Jangan Remehkan Mereka

Jangan Remehkan Mereka

Menurut buku sejarah yang bisa didapatkan di sekolah-sekolah, zaman yunani dan romawi kuno merupakan puncak berkembangnya ilmu pengetahuan. Pada zaman itu banyak tokoh-tokoh tenar semisal Aristoteles, Hipocrates, socrates dan lain-lain. Siapa sih anak sekolah yang tidak tahu mereka?

Tapi, ada lho yang lebih hebat dari mereka bahkan teramat sangat hebat jika dibandingkan dengan mereka. Tahukah kalian siapa mereka?

Mereka adalah sekelompok kaum pada zaman yang hebat, zaman dimana Rasul dan kitab yang paling mulia diturunkan. Kedudukan mereka tidak hanya tinggi di sisi manusia tetapi juga di sisi Tuhannya. Mereka tidak hanya dipuji oleh manusia tetapi juga oleh Rabbnya. Mereka adalah manusia-manusia paling baik pada masa yang lalu, sekarang, dan masa yang akan datang. Rasulullah sendiri juga bersabda –yang artinya-: “Sebaik-baik manusia adalah pada zamanku, kemudian sesudahnya, kemudian sesudahnya…..” (terjemahan hadits riwayat Bukhari dan Muslim)

Yang dimaksud Rasulullah dengan “orang-orang di zamanku” adalah para sahabat Nabi, dan yang dimaksud “orang-orang sesudahnya” adalah para Tabi’in (murid shahabat), dan yang dimaksud “orang sesudahnya (lagi)” adalah Tabi’ut-Tabi’in (murid Tabi’in).

Jadi… sebaik-baik manusia adalah Shahabat, Tabi’in, Tabi’ut-Tabi’in yang mengikuti Al Qur’an dan Al Hadits. Mereka juga dikenal dengan salafush sholih, -para pendahulu yang sholih-.

Hebatnya Mereka

Apa sih hebatnya mereka? Mau tahu hebatnya?
Allah Subbhanaahu wa Ta’ala berfirman –yang artinya-: “Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, kalian menyuruh yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar, dan kalian beriman kepada Allah” [terjemahan Al Qur’an surat Ali ‘Imran ayat 110]

Yang Allah maksudkan sebagai: “Ummat terbaik…” dalam ayat ini tentunya adalah para sahabat. Banyak banget keutamaan ketiga generasi tersebut: kebaikan, ketaqwaan, keteguhan hati mereka, dan masih banyak lagi.

Kelompok Yang Adil

Keadilan para pendahulu Islam yang sholih tidak perlu diragukan lagi. Inilah sebagian kisahnya. Di zaman Rasulullah, ada wanita kalangan bangsawan yang mencuri. Sebagian kaum muslimin meminta keringanan kepada Rasulullah agar wanita itu tidak dihukum.

Namun, apa jawaban Rasulullah? Rasulullah bersabda -yang artinya-: “Jika Fathimah putri Muhammad mencuri tentu akan aku potong tangannya” (Kitab Shohih Muslim).

Subhanallaah… Inilah keadilan Rasulullah. Dalam menerapkan hokum, beliau tidak memandang kedudukan seseorang.

Atau…
Suatu kali baju besi milik ‘Ali bin Abi Thalib dicuri oleh orang yahudi. Baju itu ditemukan saat beliau menjabat sebagai khalifah –pimpinan tertinggi orang-orang yang beriman-. Walau sebenarnya beliau sendiri sudah yakin bahwa baju itu miliknya, permasalahan itu tetap dibawa ke qodhi (hakim). ‘Ali tidak bisa menghadirkan saksi yang bukan kerabatnya. Maka hakim tak pandang bulu memutuskan perkara. Ia memenangkan si yahudi. Meski Ali adalah pimpinan tertinggi Negara Islam, beliau tetap menerima keputusan hakim. Tersentuh oleh keadilan Islam, yahudi pun masuk islam.
Subhanallah…begitu banyak kisah-kisah tentang keadilan mereka. Apa ada kisah-kisah semacam ini di zaman Romawi, Yunani atau di zaman ini?

Pantas… dan memang pantas kalau mereka itu dipuji di sisi Allah, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman –yang artinya-: “Orang-orang yang terdahulu yang pertama-tama masuk Islam dari orang-orang Muhajirin dan Anshor dan orang orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridho kepada mereka dan mereka pun ridho kepada Allah,…” (terjemahan Al Qur’an surat At Taubah ayat 100)

Allah telah ridha kepada para shahabat, dan mereka pun juga ridha kepada-Nya.

Paling Berislam dan Paling Beriman

Para pendahulu Islam yang sholih, terutama dari kalangan shahabat, tidak hanya dikenal karena keadilan mereka. Mereka juga harum semerbak karena keimanan mereka dan keteguhan mereka dalam berislam. Allah berfirman –yang artinya-: “Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan kepada orang-orang muhajirin mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. mereka memperoleh ampunan dan rizki yang mulia”. (terjemahan Al Qur’an surat Al Anfal ayat 74)

Keimanan dan keteguhan mereka benar-benar menakjubkan. Pernahkan kalian mendengar kisah Socrates yang berani bunuh diri minum racun untuk mempertahankan pemikirannya? Dari kalangan para pendahulu kita yang sholih, bahkan ada yang lebih hebat dari itu.

Kisah ‘Ammar bin Yasir, dimana dia, ibunya dan keluarganya didera siksa kafir Quraisy demi mempertahankan manisnya iman di dalam jiwa. Ibunya gugur setelah orang terlaknat menusuk kemaluannya dengan tombak.

Atau…
Khabbab bin Arts disiksa dengan besi panas untuk mempertahankan imannnya.

Atau…
Bilal Bin Rabah bersedia dipanggang dalam panasnya padang pasir dengan batu besar di atas tubuhnya, asalkan iman tidak lepas dari dirinya.

Masih banyak… dan sangat banyak lagi kisah para patriot Islam yang membuat hati terharu, jiwa bergetar, mata terpana dan mulut ternganga. Orang-orang yang masih tersisa akal sehatnya akan sadar, betapa jauh posisinya dibandingkan kemuliaan para salafush sholih . Subhanallah…

Wahai saudaraku yang memimpikan kemuliaan Islam…

Apakah hatimu tidak tergerak untuk mencontoh Rasulullah dan para shahabatnya?
Akankah kau pedulikan bualan orang-orang yang mengatakan bahwa salafus sholih adalah kaum yang konservatif, kolot, kuno, udik, tidak relevan, dan ketinggalan zaman?

Padahal…
Mereka lah yang dicintai Allah dan Rasul-Nya. Mereka lah yang menjadikan tubuhnya sebagai perisai bagi nabinya. Merekalah yang membebaskan tanah suci Palestina. Merekalah yang meruntuhkan kezaliman Persia. Merekalah yang membuka Spanyol dan Afrika Utara. Allah menjayakan Islam melalui tangan-tangan mereka…

Memang sangat tidak pantas mereka dihina dan dicela
Ibnu Abbas radliyallaahu ‘anhumaa berkata –yang artinya-: “Janganlah kalian mencaci maki atau menghina para sahabat Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wa sallam. Sesungguhnya kedudukan salah seorang dari mereka bersama Rasulullah sesaat itu lebih baik dari amal seorang dari kalian selama 40 tahun” (terjemahan hadits riwayat Ibnu Battoh dengan sanad shohih)

Sudahkah engkau mendengar perkataan Ali bin Abi Thalib?
Ia berkata –yang artinya-: “ Tidak ada seorang pun dari kalian yang dapat menyamai mereka (para shahabat). Pada siang hari mereka bergelimang pasir dan debu (di medan perang), sedang di malam hari mereka banyak berdiri ruku’ dan sujud silih berganti, tampak kegesitan dari wajah wajah mereka seolah olah mereka berpijak di bara api. Bila mereka ingat akan hari pembalasan tampak bekas sujud di dahi mereka. Bila mereka berdzikir kepada Allah, berlinang air mata mereka sampai membasahi baju mereka. Mereka condong laksana condongnya pohon dihembus angin yang lembut karena takut akan siksa Allah, serta mereka mengharap pahala dan ganjaran dari Allah”.

Panglima perang yang hebat layaknya Napoleon Bonaparte pun tak bakalan bisa menandingi mereka. Mungkin dia hebat dalam peperangan. Tapi, apakah di malam hari dia masih sempat sujud dan tunduk beribadah di hadapan Tuhannya?

Mereka Orang Yang Cerdas…

Jangan dipikir kalau para pendahulu Islam yg shalih itu adalah orang yang dungu. Akal mereka terbilang hebat dan sangat mengagumkan.

Abu Hurairah mampu menghapal banyak banget hadist dari Rasulullah. Beliau memang termasuk shahabat yang paling banyak meriwayatkan hadist.

Di kalangan wanita ada Ummul Mu’minien ‘Aisyah –ibunda orang-orang yang beriman- yang meriwayatkan begitu banyak hadist. Tentunya ia jauh lebih hebat dibandingkan dengan seorang Marie Currey.

Atau Pedang Allah Khalid bin Walid yang merupakan ahli strategi perang yang lebih tangguh daripada sekedar Napoleon, yang katanya singa daratan eropa. Khalid mampu mengatur kaum muslimin menghadapi 200.000 tentara Romawi cuma dengan 3.000 pasukan di medan Mu’tah.

Mungkin…

ada yang bilang kalau kehebatan mereka cuma pada soal-soal agama. mereka tidak tahu apa itu hukum Newton, tidak ngerti bagaimana itu teori relativitas, tidak menemukan rumus phytagoras de el el

Maka cukuplah firman Allah –yang artinya-: “Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa di antara kamu” (terjemahan Al Qur’an surat Al-Hujurat ayat 13)

Dan tentunya salafush sholih –para pendahulu islam yang sholeh- adalah kelompok yang paling bertaqwa. Mereka itu golongan yang paling baik. Mereka telah membuktikan kepada dunia, bahwa jalan mereka telah sukses dengan gemilang baik di timur maupun di barat. Metode mereka bukanlah angan-angan atau khayalan kosong, tetapi telah mampu mereka wujudkan untuk mengangkat harkat ummat manusia. Mereka memang pantas buat dijadikan teladan.

Maka … masih adakah alasan tidak mengikuti jejak salafush sholih –para shahabat, tabi’in dan tabi’ut-tabi’in-?

(alif).

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *