Fir’aun-Fir’aun Gaya Baru

Fir’aun-Fir’aun Gaya Baru

Bukankah kisah Fir’aun sudah kalian kenal? Supaya generasi muda Islam tambah ngerti kesesatan model Fir’aun, kita akan sedikit membahasnya disini. Kesesatan tipe ini tak henti-hentinya selalu dihembus-hembuskan oleh musuh-musuh Islam. Dengan mengetahui kesesatan model Fir’aun ini, kita dapat mengambil langkah antisipasi. Semoga Allah membimbing kepada jalan yang lurus sebagaimana jalannya para pendahulu yang sholih.

Oke, kita tengok sebentar zaman baheula tempoe doeloe, tatkala seorang nabi yang mulia bernama Musa ‘alaihis salam berda’wah kepada kaumnya untuk bertauhid. Allah ‘Azza wa Jalla mengisahkan–yang artinya-: “Dan sesungguhnya telah Kami utus Musa dengan membawa ayat-ayat Kami dan keterangan yang nyata, kepada Fir’aun, Haman , dan Qarun, maka mereka berkata, ‘(Ia) adalah seorang ahli sihir yang pendusta’.” (terjemahan Al Qur’an surat Al Mu’min ayat 23-24). Lihatlah betapa beraninya fir’aun menolak seruan nabi Musa. Nggak cuma berhenti di situ saja, mulut Fir’aun yang kotor telah lancang menjuluki seorang nabi yang mulia Saahirun Kadzdzaab (tukang sihir pendusta).

Dan bukan itu saja. Cobalah simak Al Qur’an surat An Naazi’aat ayat 15-26. Dengan keangkuhannya Fir’aun berkata –yang artinya-: “…akulah tuhan kalian yang paling tinggi.” Bukan saja menolak beriman kepada Tuhannya Musa, ia bahkan mengangkat dirinya sebagai tuhan.

Ia juga menuduh beliau akan berbuat kerusakan di muka bumi. Fir’aun berkata –yang artinya-: “Biarkanlah aku membunuh Musa dan hendaklah ia memohon kepada Tuhannya, karena sesungguhnya aku khawatir dia akan menukar agamamu atau menimbulkan kerusakan di muka bumi” (terjemahan Al Qur’an surat Al Mu’min ayat 26)

Ya… itulah Fir’aun yang mendustakan Tuhannya Musa. Nah… ternyata kesesatan model beginian juga bermunculan pada masa sesudahnya.

Hati-Hati dengan Mulhidiin

Di zaman sekarang ini, sikap pengingkaran kepada Tuhan tetap eksis. Mereka disebut Mulhidiin atau orang-orang atheis. Mereka menyangka bahwa Tuhan adalah hasil rekayasa pemikiran manusia. Na’udzubillaahi min dzaalik…. Mereka juga menyebut agama sebagai “candu masyarakat”, kalau bahasa sekarang ya… “narkoba masyarakat”. Mau tahu siapa pentolan-pentolannya? Mereka adalah orang-orang komunis (syuyu’iyuun) penganut sosialis (itstirakiyah) semacam Karl Marx dan konco-konconya. Pernah dengar keganasan partai komunis indonesia? Kamu pasti ingat sepak terjang mereka. Asal nggak sejalan dengan pemikiran mereka, langsung main sikat. Nah, itulah salah satu contoh nyata betapa berbahayanya paham anti-Tuhan ini. Pokoknya ngeri banget, deh…!!!

Pada waktu sekarang ini, mereka yang menamakan dirinya gerakan beraliran islam kiri perlu diwaspadai. Mengapa? Soalnya mereka merasa tidak cukup dengan islam yang di bawa oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa salam. Islam tidak dipahami dengan pemahamannya para shahabat, tetapi diotak-atik dan dikombinasi. Mereka masih menggunakan dasar pemikiran Karl Marx dalam rangka membela rakyat. Seolah-olah agama ini adalah mobil yang bisa dicopot disini-ditambah disana dan mereka bengkelnya.

Padahal Allah berfirman –yang artinya-: “Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kalian agama kalian dan telah Ku-cukupkan ni’mat-Ku bagi kalian dan telah Ku-ridloi Islam menjadi agama bagi kalian” (Terjemahan Al Qur’an surat Al Maa’idah ayat 3).

Jelas, khan… kalau Islam tu sudah sempurna! Nggak perlu ditambah embel macem-macem. Islam pun sudah terbukti membela ummat. Tercatat dalam sejarah bagaimana generasi Islam menjungkirkan kecongkakan bangsawan Quraisy, penjajahan Romawi dan kedzaliman Persia dengan cara yang sangat bagus.

Semua Insan Mengakui…

Semua manusia mengakui adanya Tuhan. termasuk orang-orang musyrik di zaman Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa salam. Allah ‘Azza wa Jalla mengisahkan –yang artinya-: “Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka, ‘siapakah Yang Menciptakan langit dan bumi?’ Tentu mereka akan menjawab; ‘Allah’” (terjemahan Al Qur’an surat Luqman ayat 25)

Soal fir’aun, meski sikap lahiriahnya menunjukkan dia mengingkari keberadaan Tuhannya Musa, akan tetapi batinnya membenarkan. Sebagaimana firman Allah –yang artinya-: “Musa menjawab; ‘Sesungguhnya kamu telah mengetahui bahwa tiada yang menurunkan mu’jizat-mu’jizat itu kecuali Tuhan Yang Memelihara langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata, dan sesungguhnya aku mengira kamu hai fir’aun, seorang yang akan binasa’.” (terjemahan Al Qur’an surat Al Isra’ ayat 102)

Lha… kenapa fir’aun dan konco-konconya mengingkari adanya Tuhan? Allah mejawab dengan firman-Nya yang mulia –yang artinya-: “Dan mereka mengingkarinya karena kezhaliman dan kesombongan (mereka), padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya” (terjemahan Al Qur’an surat An Naml ayat 14)

Tuhan Tidak Ada? Nggak Masuk Akal!!!

Bila kamu menjumpai sebuah kertas yang bertuliskan huruf-huruf, secara langsung pasti kamu berpendapat; “Kertas itu ada yang menulisnya!!!” Atau, jika kamu memukul seorang anak kecil sampai benjol, kemudian kamu bilang padanya; “ Nggak ada tuh yang memukul kamu.” Anak kecil itu pasti nggak bakalan percaya.

Maka, akal yang masih lurus akan meyakini alam semesta ini ada yang menciptakannya. Manusia pasti ada yang menciptakannya. Langit dan bumi pasti ada yang menciptakannya. Pasti…!!!

Suatu ketika , Jubair bin Muth’im mendengar Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa salam membaca surat Ath Thur. Beliau membaca sampai pada ayat berikut:
“Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu? Sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan). Apakah di sisi mereka ada perbendaharaan Rabbmu ataukah mereka yang berkuasa?” (At Thur ayat 35-37)

Pada saat itu Jubair bin Muth’im seorang musyrik. Tetapi mendengar ayat yang dibaca oleh Rasulullah tersebut, ia berkata: “Hampir saja hatiku terbang kegirangan. Itulah pertama kalinya iman bersemayam di hatiku” (terjemahan hadits riwayat Bukhary)

Bukankah jejak telapak keledai menunjukkan adanya keledai? Bukankah anak unta menunjukkan adanya unta? Bukankah adanya alam semesta menunjukkan adanya Yang Maha Pencipta? Siapapun akan membenarkannya, kecuali akalnya orang-orang gila.

Teraturnya Alam Semesta

Dikisahkan bahwa sekelompok orang atheis bertemu dengan Abu Hanifah. Terjadilah dialog.
Kaum Atheis : Apakah bukti tentang adanya Pencipta?
Abu Hanifah : Ketahuilah bahwa aku sedang memikirkan peristiwa yang aneh
Kaum Atheis : Apa itu?
Abu Hanifah : Aku telah mendengar bahwa di Dajlah terdapat sebuah kapal besar yang sarat dengan penumpang dan barang-barang. Anehnya, kapal itu berlayar tanpa nahkoda
Kaum Atheis : Apakah engkau gila , Abu Hanifah ? Kapal macam apa yang engkau ceritakan itu? Sungguh hal ini tidak masuk akal dan tidak dapat diterima oleh akal sehat.
Abu Hanifah : Sekarang bagaimana kalian bisa tidak meyakini bahwa alam dan segala isinya serta kejadian-kejadiannya –seperti bintang bergerak pada orbitnya- ada yang membuat dan menggerakkan? Mengapa kalian tidak percaya adanya Pencipta yang menggerakkan semua itu?
Mendengar jawaban sekaligus pertanyaan balik dari Abu Hanifah, mereka terdiam.

Yaa… begitulah. Bagaimana alam semesta ini bisa teratur dan tidak goncang? Yakin deh… ada Dzat Yang Mengaturnya.

Doanya terkabul

Berjuta-juta orang memohon kepada Dzat Yang Maha Kuasa dan banyak banget yang doanya dikabulkan. Salah satunya diceritakan oleh Anas seorang shahabat Rasulullah. Anas menceritakan bahwa pada suatu hari (jum’at) seorang laki-laki memasuki masjid. Ketika Rasulullaah shalallaahu ‘alaihi wa salam sedang membaca khotbahnya, laki-laki itu berkata –yang artinya-: “Ya Rasulullaah mohonlah doa agar Allah menurunkan hujan untuk kita.” Mendengar ini Rasulullaah shalallaahu ‘alaihi wa salam mengangkat kedua tangannya dan berdoa –yang artinya-: Ya Allah berilah kami hujan, ya Allah berilah kami hujan, ya Allah berilah kami hujan.” Setelah shalat jum’at, kata Anas –yang artinya-: “kami melihat awan tebal di langit dan tidak lama kemudian turunlah hujan dengan deras. Pada jum’at berikutnya laki-laki itu datang lagi, dan ketika Rasulullaah membacakan khotbahnya, ia berkata –yang artinya-: “Ya Rasulullaah, harta benda kami habis dan tanaman kami rusak karena hujan, jalan-jalan terputus, mohonlah kepada Allah agar menghentikan turunnya hujan.” Lalu Rasulullaah berdoa lagi –yang artinya-: “Ya Allah turunkanlah hujan di lingkungan yang jauh dan bukan di tempat kami. Ya Allah turunkanlah di padang sahara, lembah dan lahan-lahan tanaman.” Menurut Anas -artinya-: “Setelah shalat jum’at, kami melihat langit begitu cerah tidak seperti ketika jum’at lalu.” (dari hadits riwayat Bukhary)

Siapakah yang mengabulkan doa tersebut selain Penguasa Alam Semesta? Apakah terkabulnya orang yang berdoa kebetulan semata? Lalu mengapa kebetulan berulang banyak sekali? Pasti… pasti ada Dzat Yang Mengatur terkabulnya doa tersebut!

Mu’jizat Para Nabi, Tanda Adanya Ilahi

Adanya mu’jizat para nabi merupakan tanda keberadaan Tuhan Yang Maha Kuasa. Dia memberi bukti dengan memberikan tanda “yang luar biasa” melalui para utusan-Nya. Contohnya adalah Al Qur’an, mu’jizat indah sepanjang masa. Allah berfirman –yang artinya-: “Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Qur’an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar” (terjemahan Al Qur’an surat Al Baqarah ayat 23)

Kebetulan Semata???

Mungkin ada yang berkilah: “Alam ini kebetulan saja terjadi”. Waduhh… pendapat ini sih sudah klasik. Misalkan kalau kita memasukkan huruf-huruf ke dalam kotak lalu dikocok, nggak mungkin deh bakal tersusun syair yang indah, meskipun mengocoknya ratusan kali. Nggak mungkin juga angin topan mampu menyusun tumpukan besi menjadi sebuah pesawat terbang. Maka bila ada yang meyakini alam semesta seindah ini terjadi secara kebetulan, akalnya perlu dipertanyakan. Alam semesta ini nggak mungkin terjadi secara kebetulan, kecuali kalau ada dua bus bertabrakan berubah jadi sebuah bus tingkat.

Ancaman Bagi Fir’aun dan Pengikutnya

Fir’aun dan konco-konconya telah jelas penyimpangannya. Maka patut bagi kita setiap orang yang ingin memperoleh kebahagiaan dunia-akhirat berhati-hati. Biar kita nggak terpelanting dalam kesesatan dan kecelakaan.

“…dan Fir’aun beserta kaumnya dikepung oleh adzab yang amat buruk. Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang dan pada hari terjadinya Kiamat (dikatakan kepada malaikat): ‘Masukkan Fir’aun dan kaumnya ke dalam adzab yang sangat keras’” (terjemaham Al Qur’an surat Al Mu’min ayat 45-46)

Berjalanlah diatas jalannya Rasulullah dan para shahabatnya. Jadikan mereka sebagai orientasi dalam meniti kehidupan. Hati-hati terhadap kelompok yang menyimpang dari jejak mereka, termasuk di antaranya atheis dan komunis. Semoga Allah memberi keselamatan kepada kita.

(alif).

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *