Mujahadah : Bersungguh-sungguh Dalam Ibadah

Mujahadah : Bersungguh-sungguh Dalam Ibadah

Kurang lebih kisahnya seperti ini Muridnya Imam Ahmad berkata, “Wahai Imam Ahmad, kapan waktunya untuk beristirahat

Kemudian beliau menjawab, “Ketika engkau menginjakkan kaki pertama kali masuk ke dalam surga”.

(ketika kita beristirahat barang sejenak itu untuk berpindahnya dari ketaatan yang satu menuju ketaatan yang lain)

Keseharian Kita

Untuk kita shalat subuh dua (2) rakaat perlu mujahadah, kita perlu bangun sebelum adzan shalat subuh dan kita bisa luangkan waktu untuk Qiyamullail kemudian berwudhu kemudian ke masjid. Dan rangkaian dari menunggu waktu shalat hingga shalat tidak kurang dari setengah jam (ini bisa dilakukan dzikir) sampai kembali ke penginapan (tempat tinggal/kos/asrama).Dan untuk yang demikian membutuhkan banyak-banyak mujahadah.

Dan ada sebagian orang yang mengatakan bahwasanya, waktu tidur paling enak itu pas adzan shalat subuh, bahkan setelah shalat subuh , enak juga itu waktu untuk tidur-tiduran kemudian tidur. Semoga kita dijauhkan dari sikap tersebut.

Apakah karena saking Mujahadah-nya (Bersungguh-sungguh) membuat orang susah tersenyum ?

Tidak, seseorang masih bisa tersenyum bahkan bercanda.

Kurang lebih kisahnya dari salah seorang Imam Ahli Hadits,

Ketika beliau ditanya oleh seseorang dengan ‘guyon’ maka jawabnya dengan ‘guyon’ juga. Seperti ini pertanyaannya,

Siapa nama istrinya Iblis ?

kemudian Beliau menjawab, Pada saat Walimatul ursy kami tidak hadir (jadi tidak tahu nama istrinya iblis).

Ini contoh bahwa mujahadah tidak membuat orang jadi susah untuk berinteraksi dengan seseorang. Padahal beliau paling tinggi mujahadahnya.


Mengenai Bersungguh-sungguh di dalam beribadah dijelaskan dalam ayat berikut,

1. Al Ankabut [29] : 69

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. al-‘Ankabut [29] : 69)

Penjelasan :

Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk (mencari keridhaan) Kami  
maksudnya, Mencurahkan segenap kemampuannya untuk

menepis hawa nafsu,
godaan setan dan ambisi-ambisi pribadi, 
serta melawan musuh-musuh agama.

karena Allah semata.

Jalan-jalan Kami
maksudnya, Jalan-jalan yang bisa

mendekatkan kepada Allah dan mengantarkan pada surga-Nya.

jalan-jalan ini hanya bisa ditempuh dengan amal-amal ketaatan dan kesungguhan dalam beribadah.

Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.
 maksudnya, Allah selalu menolong dan menguatkan mental mereka.

==> Orang yang bersungguh-sungguh di Jalan Allah tentulah orang yang berbuat baik

2. Al Hijr [15] : 99

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ
“Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).”(QS. al-Hijr [15] : 99)
الْيَقِينُ maksudnya sesuatu yang diyakini, intinya kematian yang menjemput, kematian yang pasti terjadi (ajal).
==> Dalam penjelasan ayat diatas, bahwasanya batas akhir dari mujahadah atau bersungguh-sungguh di dalam beribadah yakni sampai ajal (sampai berakhirnya hidup di dunia).
3. Al Muzzammil [73] : 8وَاذْكُرِ اسْمَ رَبِّكَ وَتَبَتَّلْ إِلَيْهِ تَبْتِيلًا”Sebutlah nama Tuhanmu, dan beribadahlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan.” (QS. al-Muzzammil [73] : 8)

وَاذْكُرِ maksudnya Berdzikir, dan berdzikir itu membutuhkan mujahadah.

تَبْتِيلًا maksudnya dengan penuh ketekunan ialah dengan sebenar-benarnya ibadah.

==> Mujahadah perlu adanya ketekunan bukan cuma pernah, semisal : pernah shalat malam kemudian mandeg, lalu pernah hafal 5 juz kemudian lupa lagi karena jarangnya di muroja’ah,dsb.

4.  Az Zalzalah [99] : 7

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ

“Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.”(QS. Az Zalzalah [99] : 7)

==> yang dimaksud melihat (balasan)nya ialah menunjukkan makna bahwa perbuatan ini akan di balas oleh Allah subhanahu wata’ala.

dan yang dimaksud  ذَرَّةٍ maksudnya partikel debu yang bisa dilihat ketika sinar matahari menembus kaca; ada juga yang memaknainya dengan semut kecil. lafadz  ذَرَّةٍ bisa juga diarahkan maknanya pada bagian terkecil dari suatu unsur (atom).

5. Al Muzzammil [73] : 20

…وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ هُوَ خَيْرًا وَأَعْظَمَ أَجْرًا ۚ…

“…Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya…”.(QS. al-Muzzammil [73] : 20)

مَا yang dimaksud adalah diartikan kebaikan
وَ yang dimaksud disini adalah diartikan perbuatan apa pun (apa saja).

==> Bukan hanya kebaikan saja yang akan dibalas, namun keburukan pun akan dibalas. dan Allah itu Maha Adil.

Allah membalas kebaikan bukan hanya 1 kebaikan, bisa dikalikan 10, 100, 700, 1000 atau hanya Allah yang tahu karena saking besarnya kebaikan tersebut (dimasukan ke Jannah), jika kita bisa haji mabrur maka balasannya Jannah (dan ini membutuhkan mujahadah).

6. Al Baqarah [2] : 273

وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ

“…Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Mengatahui…”.(QS. al-Baqarah [2] : 273)

==> yang dimaksud disini ialah meng-infakkan dari kebaikan (harta yang baik).

(surya#13)Referensi :
Kajian Tafsir Hadits di Masjid Kampus UGM oleh Ust. Ridwan Hamidi,
http://31.media.tumblr.com/tumblr_m0m12c2WHW1r6xffoo1_500.jpg

.

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *