PEMUTUS KENIKMATAN

PEMUTUS KENIKMATAN

kematianDunia, sesuatu yang tidak kekal. Ia adalah alat penggempur manusia dengan berbagai macam musibah dan uji coba. Ia bukanlah sikap semena-mena Yang Maha Kuasa, melainkan proses seleksi bagi para hamba-hamba-Nya yang berhaq mendapat pahala. Siapa yang sabar dan ridlo dengan-Nya, ia mendapat janji dengan surga, dan siapa yang putus asa serta senantiasa mencerca, neraka diancamkan kepadanya.

 

Pintu Gerbang

Maut…pintu gerbang dari dunia yang fana menuju ke alam baka, suatu alam dimana penyesalan tiadalah berguna. Maut merupakan awal proses ditentukannya masa depan manusia. Bagi orang yang bertaqwa, Insya Allah maut merupakan pintu menuju kenikmatan sepanjang masa. Sebaliknya bagi orang yang ingkar lagi pendosa, insya Allah maut bisa menjadi tolakan awal menuju kepedihan yang tiada tara.

 

Simaklah beberapa kejadian ini:

 

Seorang pemuda sedang bermain bola, tiba-tiba ia terjatuh dan tidak bangun-bangun lagi. Buru-buru orang-orang disekitarnya membawanya ke rumah sakit. Setelah dibawa ke rumah sakit, ia dinyatakan meninggal.

 

Seorang pemuda, dalam keadaan marah kepada orang tuanya, pergi meninggalkan rumahnya. Qadarullaah, pemuda tersebut mengalami kecelakaan yang menyebabkan ia meninggal.

 

Ada seseorang yang mempunyai fisik kuat dan kedudukan yang terhormat. Di suatu pagi, ia tidak bangun lagi. Ia telah meninggal.

 

Beberapa orang pemuda yang terbiasa berbuat maksiyat tampak tengah berkumpul. Salah seorang diantaranya pergi untuk mencari makanan. Karena terlalu lama menunggu, temannya pergi mencarinya. Temannya menjumpai dia telah mengalami kecelakaan, dan dia sekarat. Dalam perjalanan ke rumah sakit, dia bertanya dengan penuh ketakutan, apa yang harus dia katakan kepada-Nya. Temannya bertanya, katakan kepada siapa? Dijawab oleh yang sekarat, apa yang harus dia katakan kepada Allah. Beberapa saat kemudian ia meninggal.

 

Ketahuilah…

Maut tidaklah menunggu orang untuk bertaubat, tetapi orang-lah yang harus menunggu maut dengan taubat. Betapa banyak orang yang terlihat segar perkasa, tak disangka maut tiba-tiba datang menyambarnya.

Maka bertanyalah kepada diri kita masing-masing, cukupkah bekal kita menuju negeri yang tidak akan berakhir, menuju kampung akhirat? Alangkah celakanya bila kita lalai mengumpulkan amalan yang diridloi-Nya. Alangkah buruk nasib kita jika menghadap-Nya sedang Dia dalam keadaan murka akibat dosa-dosa kita.

 

Ketahuilah…

Jika kita menghadapi perlombaan, kita berlatih mati-matian. Jika kita menghadapi ujian, kita belajar habis-habisan (mungkin sampai wayangan dengan metode SKS = Sistem Kebut Semalam). Sungguh, orang berakal akan tahu, bahwa pilihan keliru jika ia lebih takut terancam tidak dapat nilai A atau nilai 10, tetapi cuek bebek dan masa bodoh dengan ancaman neraka yang menyala-nyala. Maka siapakah yang lebih lalai dari orang yang persiapan untuk dunianya mengagumkan, sedangkan persiapan untuk akhiratnya pas-pasan?

 

Siap Siagalah…

Untuk menghadapi kematian, menyesal dan taubatlah kita dari segala dosa. Itu adalah kewajiban. Hingga seandainya dikatakan kepada kita: “Sesungguhnya engkau akan mati saat ini”, tidak perlu lagi ada dosa-dosa yang kita sesali.

Ingatlah bahwa maut bisa menjemput kapan saja, tidak bisa diajak rembugan, dan tak mungkin ditahan oleh benteng yang teguh dan berlapis. Maka apa lagi yang perlu ditunggu untuk melakukan taubat? Tak takutkah kita bila maut datang menjenguk saat kita sedang terbius kemaksiyatan, sedangkan kita lalai mengemis ampunan dari-Nya? Bagaimanakah kita ini saat anggota tubuh kita bersaksi tentang kedurhakaan yang jumlahnya bagai buih di lautan, sedangkan amal kita bagai setetes air di ujung jarum?

Upayakanlah diri kita, kerahkanlah segenap kemampuan jasmani, rohani serta segenap benda yang dimiliki. Sehingga apabila dikatakan kepada kita: “Engkau akan mati besok”, kita tidak lagi grobyakan menyiapkan bekal.

 

 

Sadarilah…

Tiada berguna harta, tahta, istri nan jelita dan putra-putra yang sukses karirnya apabila maut telah datang bertandang. Kapankah kita sadar bahwa dunia seisinya tidaklah kekal sepanjang masa? Kapankah kita akan bangun dari tidur kita?. Kapankah kita terbebas dari fatamorgana yang menipu akal dan mata kita?

Bila maut datang menjemput, ingatlah bahwa pengiringnya adalah amalan kita. Maka manakah amalan kita? Sudahkah amalan kita ikhlash karena–Nya? Apakah amalan kita sesuai dengan apa yang diajarkan nabi kita?

 

Jangan Sampai…

Janganlah kita di akhirat nanti mengatakan keluhan yang ducapkan oleh orang kafir Aduhai sekiranya aku dahulu menjadi tanah (terjemahan An Nabaa’ ayat 40)

 

Alif.

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *