IDENTITAS REMAJA dan PEMUDA SEPANJANG MASA

IDENTITAS REMAJA dan PEMUDA SEPANJANG MASA

remaja

Bagaimana gambaran remaja dan pemuda kita hari ini? Pake kaos agak ketat plus celana bluejeans disobek pas lututnya, telinga beranting-anting, atau bibir beranting ala vokalis Linkin Park, plus dengan rambut warna-warni. Itu yang pria, bagaimana dengan yang wanita? Pakaian ketat you can see, celana pendek nggak sampai lutut kayak Lara Croft ketika beraksi, tambah asesoris pengundang perhatian.

Kegiatannya pun macam-macam: keluyuran di mal dan cafe, kebut-kebutan, main pylox di tembok kota. Yang udah parah tentu nambah dengan nge-drink, drugs, dan…hiii….ngeseks. Tentu saja, tambah satu kegiatan wajib: bikin pusing orang tua.

Ugh..begitu burukkah dunia remaja dan pemuda kita? Lalu di mana remaja dan pemuda muslim saat ini? Apakah mereka juga termasuk yang seperti tersebut di atas? Semoga saja tidak. Masalahnya lagi, ada remaja dan pemuda muslim yang tidak mau jadi ‘muslim-muslim banget’. Lho, kenapa? “Aktifis remaja dan pemuda muslim orangnya kaku-kaku dan kasar dan aku tidak mau jadi seperti mereka!”

Memang sih, masih ada pandangan bahwa aktifis remaja dan pemuda muslim orangnya mahal senyum, kasar, sukanya berdebat, cuek dengan teman, sosialisasinya kurang, dan seabrek gelar lain yang tidak enak didengar telinga. Wah, kalo remaja muslim seperti ini payah juga.

Trus, gimana dong? Begini salah begitu salah?.

Seharusnya
Remaja dan Pemuda Muslim yang ideal adalah remaja dan pemuda yang segala sisi kepribadiannya sesuai dengan kacamata Islam. Kacamata ini wajib dipakai sebagai tolok ukur karena cara pandang Islami merupakan wahyu dari Allah Subhaanahu wa ta’ala yang tidak diragukan lagi kebenarannya. Sedangkan pandangan orang per orang adalah cara pandang manusiawi yang kadang benar dan kadang salah. Jadi?

Ada beberapa hal yang harus ada pada diri seorang remaja dan pemuda muslim jika ingin selamat dari dunia yang makin kejam ini dan dari neraka yang lebih kejam di akhirat nanti. Simak aja!

Aqidah yang Benar
Aqidah merupakan keyakinan yang menjadi tambatan hati seseorang. Kita lebih sering menyebutnya dengan keimanan. Aqidah yang benar adalah aqidah yang sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam dengan pemahaman generasi awal Islam. Dalam bangunan Islam, aqidah ini merupakan pondasinya. Bangunan sebagus apa pun jika pondasinya tidak kokoh lambat laun akan runtuh. Sebanyak apa pun ibadah seorang muslim dan sebaik apa pun akhlaknya kalau aqidahnya menyimpang, tetap saja ia akan merugi. Amalannya akan beterbangan seperti debu di akhirat nanti. Sebagaimana orang non muslim. Lihatlah, betapa banyak orang non muslim yang gemar beramal baik, namun jika mereka nanti mati dalam keyakinannya, tetap saja amalnya tak berguna, tetap saja mereka masuk neraka.

Akhlak Mulia
Akhlak mulia ini mempunyai pengertian yang luas. Akhlak kepada Allah adalah mengesakanNya dalam segala hakNya, akhlak kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah senantiasa menjadikan beliau sebagai teladan dalam setiap segi kehidupan, akhlak kepada ortu adalah terus berbakti kepada keduanya, akhlak kepada teman adalah menunaikan hak-hak mereka sebagai saudara muslim, dan sebagainya.

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, yang artinya,
“ Kaum mukminin yang paling sempurna keimannya adalah yang paling bagus akhlaknya. “ (HR Abu Dawud dan Tirmidzi)
Termasuk dalam berakhlak mulia ini adalah memperhatikan adab-adab keseharian yang Islami seperti adab tidur, adab makan, adab berpakaian, dan sebagainya.

Nah, kalo ada kasus aktifis muslim tapi ribut melulu dengan ortu, tidak baik dengan teman, yang salah bukan Islamnya, tapi oknum tersebut yang mungkin belum maksimal usahanya dalam berakhlak baik. Karena itu, mari perbaiki diri kita !

Ibadah yang Sesuai Syari’at
Ibadah seperti ini adalah ibadah yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Jangan sampai kita melakukan ibadah yang tidak jelas aturan dan tuntunannya.

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya,
“ Barangsiapa yang beramal dengan amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka amalan itu tertolak. “ (HR Muslim)

Logikanya, kalau ingin amalan kita diterima, ya ibadah kita harus sesuai dengan yang diperintahkan oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Hati-hati saja, sekarang ini banyak sekali ritual umat Islam yang tidak dituntunkan oleh Rasulullah namun sudah terlanjur dianggap sebagai ibadah.

Mau Berdakwah
Berdakwah? Wah, sulit, harus bisa pidato, dong !
Nggak juga. Berdakwah bisa dilakukan dengan segala cara. Mulai dari jadi khatib sholat Ied, menulis di media Islam, mengajar di TPA, sampai ‘cuma’ berkata kepada teman saat istirahat kedua, “ Yuk, sholat dhuhur dulu,”. Berpenampilan Islami dalam kegiatan sehari-hari seperti makan dengan adab Islami, berpakaian Islami bisa merupakan bentuk dakwah juga. Tidak susah, kan ?

Seorang muslim jika sudah mempunyai ilmu dan sudah mengamalkan ilmu tersebut, maka ia mempunyai kewajiban untuk mendakwahkannya. Seorang mukmin yang sempurna imannya tentu sangat ingin agar saudaranya juga mendapatkan nikmat hidayah seperti drinya. Makanya, dakwah Islam didasarkan atas cinta kasih seorang muslim kepada saudaranya. Hanya saja dakwah ini memang harus disesuaikan dengan ilmu yang telah kita miliki dan kemampuan yang kita punyai. Kalau melebihi apa yang kita punya, maka hanya akan memberatkan diri kita.

Itulah kisi-kisi penting remaja muslim. Memang tidak selamanya seorang muslim itu bisa begitu sempurna. Namanya saja manusia yang udah distatementkan oleh Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam sebagai tempat salah dan lupa. Namun, toh, semuanya harus berusaha, kan ?

Kalo setiap remaja dan pemuda muslim bisa berusaha mewujudkan hal-hal di atas pada dirinya, kehidupan remaja dan pemuda akan lebih terasa tenteram. Nggak akan ada ortu stres mikirin anaknya, kerja polisi lebih ringan, remaja dan pemuda tidak akan dipojokkan sebagai biang kemalasan, kerusuhan, dan kejahatan.

Apalagi remaja dan pemuda punya gelar mulia sebagai generasi penerus bangsa. Jika kerjanya hura-hura doang, besok ketika harus menerima tongkat estafet bisa-bisa tidak mampu. Percaya deh, seorang remaja dan pemuda muslim yang berusaha mewujudkan keempat hal di atas cepat atau lambat akan menjadi pribadi yang tangguh menghadapi kehidupan dan akan menuai kemenangan.

Siap menjadi remaja dan pemuda Islam?

alif #1

.

Share this post

Comment (1)

  • hiyoshi

    artikel bermanfaat, terus update ya…
    ^_^

    February 4, 2013 at 10:30 am

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *