Fenomena Kesyirikan di Negri Tercinta

Fenomena Kesyirikan di Negri Tercinta

Allah Subhanahu wa ta’alamenciptakan manusia untuk beribadah kepadaNya. Oleh karena itu, Allah menurunkan Al-Qur’an sebagai bentuk petunjuk dalam beribadah kepadaNya.

Segala bentuk ibadah yang Allah perintahkan sudah termaktub dalam Al-Qur’an maupun Al-Hadits seluruhnya.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

“Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam”(Q.S. Al-An’am 162)

Demikianlah Allah menjelaskan hakikat ibadah. Ibadah yang dilakukan hendaknya ditujukan hanya kepada Allah semata. Dan barangsiapa yang memalingkan ibadah kepada selain Allah, maka ia telah berbuat kesyirikan.

Kesyirikan adalah kedzaliman yang besar dan dapat mengeluarkan pelakunya dari islam. Diantara pembatal-pembatal keislaman yang disebutkan para ulama pertamakali dalam buku-buku mereka adalah kesyirikan.

Imam Adz-dzahabi pun dalam kitabnya “Al-Kabair” menyebutkan kesyirikan dalam urutan pertama dosa-dosa besar. Maka dari itu, tidak adadosa yang paling besar selain syirik kepada Allah Azza wa Jalla.
Kesyirikan memiliki beragam bentuk. Diantara bentuk kesyirikan, terkhusus di negri iniadalah apa yang sering disebut “sesajen” kepada makhluk yang dianggap menguasai wilayah tertentu. Contohnya Nyilorokidul yang menguasai laut selatan, Gunduruwo yang menguasai pohon tertentu. Mereka memberikan sesajen kepada makhluk tersebut dalam rangka terhindar dari marabahaya/kutukan darinya.

Padahal Allah menyebutkan dalam Al-Qur’an bahwasannya hanya Allah lah yang dapat memberi manfa’at dan mudharat. Sudah tentu ini adalah kategori perbuatan syirik. Maka apakah kita pantas berbuat syirik, padahal Allah lah yang telah menciptakan, memberi rizki, memudahkan segala urusan kita?. Inilah hebatnya tipu daya syaitan dalam menyesatkan manusia.

Diantara bentuk kesyirikan di negri ini adalah “pesugihan” yang dilakukan oleh orang-orang yang ingin mendapatkan kekayaan atau mempertahankanya. Bentuk kesyirikan ini bisa timbul karena kurangnya iman kepada Allah Ar-Razzaq, dan kurangnya tawakkal kepadaNya. Padahal kita tidak perlu khawatir dengan rizqi, karena sesungguhnya Allah lah yang memiliki bumi ini dan segala isinya, Ia lah yang Maha Kaya.

Fenomena kesyirikan selanjutnya adalah berlebih-lebihan terhadap orang-orang shalih. Sehingga banyak diantara kita yang ramai-ramai memakmurkan kuburan orang-orang yang dianggap “wali”. Padahal memakmurkan masjid itu lebih wajib bagi kita. Lagi pulagelar wali hanya Allah yang tahu. Allah menjelasakan bahwa hanya hamba-hambaNya yang beriman dan bertakwalah yang berhak disebut wali.

Apakah kita tahu kadar keimanan dan ketakwaan seseorang?. Tidak ada yang tahu kecuali Allah subhaanahu wa ta’ala. Seandainya pun benar mereka adalah wali, maka Rasulullah pun melarang menjadikan kuburan-kuburan menjadi masjid.

Sesungguhnya hidayah itu sangatlah mahal, tidak ada yang Allah beri hidayah kecuali hamba-hambaNya yang terpilih. Betapa banyak orang yang telah sekian tahun dalam kesesatan, namun meninggal dalam keadaan bertaubat. Betapa banyak pula orang yang telah sekian tahun dalam ketaatan, namun meninggal dalam keadaan bermaksiat.

Tugas kita hanyalah selalu memohon taufiq dan hidayah dari Allah subhaanahu wa ta’alas serta ikhlas dan ittibaa’ dalam melakukan ketaatan kepadaNya. Mudah-mudahan kita termasuk hamba-hambanya yang diberi hidayah.

created by :

Jatmiko

Mahasiswa Teknik Mesin UGM

.

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *