Ilmu yang Amaliyah dan Amal yang Ilmiyah

Ilmu yang Amaliyah dan Amal yang Ilmiyah

Kalau kita menyadari akan hakekat penciptaan kita, tentu akan sadarlah, betapa hinanya diri kita. ”Bukankah kami menciptakan kamu dari air yang hina”(Al-Mursalat : 20). Sehingga tidaklah pantas bagi kita untuk berlaku sombong dihadapan-Nya.

Allah menceritakan kepada hambanya (jin dan manusia) bahwa tidaklah mereka itu diciptakan kecuali hanya untuk beribadah kepada-Nya. “Tidaklah aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku” (Adz-Dzariyat : 56). Ayat ini cukuplah sebagai dalil yang jelas sebagai petunjuk hakekat keberadaan kita di dunia ini.

Dan dijelaskan oleh ulama bahwa maksud dari beribadah disini adalah agar mereka mentauhidkan, karena perintah Allah yang paling agung adalah tauhid yaitu mengesakan Allah dalam beribadah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan apa itu ibadah, yaitu: “Apa – apa yang dicintai dan diridhoi oleh Allah dari perkataan maupun perbuatan yang bersifat dhohir maupu bathin”.

Sehingga barang siapa melenceng dari kerangka ini, tentulah dia termasuk orang – orang yang rugi. Firman Allah: “Demi masa, sesungguhnya manusia itu dalam kerugian, kecuali orang – orang yang beriman, beramal sholih dan saling nasehat – menasehati dalam kebenaran dan nasehat – menasehati dalam kesabaran”. (Al-‘Ashr : 1-3).

Dan memang Allah mensyaratkan bagi siapapun juga yang ingin meraih keridhoannya dan bertemu dengan-Nya kelak, ia harus bekali dirinya dengan Iman dan amal sholih: “Barang siapa mengharapkan perjumpaan dengan Tuhan-Nya maka hendaknya ia mengerjakan amal sholih dan janganlah ia menyekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Tuhan-Nya”. (Al-Kahfi : 110).

Alhamdulillah pada detik ini Allah masih memberikan kenikmatan bagi kita berupa iman. Ibarat pedagang kita sudah punya cukup modal untuk mengembangkan usaha dagang kita, yaitu berupa amal sholih.

Hubungan Antara Amal Dengan Ilmu

Patut diketahui bahwa amal itu ada dua, yaitu amalan hati (tidak tampak dhohirnya) dan amalan anggota badan (tampak dhohirnya). Amalan hati berhubungan dengan I’tiqod/keimanan seseorang, seperti ikhlas, rasa takut, tawakal, berharap dan sebagainya. Dan amalan anggota badan adalah seperti yang biasa kita lihat seperti sholat, puasa, haji, menyembelih dan sebagainya.

Dalam Al-Qur’an dan As Sunnah, amal sangat berhubungan erat dengan apa yang namanya ilmu. Ilmu tanpa amal menunjukkan ketidaksempurnaan (bagai pohon yang tidak berbuah), bahkan menyebabkan pelakunya tercela.Dan amal tanpa ilmu, akan dapat menyebabkan pelakunya malah semakin tersesat.

Dan ilmu yang dimaksud isimi adalah Ilmu Syar’i, yakni Al-Qur’an dan As-Sunnah. Sabda Rosul: “Aku tinggalkan bagi kalian dua perkara, kalian tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya ! Al Qur’an dan As Sunnah”. (HR. Al Hakim dan Malik dishohihkan oleh Al Bani dalam Shohihul Jami’).

“Barang siapa yang Allah kehendaki baginya kebaikan Allah akan fahamkan dia dalam (ilmu) agama”. (HR. Bukhori dan Muslim)

Berilmu Tapi Tidak Beramal

Islam adalah agama yang indah. Islam bukanlah agama yang hanya berupa kumpulan materi yang bersifat teoritis saja. Yang hari ini dihafal, besok diujikan, atau hari ini dipelajari dan dipahami, besok didebatkan. Namun Islam adalah agama yang aplikatif, ajaran – ajarannya harus diamalkan dalam kesehariannya.

Bahkan Allah mencela bagi sipa yang tahu ilmunya, namun tidak mengamalkannya. “Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaikan, sedang kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca al-kitab (Taurat)? Maka tidakkah kamu berpikir ?” (Al-Baqarah : 44)

Dan keadaan orang – orang seperti ini adalah persis seperti orang Yahudi, yang Allah menyatakan dalam Al-Qur’an surat Al-Fatihah “… Bahkan seperti orang – orang yang engkau murkai …”. Yang dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan bahwa mereka adalah orang yang mengetahui kebenaran (ilmu), namun berpindah darinya (tidak mengamalkan) yajni orang – orang Yahudi.

Dalam hadist disebutkan :”Tidak akan bergeser kedua kaki anak adam hingga ia ditanya tentang empat perkara. Tentang umurnya, bagaimana ia menghabiskannya; tentang ilmunya, apa yang telah dia lakukan dengannya…”.(HR. Ad-Darimi dan Tirmidzi, hasan shohih)

Jadi bagi siapapun diantara kita, yang pada hari ini masih menjadikan Islam ini hanya sebatas teoritis saja, hanya mau membuka Al-Qur’an, hadits Rasulullah dan kitab – kitab para ulama di saat akan membuat makalah, hanya mau ketika akan ujian, hanya mau untuk didebatkan saja, atau pun yang membaca dan mempelajari namun hanya sekedar untuk tahu dan tambah pengetahuan saja, tanpa sedikitpun tergerak hatinya untuk mau mengamalkannya, maka sadarilah itu adalah tanda – tanda keburukan bagi kita.

Abu Bakar Muhammad bin Abdullah bin Aban Al-Haitsi berkata: ”Apabila ilmu itu tidak diamalkan, ia akan menjadi hujjah bagimu dan tidak akan diterima alasan apapun yang akan kamu katakan. Maka jika kamu telah memahami hal ini sesungguhnya yang akan membenarkan tutur kata seseorang adalah apa yang ia kerjakan”. (Al-Khotib Al-Baghdadi dalam Iqtidho’ al-‘ilmu al-‘amal)

Beramal tapi tidak Berilmu

Orang yang beramal tanpa ilmu, keadaannya tidak jauh berbeda dengan orang yang berilmu tapi tidak beramal. Imam Bukhori rahimahullah berkata tentang “Bab Ilmu Sebelum Qoul (Perkataan) dan Amal (Perbuatan)”, beliau berdalil dengan firman Allah : ”Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah” (Muhammad : 19).

Maka hendaknya demikianlah seorang muslim itu harus bersikap. Dia tidak akan berkata atau berbuat yang dia tidak punya ilmu atasnya. Dalam masalah dunia saja bisa fatal akibatnya, apalagi ini masalah agama/akhirat, yang ujung – ujungnya adalah kalau tidak benar … ya sesat, kalau tidak surga atau neraka (ngeri kan, makanya jangan main-main).

Allah berfirman: “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mengetahui pengetahuan tentangnya sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati semuanya itu akan dimintai pertanggung jawabannya”. (Al-Isro’ : 17).

Dan masalah agama adalah masalah ibadah, yang sifatnya tauqifiyah (berdasarkan petunjuk wahyu, yakni Al-Qur’an dan As Sunnah). Maka barang siapa yang mengerjakan suatu amal yang dia sangka itu sebagai ibadah, padahal itu bukanlah ibadah (karena tidak ada dalilnya) maka ibadah nya tertolak, bahkan ia mendapat dosa (karena ia berbuat bid’ah). Misalnya orang mengerjakan sholat shubuh 4 roka’at, meskipun ketika mengerjakannya ikhlasnya bukan main, tetep aja sholatnya tadi tidak diterima. Karena dia tidak memenuhi syarat diterimanya amal yang kedua, yakni mutaba’ah (sesuai dengan yang dicontohkan oleh Rosulullah), dan memang tidak ada dalil yang menyebutkan sholat shubuh itu 4 reka’at, yang ada hanya 2 reka’at.

Rosulullah bersabda: “Barang siapa mengada – adakan satu perkara baru dalam urusan agama yang bukan atas perintah kami, maka ia tertolak” (HR. Bukhori dan Muslim)

Dan musibah besar yang terjadi pada umat ini adalah keadaan seperti ini. Banyak diantara saudara yang terperosok dalam lubang kesyirikan, kebid’ahan dan kemaksiatan dikarenakan tidak/kurang nya ilmu pada mereka.

Dan diantara yang menjadi penyebab tidak/kurangnya ilmu pada mereka antara lain adalah:

1. Adanya sifat malas.
Mereka enggan untuk membaca Al Qur’an, hadits dan kitab – kitab para ulama; dan merasa berat untuk menghadiri maljelis – majelis ilmu. Padahal sebenarnya mereka memiliki banyak waktu luang dan sarana prasarananya. Kalau saja mereka mau meluangkan waktunya barang sebentar saja, tentulah mereka akan mendapatkan kebaikan yang banyak.

2. Terlalu disibukkan oleh dunianya.
Dari pagi sampai malam tiap harinya, waktunya banyak dihabiskan oleh hal – hal sifatnya duniawi, sehingga tidak sempat lagi bagi dia untuk memikirkan urusan akhiratnya. Baginya, agama hanyalah sebatas ritual saja, yang diketahuinya agama hanyalah mengucapkan syahadat, terus sholat, puasa, zakat dan haji.

3. Taqlid
Penyakit ini sama persis seperti yang terjadi pada orang musyrik jaman dahulu. Firman Allah: “Dan apabila dikatakan kepada mereka ‘ikutilah kepada apa yang telah diturunkan oleh Allah’, mereka menjawab :’(tidak), tetapi kami mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami’,’(apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun dan tidak mendapat petunjuk”. (Al Baqarah : 120).

Dan kalau ada orang yang punya sifat seperti ini, sulit bagi dia untuk mendapatkan ilmu yang shahih, karena ilmu yang dia miliki tidak dibangun diatas hujjah (Al Qur’an dan As Sunnah). Ilmunya hanya dibangun atas : kata orang ……. Katanya orang (hanya ikut-ikutan)

Sehingga kesimpulan dari tulisan ini adalah hendaknya kita menjadi orang-orang yang berilmu dan beramal sekaligus. Dan ilmu ini haruslah dibangun diatas hujjah / bashiroh, yakni tahu akan dalil yang melandasinya. Sehingga hal ini akan menimalkan kita terjatuh ke dalam kesalahan dan kesesatan. Wallaahu a’lam.

(alif)

.

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *