Kreasi dan Inovasi Iblis

Kreasi dan Inovasi Iblis

Hiruk pikuk manusia, hingar-bingar mesin, dan berbagai kesibukan hidup telah banyak melalaikan kita dari mengingat dan mensyukuri nikmat-nikmat-Nya. Karena itu, untuk beberapa menit kami ingin mengajak kita semua menengok kembali hati dan keimanan kita. Para sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam pun sering mengajak sesamanya untuk menengok kembali keimanan di dada-dada mereka agar iman itu semakin bertambah “Mari untuk beberapa saat kita menengok dan menambah keimanan kita!” itulah ajakan mereka.

 

Namun kali ini kita akan diajak membahas kebalikan daripada keimanan, yaitu kesyirikan…….Eeii..it, jangan berfikir bahwa kesyirikan hanya itu-itu saja, jangan dulu kita bayangkan kesyirikan hanya melulu penyembahan kepada patung dan berhala semata! Kita akan membahas makna kesyirikan yang sedikit lebih mendalam, tentunya dengan harapan akan lebih membekas dihati-hati kita.

 

Bicara masalah kesyirikan pada masa jahiliyah yang hadir di masa kita ini dengan berbagai pola kejahatan baru sungguh sangat mengasyikkan. Kalau dahulu alat tansportasi manusia hanya kuda dan onta, sekarang kita bisa naik kijang, harimau (tiger), dan puma (Panther), boleh ….dong! Iblis dan Syetan la’natullah ‘alaihi berinovasi dalam tehnik mereka menyesatkan manusia. Allah berfirman: “Iblis menjawab: Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semua, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis diantara mereka.”(Shod:82-83)

 

Sudah barang tentu kita ingin termasuk orang-orang yang mukhlis, namun untuk itu kita harus mengetahui 2 perkara yang bertolak belakang, karena cara terbaik untuk mengetahui makna sesuatu adalah dengan menerangkan kebalikannya, adapun dua perkara itu adalah tauhid dan syirik.

 

Berikut beberapa bentuk inovasi Iblis paling “gress” dalam bidang kesyirikan yang sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari, serta bagaimana bentuk awal dari inovasi tersebut pada masa jahiliyah.

 

1). Mengadakan perantara dalam ibadah/doa kepada Allah swt

 

Asal tahu saja, inilah hakikat kesyirikan yang diperangi oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Orang orang musyrik pada masa Rasulullah Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam kalau ditanya siapakah yang menciptakan, yang menghidupkan dan mematikan, yang mengatur segala sesuatu, yang memberi rizki kepada kalian? Mereka menjawab: “Allah!”. Inilah yang disebut sebagai Tauhid Rububiyah, namun tauhid ini belum memasukkan seseorang ke dalam Islam, mau bukti? Baca saja firman-Nya: “Katakanlah: Siapakah yang memberi rizki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang (kuasa) menciptakan pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan? Maka mereka akan menjawab: “Allah!”. Maka katakanlah: “Mengapa kamu tidak bertaqwa?”(Yunus: 31)

 

Juga firman-Nya: “Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya” (Az-Zumar: 3)

 

Kalau kita cermati keadaan masyarakat kita sekarang ini, kesyirikan yang ada jauh lebih parah. Dahulu kaum musyrikin menjadikan patung orang-orang sholeh sebagai perantara di dalam doa mereka kepada Allah dengan harapan orang-orang itu bisa mendekatkan mereka kepada Allah, akan tetapi mereka tidak punya keyakinan bahwa patung-patung itu bisa memberikan kemanfaatan kepada mereka, makanya tidak mengherankan apabila kita mendengar cerita tentang Umar bin Khottob radhiyallahu ‘anhu di masa jahiliyah pernah menyembah patung yang dibuat dari roti, tetapi karena lapar beliau lantas memakan roti tersebut, yang tak lain adalah sesembahannya. Sedangkan masyarakat kita menjadikan orang yang dianggap wali (meski sebenarnya mereka tidak tahu apakah dia seorang wali Allah/bukan) sebagai perantara dalam doa mereka kepada Allah karena meyakini doa mereka akan lebih terkabul. Kaum musyrikin enggan mengucapkan “Laa ilaaha illallaah” karena mengetahui konsekuensinya yaitu meninggalkan segala bentuk perantara yang dilarang dalam ibadah kepada Allah, sedangkan kita dengan mudah mengucapkannya karena tidak faham konsekuensinya.

 

2). Perbintangan

 

Perbintangan yang kita maksud disini bukan ilmu astronomi yang dipelajari di bangku sekolah dan kuliah. Namun perbintangan yang kita maksud adalah zodiak, horoskop dan aneka ragam peramalan nasib berdasarkan bintang. Hampir tidak ada majalah atau koran yang terlepas dari yang satu ini, bahkan dunia pertelekomunikasian pun tak lepas dari imbas kepak sayap iblis ini. Pada hakikatnya perbintangan adalah bentuk pengakuan mengetahui hal yang ghoib, yang mana hal itu adalah satu diantara dedengkot thoghut. Allah berfirman: “Dan sesungguhnya kami telah mengutus rasul kepada tiap-tiap umat (untuk menyerukan) : “Sembahlah Allah saja dan jauhilah toghut itu.”(An-Nahl:36)

 

Ahli perbintangan pada masa jahiliyah disebut munajjim / `arraaf / kahin, dan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam berkata tentang mereka: “Barang siapa yang mendatangi kahin (dukun) dan membenarkan apa yang ia katakan, sungguh ia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad saw.”(HR.Abu dawud)

 

Makanya jangan sekali-kali membaca tulisan mereka di koran / majalah, karena hal itu sama dengan mendatangi dukun / munajjim tersebut.

 

3). Azimat, Rajah, dan semisalnya.

 

Di masa tersebarnya kebodohan terhadap ilmu agama seperti sekarang ini sulit bagi kita sebagai orang awam untuk membedakan kyai yang sebenarnya (orang yang mengetahui ilmu agama dan beramal dengannya) dan kyai gadungan (dukun), karena mereka juga menghiasi ilmu-ilmu mereka dengan tulisan arab, potongan ayat dan asmaul husna, Lalu bagaimana ayat dan asmaul husna digunakan untuk untuk kesyirikan dalam bentuk azimat, rajah, dll ? Karena ayat dan asmaul husna tersebut digunakan untuk suatu amalan yang tidak dituntunkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Suatu amalan baru bisa disebut sebagai ibadah apabila memenuhi dua syarat yaitu Ikhlas yang merupakan lawan dari syirik, dan mutabaa`ah yaitu sesuai dengan tuntunan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Jadi meskipun itu ayat, asmaul husna, ataupun yang lainnya apabila digunakan untuk satu amalan yang tidak ditunutunkan Rasulullah saw, maka pada hakikatnya amalan itu tidakkalah mendekatkan pelakunya kepada Allah akan tetapi justru menjauhkannya daripada-Nya

 

Orang yang mempunyai azimat dan yang semisalnya, pasti merasa takut apabila dia bepergian sedangkan azimatnya tertinggal di rumah, inilah bentuk bertawakal kepada selain Allah, dan inilah diantara bentuk kesyirikan yang kami maksud. Azimat,rajah dan yang semisalnya ini pun sudah ada pada masa Rasulullah, hanya saja dalam bentuk yang sedikit berbeda, dalam satu riwayat seorang sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam yang bernama Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu melihat seorang laki-laki yang terlilit ditangannya seutas benang untuk menangkal demam, maka beliau pun memotongnya dan membaca firman-Nya: “Dan sebagian besar dari mereka tidaklah beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan yang lain”(Yusuf: 106)

 

Maka sebagai generasi muda Islam, hendaklah kita bersemangat dalam mempelajari agama ini, agar kita bisa membedakan antara keimanan dan kesyirikan karena Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan mengampuni dosa-dosa yang lain bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya.” (An-Nisa`: 48).

 

Dan Rasulullah juga menggambarkan bahwa kesyirikan itu lebih samar daripada seekor semut hitam yang merayam diatas batu hitam ditengah kegelapan malam yang gulita. Kalau tujuan pendidikan saja “menciptakan manusia yang seimbang antara imtaq dan iptek”, bukankah suatu hal yang tidak adil apabila kita habiskan waktu bertahun-tahun untuk mempelajari teori relativitas Einstein sedangkan untuk belajar agama, tak satu jam pun terluang dalam hidup kita. “Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu” (Al-Hadid: 20). Kalau sudah demikian maka bukanlah suatu hal yang mengherankan apabila masyarakat kita masih banyak yang berbuat syirik , meninggalkan sholat, melalaikan zakat, makan di siang bolong Bulan Ramadhan, berhaji namun sekembali darinya tetap saja korupsi. Amat sangat pantaslah apabila kita merenungkan firman-Nya: “Dan sebagian besar dari mereka tidaklah beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan yang lain)”(Yusuf: 106)

 

 

Alif#22.

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *