Persoalan Demo dalam ISLAM

Persoalan Demo dalam ISLAM

Gonjang-ganjing politik baru-baru ini membuat masa banyak yang turun kejalan-jalan. Katanya mereka lakukan itu semua untuk menyikapi situasi politik dan menasehati para elit politik negeri. Negara kita khan… negara demokrasi…. begitulah seru mereka dengan bangga terhadap apa yang mereka lakukan. Padahal kita tau, kebanyakan dari mereka adalah Muslim. Hal itu terjadi tidak hanya di Jakarta saja bahkan sampai ke pelosok desa-desa.

Terus bagaimana pandangan Islam terhadap hal tersebut? Apakah yang telah Rasulullah ajarkan kepada kita…?

Bagaimana pula dengan demokrasi ???

Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Di dalam Al Quran, Allah telah berfirman -yang artinya-; “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk menusia, menyuruh kepada yang maruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.” (terjemahan surat ‘Ali ‘Imran ayat 110).

Rasulullah juga menganjurkan kaum muslimin untuk senantiasa menyuruh manusia kepada yang baik dan mencegah dari keburukan (‘amar ma’ruf nahi munkar)
” Barang siapa diantara kalian melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya (kekasaan/kekuatan), jika tidak mampu (ubahlah) dengan lisannya, jika tidak mampu juga (ingkarilah) dengan hati, dan yang demikian itu selemah-lemah iman.” (terjemahan hadits riwayat Muslim)

Dalam hadits yang lain, Rasulullah bersabda -yang artinya-: “Agama itu adalah nasihat.“ Para shahabat bertanya, ”Bagi siapa?” Rasulullah menjawab, “Bagi Allah, bagi kitab-Nya, bagi Rasul-Nya, dan bagi imam kaum muslimin serta seluruh mereka (umat muslim).” (terjemahan hadits riwayat Muslim)

Demonstrasi = amar ma’ruf nahi munkar ?

Sulit dipungkiri kalau demo itu mempunyai efek-efek antara lain sebagai berikut:

Masa yang berdemo tersebut saat melakukan aksinya tidak jarang –jika tidak mau dikatakan banyak- yang mengganggu ketertiban umum. Misalnya jalanan jadi macet. Bahkan ada yang sampai merusak pagar, gedung-gedung dan sarana umum lainnya. Kadang-kadang orasinya menggunakan kata-kata yang tidak enak didengar, aib orang lain dibeberkan, bahkan cemoohan dan penghinaan bisa ikut-ikutan dilontarkan. Bukankah hal-hal seperti itu tidak sesuai dengan etika islam?

Situasi demonstrasi yang ramai cenderung membuat seseorang menjadi kehilangan pengendalian dirinya. Semakin nggak rasional dan tindakan yang diambil nggak dipikir panjang. Massa relatif mudah terbawa arus. Apalagi jika sang provokator bermain-main di dalamnya. Wah nggak kebayang kerusakan apa yang bakalan terjadi.

Orang yang gemar demo bisa jadi menjelek-jelekkan citra islam. Lho koq bisa gitu? Iya, kalau ada orang kebetulan lewat dan mendengar cacian-cacian sang orator, maka bisa terlintas di pikiran orang tersebut kalau umat islam tukang mencaci maki. Lebih-lebih kalau demonya berakhir dengan kekerasan, maka orang-orang akan makin ngeri dengan Islam. Yaa…da’wah bisa-bisa terhambat.

Demo juga rawan akan penyakit hati. Rasa ikhlas terancam digusur oleh penyakit ‘ujub dan riya’. Kalau sejak awal sudah ada penyakit begituan, maka demo bisa jadi ajang pelampiasan, agar namanya makin ngetop dan terkenal sebagai aktifis da’wah. Ketika penyakit hati sudah sulit ia tolak, maka muncul perasaan senang dipandang, apalagi …ehm… kalau “si dia” ikut melakukan demo, wuihh…nggak ketulungan bangganya (awass… bahaya zina).

Demonstrasi merupakan konsekuensi dari demokrasi. Padahal kita semua tahu kalau demokrasi itu bukan dari Islam. Demokrasi mengajarkan prinsip dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat. Dilihat sepintas slogan tersebut kayaknya bagus. Namun perlu diingat kita punya aturan Islam. Agama ini datangnya dari Allah yang telah menciptakan langit dan bumi beserta isinya, termasuk kita juga. Allah berfirman -yang artinya-; “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah Ku.” (terjemahan Al Qur’an surat Adz Dzariat ayat 56)

Jadi, slogan yang tepat adalah, “oleh Allah, dari Allah, untuk Allah.” Artinya kita diciptakan oleh Allah, dari sesuatu yang Allah ciptakan (tanah), dan kita hidup hanya untuk beribadah kepada Allah saja.

Masih soal demokrasi, sistem ini lebih menghargai pendapat dua pencuri daripada satu polisi, lebih menghormati suara dua orang tukang judi daripada satu kyai dan lebih mengunggulkan keinginan dua tukang maksiyat daripada satu ahli ibadah yang hebat. Ya, nggak?

Nasehat kepada penguasa memang sewajarnya tetap dilakukan. Akan tetapi dalam demo, aib begitu nyata dibeberkan. Tak jarang cacian dan makian begitu bersemangat diucapkan. Maka bukan hal yang mengherankan jika pemerintah bisa kesal setengah mati. Kalau sudah gitu, pentungan aparat ikut terayun dan peluru-peluru cari mangsa. Darah kaum muslimin tertumpah dengan sia-sia. Permusuhan antara sesama muslimin (yakni pemerintah dan pendemo) menjadi membara. Musuh-musuh islam makin gembira. Kejayaan islam makin jauh dari pelupuk mata.

Manfaat-manfaat demo benar ada namun nggak sepadan dengan bencana yang mungkin ditimbulkannya. Memang, bencana-bencana akibat demo yang sudah disebutkan tadi tidak selalu mesti terjadi. Tapi. mencegah lebih baik daripada mengobati. Bukankah begitu?

Nasihat bagi sang penguasa

Ber-amar ma’ruf nahi munkar memang baik, tetapi harus dilakukan dengan cara yang baik pula. Kita nggak boleh menggunakan segala macam cara, tanpa peduli apakah syariat melarang atau tidak. Bukankah tujuan yang baik harus dicapai dengan jalan yang baik pula?

Dalam menasehati penguasa, Rasulullah telah mengajarkan dengan sabdanya -yang artinya-; “Barang siapa yang ingin menasehati penguasa, maka janganlah melakukannya dengan terang-terangan (di muka umum) tetapi hendaknya ia mengambil tangan penguasa dan menyendiri dengannya (berbicara empat mata). Kalau penguasa itu menerima nasehatnya, maka itulah yang diinginkan dan kalau penguasa itu menolak, maka dia telah menunaikan kewajibannya.” (terjemahan hadits shahih riwayat Ahmad, Ibnu Abi ‘Ashim, Al-Hakim, Al-Baihaqy, AthThabrany).

Para shahabat menggunakan hadits tersebut sebagai adab menasehati pemimpin. Dari Ubaidillah bin Al-Khiyar, berkata –yang artinya-: “Aku pernah mendatangi Usamah bin Zaid kemudian saya katakan kepadanya, “Tidakkah engkau menasihati Khalifah Utsman bin Affan agar menegakkan hukuman atas Al-Walid?“ Usamah berkata, “Apakah kau kira aku tidak mau menasihatinya kecuali di hadapanmu? Demi Allah, Aku telah menasihatinya antara aku dan dia saja. Aku tidak mau membuka pintu kejelekan kemudian aku menjadi orang pertama yang membukanya.” (terjemahan hadits riwayat Al-Bukhari dan Muslim).

Ketika ada sebagian kaum muslimin mengingkari khalifah ‘Utsman secara terang-terangan, maka terjadi kekacauan yang menyebabkan terbunuhnya menantu Rasulullah tersebut. Syahidnya beliau diikuti berbagai fitnah dan peperangan-peperangan yang menyebabkan tumpahnya darah kaum muslimin.

Ikhlas, Berani dan Penyayang…

Orang yang ikhlas bukanlah orang yang menyengaja memperlihatkan nasehatnya kepada penguasa di muka massa, tetapi orang yang ikhlas akan menasehati penguasa dengan diam-diam. Pemberani bukanlah orang yang tak gentar menghujat penguasa di atas mimbar-mimbar, akan tetapi pemberani yang sejati berani menghadapi penguasa sendirian. Orang yang menyayangi saudaranya seagama bukanlah orang yang membawa massa sehingga memancing emosi penguasa, tetapi orang yang penyayang adalah orang yang menyendiri dengan penguasa untuk meluruskan kesalahannya.

Perkenalkan, seorang tabi’ien (muridnya shahabat) bernama Sa’id bin Jubair. Al Hajjaj bin Yusuf Ats Tsaqafi penguasa yang beringasnya nggak ketulungan, dinasehati oleh beliau sendirian. Ketika Al Hajjaj tidak terima dan membunuhnya, maka hanya beliau yang gugur sedangkan darah kaum muslimin yang lain tetap terjaga. Semoga Allah merahmatinya.

Lebih Baik…

Akan lebih baik jika massa mengutarakan keinginannya dengan mendatangi aparat pemerintah untuk berdialog. Bisa juga tuntutan disampaikan dengan paparan tertulis yang persuasif dan argumentatif dengan bahasa yang sopan dan tidak menyakitkan. Masyarakat menjadi tenang dan kericuhan yang mungkin timbul akibat demo dapat diminimalkan.

Begitulah Islam mengajarkan kepada kita, untuk menjadi generasi yang beradab termasuk adab menasehati. Sedangkan masalah berhasil-tidaknya nasehat disampaikan, tergantung taufik dan hidayah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Adapun jika pemimpin masih berbuat lalim dan sewenang-wenang, kita tetap bersabar dan senantiasa mendo’akan para pemimpin agar mendapat bimbingan dari Allah. Patut diketahui, keburukan pemimpin bisa juga disebabkan karena keburukan yang ada pada rakyatnya, sehingga Allah timpakan musibah berupa buruknya pemimpin mereka. Ibnu abil ‘Izzi berkata –yang artinya-: “…bersabar dalam menghadapi kejahatan mereka dapat menghapus dosa-dosa dan melipatgandakan pahala. Karena sesungguhnya Allah tidak menjadikan mereka sebagai penguasa yang diktator melainkan karena rusaknya amalan-amalan kita…”

(alif)

Sikap politik Ahlussunnah wal Jama’ah terhadap pemerintah, AbdusSalam bin Barjas
El Fatta 7/ I/ 2001.

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *