Penjaga benteng nan mulia

Penjaga benteng nan mulia

Di salah satu sudut kota terlihat seorang wanita berpakaian feminim mengejar bus, di sisi yang lain seorang nenek tua tertatih memikul setumpuk keranjang bambu, sekumpulan cewek-cewek ABG tertawa-tiwi sesekali menggoda beberapa pemuda di sebuah pusat berbelanjaan (mall), mahasiswi berpakaian ekstra ketat memeluk erat seorang pemuda diatas sepeda motor, entah mahrom (muhrim) atau bukan.

Barangkali inilah gambaran “emansipasi” wanita yang sejak dahulu diperjuangkan para pahlawannya, barangkali inilah yang disebut-sebut sebagai kesetaraan gender yang dikumandangkan para pelantunnya di seantero persada nusantara.

Namun untuk sejenak mari kita renungkan fenomena yang ada dengan kejernihan akal fikiran, meninjau kembali apa yang diturunkan Sang Pencipta, mencari tahu hakikat dan peranan wanita dalam tatanan masyarakat Islam yang sering dituduh sebagai palang pintu penghalang emansipasi wanita.

Islam telah menggariskan bagi wanita hak-hak dan kewajiban yang selaras dengan kondisi fisik dan kejiwaan mereka, yang akan menjamin kehidupan yang mulia bagi mereka baik sebagai seorang wanita, istri, maupun sebagai ibu bagi anak-anak mereka.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menyambut kelahiran bayi perempuan dengan hati berbunga, rasa bahagia tampak nyata, senyata purnama dimalam gulita. Manakala putri pertama beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam lahir (Zainab radhiyallahu ‘anha), Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bergegas menyambut, menggendong, dan menciumnya sebagai ungkapan cinta kasih beliau.

Tahukah anda kapan hal itu terjadi? Pada waktu dikatakan “Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar ( kelahiran ) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah” (An-Nahl: 59). Pada waktu manusia mengubur hidup-hidup anak perempuan mereka karena malu.

Garis sejarah Islam – melalui lisan dan perbuatan Nabinya yang mulia – telah menunjukkan apa yang ditetapkan Al-Quran bahwasanya laki-laki dan perempuan berasal dari benih yang satu “Wahai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan dari padanya Allah menciptakan pasangannya, dan dari pada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak”(An-Nisaa`: 1)

Islam menjadikan nafkah istri sebagai suatu kewajiban yang harus ditunaikan oleh suami, baik dalam hal makanan, pakaian, maupun segala sesuatu yang erat kaitannya dengan kebaikan si istri, dengan tanpa sikap tabdziir (pemborosan).

Disamping itu, mempergauli istri dengan baik,senantiasa ceria, bertutur sapa lemah lembut dengan kata-kata manis yang mempererat ikatan hati dan kasih sayang adalah sisi lain yang tidak boleh diabaikan. Sehingga tegaklah rumah tangga sebagai istana kokoh di atas cinta, kasih sayang dan kebersamaan dalam suka dan duka. Lihatlah bagaimana petunjuk Al-Quran “Dan bergaullah dengan mereka dengan cara yang baik” atau arahan Rasulullah saw “Barang siapa yang dikaruniai (Allah) kelemahlembutan, sungguh dia telah diberi kebaikan , dan barang siapa dijauhkan daripadanya, sungguh dia telah dijauhkan dari kebaikan” (HR.Tirmidzi). Sudah barang tentu diantara cara bergaul yang baik adalah dengan menggunakan waktu luang bersama istri, ikut membantu merawat si kecil sehingga tumbuh dalam lingkungan yang baik “Kalian semua adalah pemimpin yang bertanggung jawab atas apa yang kalian pimpin……, dan laki-laki adalah pemimpin keluarga yang bertanggung jawab atasnya” (HR.Muslim)

Wanita, selain kedudukannya sebagai istri juga mempunyai hak kepemilikan pribadi yang wajib diperhatikan para suami. Tidak halal bagi suami mengambil harta milik istri tanpa seijinnya. Selain itu, wanita sebagai istri juga mempunyai tugas dan kewajiban yang tidak boleh diabaikan. Bacalah firman-Nya : “Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang” (Ar-Rum: 21) . Peranannya sebagai penentram bagi suami memberikan isyarat yang nyata akan satu tugas utama dalam rumah tangganya yaitu menjadikan biduk rumah tangga sebagai surga tempat kembali sang suami dari segala kelelahan dan kepenatan hidup, sehingga kembali mendapatkan ketenangan, kedamaian, dan ketentraman hati. Dalam ayat ini pula ada isyarat akan adanya kewajiban serta cara mewujudkannya, yaitu adanya cinta dan kasih sayang dalam setiap ucapan dan perbuatan. Rasulullah saw berkata : ““Sebaik-baik wanita adalah apabila kamu melihatnya menyenangkan hatimu, bila engkau perintah dia patuh, dan bila engkau pergi dia menjaga dirinya dan hartamu.”(HR.Tirmidzi)

Sudah barang tentu ketaatan isteri kepada suami adalah dalam perkara-perkara yang bukan merupakan kemaksiatan kepada Allah, yang berarti pula menjaga diri ketika suami pergi dan tidak mengijinkan seorang pun masuk rumah meski dia adalah mahramnya (muhrimnya), apalagi yang bukan mahram.

Sebagaimana Islam memerintahkan laki-laki untuk menjaga dan memelihara hak-hak wanita, Islam juga memerintahkan kaum wanita untuk taat dan memelihara hak-hak laki-laki, Rasulullah saw berkata : “Seandainya aku (diperbolehkan) memerintahkan seseorang untuk bersujud kepada orang lain, niscaya aku perintahkan wanita untuk bersujud kepada suaminya”. (HR.Tirmidzi)

Kemudian apabila kita berbicara tentang gerakan emansipasi wanita saat ini, apa iyaa… itu adalah suatu usaha mengangkat harkat dan martabat wanita?, ataukah model perbudakan dan pemerasan yang tampil dengan cover baru ?

Fakta sejarah menunjukkan bahwa wanita adalah pendidik yang handal, Kholid bin Walid radhiyallahu ‘anhu, Umar bin Abdul Aziz radhiyallahu ‘anhu, Imam Ahmad dan Imam Syafii rahimahumallah adalah contoh kecil hasil buah karya didikan wanita. Akan tetapi manakala wanita muslimah telah meninggalkan tugas yang mulia ini dan beralih profesi sebagai pekerja di luar rumah, apa yang terjadi ? Muncullah generasi “buih banjir”, bagaimanakah sifat buih tersebut ? Jumlahnya banyak namun tak berdaya, penuh tercampur kotoran, terombang-ambing kian kemari tak punya pegangan, dll.

Benar apa yang diisyaratkan Rasulullah saw dalam hadistnya : “Bahkan jumlah kalian pada waktu itu banyak, akan tetapi kalian seperti buih banjir” (HR.Abu Dawud). Manakala wanita meninggalkan tugas yang mulia ini, televisi, majalah, koran, dan teman-teman merekalah guru “yang digugu dan ditiru”, dan itulah sejelek-jelek guru. Setiap hari yang mereka ajarkan hanyalah khayalan, mistik, perkosaan, pergaulan bebas, narkoba, kejahatan dan penghilangalangan rasa malu dengan dalih kepercayaan diri. Kalau sudah demikian, maka yang tertanam di hati dan otak generasi selanjutnya bukanlah iman, tauhid, Al-Quran, hadist, dan bukan pula akhlak, akan tetapi yang tertanam adalah istana pasir, kesyirikan, penggunaan narkoba, seks, daftar modus kejahatan, dan seabreg nafsu bejat hewan dan buaya darat. Lantas siapa yang lebih hina, kita ataukah binatang? Allah berfirman : “Mereka itu seperti binatang ternak bahkan lebih sesat”(Al-A`raf: 179)

Karena itu mari kita kembali kepada perintah Allah “Dan hendaklah kalian tetap dirumah-rumah kalian dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang orang jahiliyah yang dahulu” (Al-Ahzab: 33), serta arahan Rasulullah saw “Tetaplah dirumah-rumah kalian karena di sanalah jihad kalian” (HR.Ahmad) sebab Rasulullah saw berkata “Allah tidak akan mencabut kehinaan itu hingga kalian kembali kepada agama kalian”(HR, Abu Dawud)

Rumah adalah benteng pertama dan terakhir setiap keluarga. Apabila penjaga benteng melemah, bahkan meninggalkan medan tugasnya, maka hampir dipastikan benteng tersebut akan sangat mudah dikuasai musuh, dan tak lama lagi bendera putih kan segera berkibar memilukan. Maka berdukalah orang-orang yang akan berduka.

(alif)

.

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *