Eh … Saya malu lho

Eh … Saya malu lho

“Sesungguhnya diantara ucapan kenabian terdahulu yang didapat oleh manusia (dari generasi ke generasi-red) adalah: ‘jika engkau tidak merasa malu maka perbuatlah apa yang engkau inginkan’ “. (terjemahan hadits riwayat Bukhari)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menyatakan bahwa ucapan kenabian yang terdahulu yang kemudian secara terus menerus didengar dari generasi ke generasi adalah “bila engkau tidak merasa malu maka perbuatlah apa yang engkau inginkan”.

Dan maknanya adalah ketika sifat malu sudah hilang dari seseorang, maka ia akan berbuat apa saja semaunya, terutama perbuatan-perbuatan buruk lagi tercela.

Namun yang perlu diperhatikan, apabila hal itu merupakan perbuatan baik -perintah agama- maka perasaan malu ini malah harus dibuang jauh-jauh, dengan tetap menjaga keikhlasan

Sifat malu ada dua macam:

Pertama, sifat malu bawaan yang tidak didapat melalui proses; ini merupakan akhlaq yang paling mulia yang Allah karuniakan kepada hambaNya, oleh karena itu dalam sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dikatakan : “sifat malu tidak membawa selain kebaikan” sebab ia akan mencegah orang yang memiliki sifat malu tersebut melakukan perbuatan yang buruk dan hina, serta mendorongnya berakhlaq mulia. Sifat ini merupakan bagian dari iman bila diterapkan dalam diri seseorang. Demikian Al-Jarrah bin ‘Abdullah al-Hikami, salah seorang pahlawan penunggang kuda dari Ahli Syam, berkata: “aku tinggalkan dosa-dosa karena malu, selama empat puluh tahun; ternyata aku dapati dikemudian hari sifat wara’ (sifat sangat menjaga diri dari perbuatan tercela)”.

Kedua, sifat malu yang didapat melalui proses ma’rifatullah (mengenal Allah), mengenal keagunganNya, kedekatanNya dengan hamba-hambaNya, pengawasanNya terhadap perbuatan mereka serta ilmuNya terhadap apa saja yang tersembunyi di hati manusia. Ini merupakan bagian keimanan yang paling tinggi, bahkan merupakan tingkatan ihsan paling tinggi, seperti dalam sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam kepada seorang laki-laki : “berlaku malu lah engkau kepada Allah sebagaimana engkau malu kepada salah seorang keluargamu yang paling shalih”.

Diantara keutamaan sifat malu adalah:

1. Sifat malu adalah sifat yang dicintai oleh Allah; sebagaimana dalam hadits yang dikeluarkan oleh Imam Ahmad, an-Nasai dari hadits al-Asyajj al-‘Ashri, dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadaku : “Sesungguhnya engkau memiliki dua sifat yang dicintai oleh Allah”. Aku bertanya kepada beliau: ‘apa itu?’. Beliau bersabda :”sifat lemah lembut (al-Hilm) dan sifat malu”. Aku bertanya lagi: ‘sifat yang sudah lama (melekat padaku) atau yang baru?’. Beliau menjawab dengan sabdanya: “bahkan yang sudah lama”. Aku berkata (pada diriku): ‘alhamdulillah Yang telah menganugerahkan kepadaku dua sifat yang dicintai oleh Allah’.

2. Sifat malu merupakan bagian dari iman; sebagaimana dalam hadits yang shahih dari Ibnu ‘Umar radhiallâhu ‘anhuma bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam lewat di depan seorang laki-laki yang mencerca saudaranya yang memiliki sifat malu, dia (orang tersebut) berkata: “sesungguhnya engkau ini amat pemalu”, seakan dia mengatakan (ungkapan ini berasal dari perawi hadits-red);”..ia (sifat malu tersebut) telah membahayakan dirimu”. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “biarkanlah dia! Karena sesungguhnya sifat malu itu adalah sebagian dari iman”. (H.R.Bukhari, Muslim) Dan dalam hadits yang lain dikatakan : “sifat malu adalah cabang dari iman”. (H.R. Bukhari, Muslim).

3. Sifat malu hanya membawa kebaikan; sebagaimana dalam hadits ‘Imran bin Hushain dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam : “Sifat malu tidak membawa selain kebaikan”. (H.R.Bukhari dan Muslim).

Karakteristik Sifat Malu

Hal ini seperti digambarkan dalam hadits Ibnu Mas’ud :
” Malu kepada Allah adalah bahwa engkau menjaga kepala dan apa yang disadari / ditangkapnya, (menjaga) perut dan apa yang dikandungnya, mengingat mati dan musibah (yang akan menimpa); barangsiapa yang menginginkan akhirat maka hendaklah dia meninggalkan gemerlap dunia. Maka siapa yang melakukan hal itu, berarti dia telah berlaku malu kepada Allah”. (Dikeluarkan oleh Imam Ahmad, at-Turmuzi secara marfu’).

Dampak Sifat Malu

Sifat malu kepada Allah melahirkan tindakan untuk selalu memonitor semua nikmatNya dan melihat keterbatasan dan ketimpangan-ketimpangan dalam mensyukurinya. Bila seorang hamba telah dicabut sifat malu dari dirinya baik sifat malu bawaan atau pun yang didapat melalui proses maka dia tidak lagi memiliki filter untuk melakukan perbuatan yang jelek-jelek dan akhlaq yang rendah dan hina; lantas kemudian jadilah dia seakan-akan tidak memiliki iman sama sekali.

Seperti yang diungkapkan oleh ‘Imran bin Hushain radhiallâhu ‘anhu bahwa sifat malu yang dipuji dalam sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah akhlaq yang memberikan sugesti untuk melakukan perbuatan yang baik dan meninggalkan yang jelek, sedangkan kelemahan dan ketidakmampuan yang berimbas kepada keterbatasan dalam melakukan hak-hak Allah dan hak hamba-hambaNya maka hal ini tidaklah dinamakan sifat malu tersebut akan tetapi hal itu adalah kelemahan, ketidakmampuan, dan kehinaan semata.

Kesimpulan

Diantara ungkapan yang populer sejak kenabian terdahulu dari abad ke abad adalah : “jika engkau tidak merasa malu maka perbuatlah apa yang engkau inginkan”.

Sifat malu ada dua macam: sifat bawaan dan sifat yang didapat setelah melalui proses. Sifat malu merupakan bagian atau cabang dari iman. Orang yang tidak memiliki sifat malu sama sekali maka dia tidak akan memiliki filter diri dan akan selalu melakukan prilaku yang jelek dan hina.

Namun tidak berarti dengan alasan malu, kemudian meninggalkan kebaikan (bahkan kewajiban) yang seharusnya ia kerjakan. Seperti : “wah saya malu sholat di masjid, nanti dibilang sok alim”. Atau malu memakai jilbab (hijab syar’i), malu membaca Al Qur’an, malu menghadiri pengajian, dan seabrek alasan malu yang nggak mutu lainnya.

(alif).

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *