadaan mereka. ~SP

.

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *