MUHASABAH…, Instropeksi diri setiap Muslim

MUHASABAH…, Instropeksi diri setiap Muslim

Kuhitung hari hari berlalu . . .

Berapa banyak amalku..?

Amal yang ikhlas mengharap wajah-Nya yang terindu

Amal yang sesuai dengan Rasul dan shahabatnya dulu

Lalu…

Berapa besar dosaku

Apakah Rabbku telah mengampuniku..?

Telah berlalu umurku

Semakin sedikit kesempatanku

kecemasan memenuhi kalbu

Surga atau neraka kah akhir riwayatku

Kadang nggak disadari, ternyata sudah lumayan lama kita nongol di muka bumi. Kita nggak tau dan nggak akan pernah tau entah sampai kapan kita akan terus
menghirup udara segar ini. Maka sudah sewajarnya bagi setiap muslim untuk memperhatikan apa-apa yang sudah dikerjakan kemaren sampai saat ini. Sudah cukup
belum, bekal yang akan dibawa jika sewaktu-waktu malaikat maut mencabut ruh ini untuk dimintai pertanggungjawaban di hadapan Rabbnya???

Sebagai seorang yang beriman kita mestinya sadar bahwa tiap aktivitas kehidupannya, bahkan tiap tarikan nafasnya merupakan peluang dan kesempatan untuk
meraih sesuatu yang lebih baik di hari akhirat kelak , sekaligus berpeluang sebagai sebab terjadinya bencana yang belum terkirakan sebelumnya.

MUHASABAH…

Adalah suatu amal yang mestinya selalu dilakukan oleh seorang mu’min. Lho…koq? Iya…lewat muhasabah kita bisa menilai diri sendiri apakah kita sudah
bener-bener mempersiapkan bekal kehidupan akhirat. Atau malah sebaliknya, lebih sibuk urusan dunianya yang melalaikan atau bahkan melanggar syariat Allah
Yang Maha Perkasa? Allah berfirman yang artinya-

Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan (terjemahan Al Hasyr ayat 59)

MUHASABAH…

Juga merupakan suatu amalan yang dicontohkan oleh para salafush sholih (para pendahulu islam yang sholih). Seperti yang dituturkan oleh shahabat Rasulullah
Amirul Mu’minien Abu Hafsh Umar Ibnu Khaththab Al Faruq radliyallaahuanhu yang artinya-

Hisablah dirimu sebelum dihisab! Timbanglah diri kalian sebelum kalian ditimbang! Sesungguhnya instropeksi bagi kalian pada hari ini jauh lebih ringan daripada hisab di kemudian hari (Riwayat Imam Ahmad dan At Tirmidziy secara mauquf dari Umar bin Khaththab)

Kamu juga bisa menyimak perkataan imam Hasan Al Bashri yang artinya-

Sesungguhnya seorang hamba akan senantiasa berada dalam kebaikan manakala ada yang memberi nasehat bagi dirinya dan muhasabah menjadi perhatiannya.

MUHASABAH…Bagaimana Caranya?

Muhasabah itu bisa dibedakan menjadi dua tipe, yakni muhasabah sebelum beramal dan sesudah beramal.

Muhasabah sebelum beramal bisa kita lakukan lewat merenung, bikin strategi yang sip. Caranya?

Tanya pada diri kita sendiri apakah amal-amal yang kita niatkan bakal kita kerjakan itu levelnya masih dapat dijangkau oleh kemampuan kita, nggak? Jika
nggak, baiknya tidak usah dilakukan aja. Lakukan aja amal-amal yang sesuai dengan kemampuan kita.

Jika mampu kita kerjakan, pikir lagi, apakah mengerjakan amalan tersebut lebih baik daripada meninggalkannya?

Jangan lupa, apa amal-amal kita diniatkan untuk mencari ridlo Allah semata apa bukan?

Model kedua, muhasabah sesudah beramal bisa kita lakukan dengan mengevaluasi apa-apa yang udah kita kerjakan.

Hanya diniatkan buat Allah apa nggak?

Sudahkah amalan kita sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah shallallaahualaihi wa salam?

Setiap amal manusia nggak bisa lepas dari dua pertanyaan tersebut, yaitu untuk siapa dan bagaimana cara mengerjakannya. Soal pertama berkaitan dengan
ikhlas, dan pertanyaan kedua berhubungan dengan kesesuaian dengan ajaran Rasulullaah (ittiba).

MUHASABAH…Punya Faedah

Ada bagusnya kita tau manfa’at-manfa’at dari muhasabah, biar tambah semangat…

1. Kita jadi tau hak Allah terhadap diri kita

Dengan muhasabah diharapkan kita bakalan sadar kalo Allah itu punya hak untuk ditaati, bukannya dimaksiyati, diingat bukannya dilupakan, dan disyukuri
bukannya malah diingkari. Kalo kita sadar hak-hak Allah tersebut, kita bakalan mencela nafsu kita sendiri dan berusaha membebaskan diri dari
kesalahan-kesalahan. Hal ini akan membuka pintu ketundukan, kepasrahan dan penghinaan diri di hadapan-Nya. Kita juga jadi sadar kalo keselamatan itu hanya
dapat dicapai dengan ampunan dari Allah.

2. Kita bakalan ngerti aib dan kesalahan diri sendiri.

Apabila aib kita diibaratkan penyakit yang bersarang di dalam tubuh, maka muhasabah adalah diagnose sehingga dapat diambil
langkah-langkah paling sip untuk menyembuhkannya. Yap… dengan muhasabah kita dapat mengetahui kesalahan-kesalahan kita untuk kita insyafi. Di sisi lain,
sang pelaku muhasabah termotivasi untuk meningkatkan amal-amalnya dari waktu ke waktu, sehingga makin melambung derajatnya di sisi Allah.

Bisa kita simak perkataan sebagian salaf (para pendahulu islam) –yang artinya-: “Sesungguhnya seorang hamba bisa jadi berbuat
suatu dosa, yang dosa tersebut menyebabkan masuk surga. Dan seorang hamba bisa jadi berbuat suatu kebaikan, yang kebaikan tersebut menyebabkan masuk
neraka” Orang bertanya –yang artinya-: ”Bagaimana hal itu terjadi?” Dia menjawab –yang artinya-: “Dia
berbuat suatu dosa, lalu dosa itu senantiasa terpampang di hadapannya, dia khawatir, takut, menangis, menyesal, dan merasa malu kepada Rabbnya, menundukkan
kepala di hadapan-Nya dengan hati yang khusyu’. Maka dosa tersebut menjadi sebab kebahagiaan dan keberuntungan orang itu, sehingga dosa tersebut lebih
bermanfaat baginya daripada ketaatan yang banyak. Karena dosanya tadi menyebabkan perkara-perkara tersebut, yang menjadi sebab kebahagiaan dan
keberuntungan seorang hamba, sehingga dosa tersebut menjadi sebab masuknya ke dalam surga.”

Kuharap ‘kan selamat

dunia dan akhirat

meniti jejak Rasul dan shahabat

(alif)

.

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *