Oh … Dunia

Oh … Dunia

Lihat sekeliling kita … !

Inilah dunia, yang tidak hanya milik kita berdua saja. Kita keluar dari rahim ibu kita, tumbuh besar, masuk sekolah, lulus, bekerja, menumpuk harta, membangun rumah dan memperindahnya, menikah, punya anak, dan anak kita pun kita didik agar jadi seperti kita atau lebih sukses daripada kita.

 

Lho… Apakah hanya seperti itu dunia ini ?. Tidak… Setiap sesuatu pasti ada kesudahannya. Begitu pula hidup kita di dunia ini. Kita sekolah, belajar, maen – maen, ngumpulin duit, toh kita nanti juga akan mati – hii..syerem –. Emang demikian kok, Tuhan kita, Allah Subhaanahu wa ta’ala telah berfirman, yang artinya: “Setiap yang berjiwa pasti akan merasakan kematian”. (Ali ‘Imraan: 185).

 

Dan ketika sudah mati, harta , teman, dan anak – kalo udah punya – takkan bisa menyertai diri kita lagi. Mati itu kesudahan hidup alias the end. Tapi masalahnya, mati itu bukan akhir segala-galanya. Nah lo, masing ada sambungannya kan !. Ada lagi masalah yang muncul sesudah mati, yaitu hari kebangkitan, perhitungan amal, dan penentuan akhir nasib kita.

Allah berfirman, yang artinya: “Kemudian Dia (Allah) mematikannya dan memasukkannya ke dalam kubur, kemudian jika Dia menghendaki, Dia membangkitkannya kembali”.(‘Abasa: 21 – 22).

Juga, Allah berfirman, yang artinya: ” Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan bermacam-macam , supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka.” (Az-Zalzalah: 6).

 

Eit… jangan brenti dulu mbacanya – boleh tarik nafas – Masalah yang laen pun juga nongol tanpa kita sadari. Amal yang akan dihitung, ditimbang, dan menentukan akhir nasib kita itu hanya bisa kita lakukan pada saat kita masih bisa menghembus nafas artinya selama kita masih hidup. Jika sudah tak bisa menghirup udara lagi, tak bisa pula kita mempersiapkan diri untuk hari itu.

 

Wahai kawan, dunia memang aset bagi umat manusia. Di dalamnya terkandung sebuah kekayaan, yakni bumi beserta segala isinya. Bumi sebagai tempat tinggal manusia, menyediakan kebutuhan sandang, pangan, minum dan hiburan. Semua itu, kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan untuk perjalanan kendaraan yang akan membawa badan kita menuju Allah. Sebab manusia hanya bisa bertahan dengan itu semua.

 

Bayangin aja, seekor onta yang digunakan sebagai kendaraan untuk berhaji, dia hanya bisa bertahan dengan memenuhi kebutuhannya. Maka ada di antara orang yang mengambil jatah kebutuhannya itu sebagaimana yang dianjurkan saja alias secukupnya, dialah orang yang terpuji. Sementara ada pula orang yang mengambil jatah itu melebihi dari kebutuhannya dikarenakan sifat rakusnya, orang yang demikian adalah tercela. Ngapain repot – repot mbawa barang yang justru malah nambahi beban berat kita, ‘Tul nggak…?

 

Dengan begitu, dia mengabaikan tujuan yang sebenarnya. Dia keenakan memberi makan ontanya, mengambilkan air minumnya dan menggantikan warna kelengkapan onta tersebut. Sementara dia tak sadar bahwa rombongannya telah berlalu, dan dia ditinggalkan seorang diri di gurun sebagai mangsa binatang buas bersama onta tsb.

 

Namun sekali lagi perlu diingat yaa…, terlalu menahan diri untuk memenuhi kebutuhan, juga tidak beralasan. Sebab onta tidak kan kuat berjalan, kecuali keperluannya terpenuhi. Jangan – jangan ontanya ngambek di tengah jalan, bisa berabe nanti.

 

Maka jalan yang tepat adalah mengambil jalan tengah, yakni mengambil bekal dari kehidupan dunia sekedar yang dibutuhkan untuk perjalanan saja.

 

Perjalanan. Begitulah dunia itu hakikatnya. Dan setiap perjalanan ada tempat tujuannya. Dan untuk menuju kepada tujuan itulah kita seharusnya menyiapkan bekal kita.

 

Para pendahulu kita yang sholeh menjelaskan sifat-sifat dunia, “Alangkah nikmatnya kehidupan alam dunia bagi orang-orang mukmin. Karena mereka senantiasa berbuat dan mengumpulkan bekal untuk kehidupan surga. Dan sungguh keji dunia bagi orang kafir dan munafik, karena mereka membiarkan waktu malamnya berlalu, sementara bekalnya akan membawanya ke neraka.”

 

Marilah lihat diri sendiri, sudah punya bekalkah kita semua?, atau kita baru saja sadar bahwa kita ini ternyata hanyalah seorang pengembara, dimana seorang pengembara itu harus kembali ke tanah airnya dan ternyata kita belum punya bekal secuilpun !. Waduh bakal ngecewain donk.

 

Oleh karena itu, harta, jabatan, tampang, dan penampilan bukanlah bekal yang bisa kita bawa jika sudah tiba waktunya, tapi hanya ketakwaan kitalah yang bisa menyertai kita.

 

Kamu tentu masih ingat kan, takwa yang merupakan bekal perjalanan ini adalah berujud sebagai amalan – amalan sholih. Maka marilah ingati hal ini. Beramallah dengan bagus, dengan niat yang ikhlas dan sesuai syari’at.

 

Seperti seorang pengembara yang akan pulang menuju negerinya, ia harus mengetahui kiat-kiat dan cara-cara mempersiapkan bekal yang tepat agar bekal yang ia bawa dapat memberi manfaat bagi dirinya. Jangan sampai bekal yang ia bawa mengundang perampok – perampok yang akan menghabisi dirinya. Jangan pula bekal yang ia bawa dapat diendus binatang buas yang akan menggerogoti bekalnya. Maka untuk menghindari hal itu, sang pengembara harus tahu bagaimana mempersiapkan bekal yang tepat. Ia harus tahu ilmunya dulu.

 

Semisal itulah kita, agar amalan – amalan yang kita lakukan benar-benar dapat memberi manfaat bagi diri kita, kita harus tahu kiat-kiat dan cara-cara beramal sholih yang tepat. Jangan sampai kita melakukan amal sholih tapi tidak diniatkan kepada Allah. Jangan pula kita sudah berpayah – payah beramal sholih tapi ternyata tidak pernah dituntunkan oleh Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam sehingga amalan kita tidak diterima. Yang nanggung rugi adalah kita – kita juga kan ?

 

Lalu bagaimana untuk tahu cara-cara dan kiat-kiat beramal tersebut. Reguklah ilmu – ilmu agama, bertamasyalah ke majelis – majelis pengajian, bercengkeramalah dengan ahli – ahli ilmu agama, niscaya kita akan tahu bekal bagaimanakah yang harus kita punyai untuk kembali ke haribaan Ilahi nanti.

 

Jadi? Inilah dunia kita. Yang sebenarnya hanyalah tempat persinggahan sementara saja. Walaupun begitu, kita diperbolehkan mengambil perbendaharaan dunia secukupnya saja dan hanya yang halal saja. Namun, ingatlah, setelah itu kita akan kembali pada Yang Maha Pencipta dan kita akan ditanyai, amal akan dihitung, nasib akan ditentukan, ke neraka ataukah ke surga?. Supaya kita sukses dalam perjalanan ini, maka bekal terbaik adalah takwa di mana ia adalah amalan – amalan sholih. Dan agar bekal amal sholih tersebut terhindar dari perampok syirik dan serigala bid’ah, maka kita harus tahu cara – cara mempersiapkannya. Sedangkan cara – cara tersebut hanya bisa diketahui lewat regukan – regukan ilmu agama.

 

Alif.

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *