PeDe di atas Kebenaran

PeDe di atas Kebenaran

“Omahmu banjir po piye?” Sambil senyum-senyum seorang bibi bertanya kepada keponakannya yang sedang main ke rumahnya. Tak ayal pemuda itu keki juga mendengar pertanyaan bibinya, yang kurang lebih artinya: rumahmu kebanjiran yaa…? Hatinya membatin, Saya melaksanakan ajaran rasul kok dibilang kebanjiran, sih. Pemuda tersebut memang sudah melaksanakan salah satu ajaran rasul untuk menaikkan celana di atas mata kaki, sehingga sekilas mirip orang kebanjiran.

***

Memang sadar-nggak sadar ajaran Islam makin asing di tengah masyarakat. Contohnya ya.. celana di atas mata kaki itu. Padahal Rasulullah bersabda –yang artinya-: “Sarung itu sampai tengah betis.” Maka ketika melihat hal itu berat bagi kaum muslimin maka beliau bersabda –yang artinya-:”Hingga di mata kaki dan tidak ada kebaikan pada apa yang di bawah kedua mata kaki.” (terjemahan hadits shahih riwayat Ahmad)

Kondisi Islam yang bakalan asing ini sudah dikhabarkan secara tepat dan akurat oleh orang yang benar lagi dibenarkan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa salam. Beliau bersabda -yang artinya-:“Sesungguhnya Islam pada permulaannya adalah asing dan akan kembali menjadi asing seperti pada permulaannya. Maka keuntungan besar bagi orang-orang yang asing.” (terjemahan hadits riwayat Muslim).

Saking asingnya, hal-hal yang sebenarnya ajaran nabi dianggap menyimpang, unik, lucu dan bisa dijadikan bahan lelucon. Misalkan ada mbak yang pakai jilbab lebar dan gelap dibilangin “Ninja” atau kalau ketemu sama mas yang memelihara jenggotnya diteriakin “Kambing”. Padahal itu enggak lucu sama sekali, khan?

Sedangkan ajaran yang sebenarnya nggak pernah diajarkan oleh beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam (bid’ah) malah dianggap sebagai ibadah. Katanya sih, rasanya nggak mantep kalau nggak diamalkan. Misalnya upacara melarung sajen ke laut biar ikannya tambah banyak dan rezekinya lancar. Atau shalawat-shalawat yang isinya minta pertolongan kepada Rasulullah (khan harusnya meminta pertolongan hanya kepada Allah saja, simak Al Fatihah ayat 5).

PeDe menjadi “orang asing”

Allah menciptakan kita di dunia hanya untuk beribadah kepada-Nya, taat kepada syariat-Nya dan pasrah kepada aturan-Nya, sebagaimana sabda-Nya –yang artinya-:“Aku menciptakan jin dan manusia, tiada lain hanyalah untuk beribadah kepada-Ku.” (terjemahan Al Qur’an surat Adz Dzariat ayat 56)

Maka segala konsekwensi harus ditempuh, termasuk menjadi “orang asing” yang nota bene minoritas di tengah masyarakat yang mayoritas belum mengenal ajaran islam. Allah sendiri berfirman –yang artinya-: “Dan sedikit sekali hamba-hamba-Ku yang bersyukur.” (terjemahan Al Qur’an surat Saba’ ayat 13).

Tapi “orang asing” di sini bukan berarti asal berbeda dengan masyarakat di sekitarnya, lho (alias alien). “Orang asing” di sini maksudnya adalah orang-orang yang teguh memegang ajaran Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak minder untuk mengikuti jejak shahabat beliau. Apabila masyarakat sekitar belum familier dengan ajaran nabi, mereka jadi terlihat unik dan aneh. Mereka -insya Allah- adalah orang-orang yang beruntung. Sebagaimana sabda nabi junjungan kaum muslimin shallallaahu ‘alaihi wa salam –yang artinya-: “Keuntungan besar bagi orang-orang yang asing. Yaitu orang-orang sholih di lingkungan orang banyak yang berperangai buruk, orang yang mendurhakainya lebih banyak daripada orang yang menta’atinya” (terjemahan hadits shohih riwayat Ahmad)

Generasi Yang Senantiasa Ada

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam memberi khabar bahwa akan senantiasa ada sekelompok orang dari pengikutnya yang akan terang-terangan di atas kebenaran. Dari ‘Umair bin Hani’ dari Mu’awiyah dari Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa salam, beliau bersabda –yang artinya-: “Senantiasa ada sekelompok dari ummatku yang menegakkan perintah Allah, tidak membahayakan mereka orang-orang yang mendustakan mereka dan yang menelantarkan mereka, sehingga datang keputusan Allah sedang mereka tetap demikian.” (terjemahan hadits riwayat Muslim)

Maka bersegeralah kita bangga berjalan di atas kebenaran agar menjadi bagian kelompok tersebut. Kelompok itu adalah para shahabat dan orang-orang yang meniti jejak mereka dengan baik

Tak Gentar dengan Cobaan

Ada seorang pemuda yang pergi ke masjid untuk sholat berjamaah. Waktu duduk tasyahud, dia menggerak-gerakkan jari telunjuknya yang kanan, mengikuti ajaran Rasulullah dalam sebuah haditsnya. Tak dinyana jarinya dipegang oleh seorang anak kecil. Di tempat lain -masih soal menggerak-gerakkan jari-, ada yang sampai disentil jari telunjuknya (mungkin gemes banget melihat jari bergerak-gerak).

Sebenarnya banyak banget kisah-kisah nyata yang dituturkan oleh orang-orang yang mengambil resiko menjadi orang asing. Mereka mengamalkan ajaran nabi yang kebetulan kurang populer di tengah masyarakat. Itulah cobaan, dan Rasulullaah bersabda –yang artinya-: “Sungguh, besarnya pahala setimpal dengan besarnya cobaan, dan sungguh Allah Ta’ala apabila mencintai suatu kaum, diuji-Nya mereka dengan cobaan. Untuk itu barangsiapa yang ridha maka baginya keridhaan dari Allah, sedang barangsiapa yang marah maka baginya kemarahan Allah.” (terjemahan hadits hasan riwayat Tirmidzi)

Kalau dipikir-pikir, cobaan yang dihadapi oleh nabi dan shahabatnya jauh lebih berat. Cobaan yang dihadapi oleh mereka lebih dari sekedar dicaci, dimaki, dan diisolasi. Sebagian dari mereka juga disakiti, dibinasakan dan terusir dari kampungnya karena keteguhannya (baca; PeDe) memegang kebenaran. Maka Allah angkat kedudukan mereka di dunia dengan menjadikan mereka penguasa Arab, Afrika Utara, Syria, Armenia, Iraq dan Persia. Allah juga menjanjikan mereka di akhirat dengan surga. Sungguh beruntung menjadi “orang-orang yang asing”.

Lihatlah…

Lihatlah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, ketika melihat agama Allah diperangi, maka ia menjadi orang yang berada di barisan paling depan untuk membelanya.

Al Barra’ mengatakan –yang artinya-: “Demi Allah, jika peperangan sudah memuncak, kami berlindung (di belakang Rasul). Tidak ada di antara kami yang paling berani maju ke medan perang, kecuali Nabi shollallaahu ‘alaihi wa salam..” (terjemahan hadits riwayat Muslim)

Atau…

Lihatlah Abu Bakar, shahabat yang sangat dicintai nabi. Ketika melihat utusan Allah tersebut dimaki-maki, beliau tidak malu-malu untuk membelanya.

Ali berkata –yang artinya-: “Aku pernah melihat Rasul shallallaahu ‘alaihi wa salam sedang diperolok dan dicaci-maki oleh Quraisy dengan perkataan, ‘Kamulah yang mengubah tuhan banyak menjadi (Tuhan Yang) Satu.’ Demi Allah, di antara kami pada saat itu tidak ada yang berani membela Nabi, kecuali Abu Bakar. Sambil mengusir mereka ia membacakan firman Allah –yang artinya-: “…Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena ia menyatakan, “Tuhanku ialah Allah” padahal ia telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Tuhanmu…” (terjemahan Al Qur’an surat Al Mu’min ayat 28) … (terjemahan hadits riwayat Bukhary dan Muslim)

Keyakinan akan kebenaran menjadikan beliau “orang asing” di mata bangsawan kafir Quraisy. Setelah peristiwa Isra’ Mi’raj, orang-orang bertanya kepada Abu Bakar –yang artinya-: “Apakah kamu juga membenarkan Nabi telah tiba di Syam dan kembali lagi ke Makkah, hanya dalam tempo satu malam?” Abu Bakar menjawab –yang artinya-: “Ya. Lebih dari itu pun aku tetap membenarkannya. Aku percaya dengan berita langit dan membenarkannya.” Dengan kejadian ini, ia digelari Ash Shidiq (orang yang membenarkan). (dari hadits riwayat Bukhary)

Lihatlah, begitu PeDe-nya beliau menjadi “orang asing”. Ketika orang-orang kafir mendustakan Rasulullaah, justru beliau tampil untuk membenarkannya.

Takut pada Kemarahan Manusia?

Takut pada kemarahan manusia merupakan hal yang wajar saja. Akan tetapi hal itu menjadi tidak wajar kalau seseorang lebih takut kepada manusia dibandingkan kepada Allah.

Rasulullah bersabda –yang artinya-: “Barangsiapa berusaha mendapatkan ridha Allah sekalipun dengan resiko kemarahan manusia, maka Allah meridhainya dan menjadikan manusia ridha kepadanya. Dan barangsiapa berusaha mendapatkan ridha manusia dengan melakukan apa yang menimbulkan kemurkaan Allah, maka Allah murka kepadanya dan menjadikan manusia murka pula kepadanya.” (terjemahan hadits riwayat Ibnu Hibban, dalam shahihnya).

Maka bagi mereka yang ingin menjadi “orang asing”, biarlah manusia marah asalkan Rabbnya mencintainya. Tidak menjadi soal manusia memusuhi asalkan Allah melindungi.

“…cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah sebaik-baik Pelindung.” (terjemahan Al Qur’an surat ‘Ali ‘Imran ayat 173)

Tidak perlu malu-malu menjadi “orang asing”, karena mengerjakan amal sholih bukanlah hal yang memalukan. Bahkan sebaliknya, mengerjakan amal sholih merupakan kemulian. Berserulah dengan penuh percaya diri:

“…saksikan bahwa kami termasuk golongan orang-orang Islam.” (terjemahan Al Qur’an surat ‘Ali ‘Imran ayat 64)

***

Beberapa waktu berselang giliran bibinya yang mengunjungi rumah keponakannya tadi. Masih seperti dulu, bibi tersebut tetap menjumpai keponakan tersayangnya menaikkan celananya di atas mata kaki. Tetapi kali ini -dengan wajah tulus- bibinya berujar, “Celanamu apik, ketok rapi”, yang artinya, celanamu bagus, terlihat rapi.

Dan senyum sang pemuda pun terkembang, Alhamdulillaah.

(alif)

.

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *