Dunia Lain

Dunia Lain

Saat ini, marak sekali tayangan televisi yang berisi hal-hal yang bersifat mistis. Dan ternyata tayangan-tayangan seperti ini banyak sekali diminati oleh masyarakat kita. Disamping memang karena acaranya dikemas dengan menarik, cerita-cerita yang berbau mistis ini sudah cukup familier dikalangan masyarakat kita.

Ironisnya tidak sedikit diantara tayangan-tayangan itu yang berisi tentang hal-hal yang menyesatkan dan dapat merusak pemahaman keislaman seseorang. Sedang disisi lain, keadaan masyarakat kita saat ini, mayoritas di antaranya masih lemah dalam sisi aqidahnya dan rendahnya pemahaman mereka terhadap pemahaman Islam yang shohih. Tentu ini adalah perkara yang sangat membahayakan.

 

Dan pada edisi kali ini kita akan membicarakan masalah-masalah yang berkaitan dengan hal tersebut, dengan harapan semoga dapat menjadi bekal bagi kita supaya kita tidak terjatuh dalam kesalahan.

 

Masalah Ghaib.

Ar-Raghib Al-Asfahany mendefinisikan tentang apa itu ghaib, yakni apa saja yang lepas dari (jangkauan) indra dan pengetahuan manusia.

Sedangkan Al Bafi berkata: ”Ghaib adalah apa yang tidak ada dan apa yang tidak tampak oleh manusia”.

Dan masalah yang ghaib ini adalah kekhususan bagi Allah semata, tidak ada yang mengetahuinya selain Allah, Allah berfirman: “Dan pada sisi Allahlah kunci-kunci semua yang ghaib, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang ada di daratan dan di lautan dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula) dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (lauhul mahfudh)”.(QS An An’am: 59)

Sehingga salah satu pokok dari keimanan seorang muslim adalah kita tidak akan mengimani mempercayai sesuatu yang ghoib, kecuali sesuatu yang Allah sendiri telah mengabarkan tentang masalah tersebut,- seperti tentang adanya malaikat, adzab kubur, dsb-, atau lewat orang yang memang Allah telah kabarkan kepadanya, yakni para Rasul- Nya. Sebagaimana Allah berfirman: “(Dia adalah Tuhan) yang mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghoib itu, kecuali kepada Rosul yang diridhai-Nya“ (QS Al-Jin: 26-27).

 

Siapa itu Jin ?

“Al-jaan” adalah ayah seluruh jin. Ia adalah makhluk Allah yang diciptakan dari api. Dan ia diciptakan sebelum manusia. Sebagaiman firman Allah: “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas“. (QS Al Hijr 26-27).

Dinamakan dengan “jin” karena memang sifatnya yang ijtinan yakni tersembunyi dan tidak tampak bagi manusia, karena maksud ijtinan adalah istitar (tersembunyi). Sehingga tempat segala kenikmatan diakhirat disebut dengan “jannah” karena tertutup oleh rimbunnya pohon-pohon yang lebat dan banyak bagi yang memasukinya. Dan calon bayi dikatakan pula dengan “janin” karena ia tersembunyi di rahim ibu dan tidak tampak.

Pada umumnya jin bertempat tinggal di kotoran dan jamban, sebagaimana hadist dari Abu Dawud: “Sesungguhnya tempat-tempat pembuangan kotoran ini didatangi (oleh jin), karenanya apabila salah seorang diantara kalian datang ke jamban maka hendaklah membaca doa “A’udzu billaahi minal khubutsi wal khobaits” (aku memohon perlindungan kepada Allah dari jin laki-laki dan jin perempuan).” (HR. Abu Dawud)

 

Para normal, Dukun, Orang Pintar dan semacamnya

Imam Bukhori telah menulis dalam kitab Ath-Thib, suatu bab tersendiri tentang perdukunan (al kahanah). Dalam keterangannya Ibnu Hajar mengatakan: “Al kahanah adalah (pekerjaan) mengaku-aku tahu tentang ilmu ghoib. Seperti pemberitahuan mengenai apa yang bakal terjadi di buka bumi dengan penyandaran terhadap sebab. Asal-usulnya, berasal dari seorang jin yang mencuri dengar perkataan malaikat, kemudian hasil curi dengarnya ini disampaikan ke telinga kahin (dukun)”. (Fathul Bari X/216, kitab Ath-Thib)

Sedang Al-Khothabi mengatakan: “Para Kahin (dukun) adalah orang-orang yang memiliki banyak akal, jiwa jahat, dan watak panas. Karenanyalah kemudian setan merangkulnya (sebagai wali/sahabatnya) sebab dalam hal ini mereka punya banyak kesamaan. Selanjutnya setan selalu berusaha membantu dukun-dukun ini dengan segala kemampuan yang bisa dilakukan”.

Dan nama-nama dukun, para normal, orang pintar dsb adalah mempunyai hakikat yang sama (tidak ada bedanya), yang dalam bahasa arab disebut dengan istilah al kahin

 

Hati-hati dengan Dukun atau Orang yang Punya Kerja Sama dengan Jin

Sebagai seorang mukmin kita harus meyakini bahwa tidak ada satupun yang mengetahui hal ghoib kecuali Allah dan Rosul yang diridoi-Nya (dengan diberi tahu oleh Allah).

Dengan memegang prinsip ini insya Allah kita tidak akan tertipu oleh bualan-bualan atau cerita gombal dari orang yang mengaku-aku mengetahui perkara yang ghoib. Yang ini dapat menyebabkan tergelincirnya kita dalam kesesatan dan kesyirikan.

Allah berfirman: ”Dan sungguh Kami telah mengutus pada setiap ummat itu seorang rosul (yang menyeru):’sembahlah Allah dan jauhilah Thoghut’…” (QS. An-Nahl 36).

Dimana Jabir berkata: ”Thoghut adalah para dukun yang didatangi oleh syetan-syetan”.(Fathul Madjid, Syaikh Abdurrahman Hasan Alu Syaikh). Dan Ibnul Qoyyim menjelaskan pula: ”Thoghut itu banyak, dan pokoknya ada lima: Iblis semoga Allah melaknatinya, orang yang disembah dan dia ridho, orang yang mengajak orang lain untuk beribadah kepada dirinya, orang yang mengaku-aku tahu tentang ilmu ghoib, orang yang berhukum dengan selain Allah”. (Syarah Tsalatsatul Ushul, Syaikh Ibnu Utsaimin hal 153-154)

Kita pun harus ingat pesan Rosulullah kepada kita: ”Barang siapa yang datang kepada dukun, kemudian ia membenarkan apa yang dia katakan, maka sesungguhnya ia telah kufur kepada Muhammad”.(Hadist Hasan Riwayat Al Bazzar)

Juga Riwayat dari Aisyah: “Orang-orang bertanya kepada Rosulullah tentang dukun. Maka beliau menjawab:’Tidak ada apa-apanya’. Mereka (para sahabat) berkata:’Ya Rosulullah, mereka kadang-kadang bisa menceritakan sesuatu yang benar kepada kami’. Maka Rosulullah menjawab: ’kalimat tersebut (berasal) dari kebenaran yang dicuri oleh seorang jin (dari langit) kemudian dituangkannya kedalam telinga walinya (dukun). Maka para dukun itu mencampurkan kalimat yang berisi (satu) kebenaran tersebut dengan seratus kedustaan.” (HR. Bukhori no. 5762)

 

Jangan Tertipu dengan Kemampuan Aneh / Luar biasa yang Dimiliki oleh Seseorang

Ketika ada orang yang memiliki suatu kemampuan yang luar biasa, maka itu tidak lepas dari dua kemungkinan. Yang pertama bahwa kemampuan itu adalah murni dari Allah, seperti yang dipunyai oleh para Nabi dan Aali Allah; dan yang kedua itu itu adalah berasal dari bantuan Jin. Seperti yang disebutkan oleh Ibnu Taimiyah: ”Di antara mereka ada yang dibantu setan untuk mendatangkan makanan, buah-buahan, manisan dan sebagainya yang semula di tempat-tempat tersebut tidak ada. Ada lagi yang dibawa terbang oleh jin ke Mekah atau ke Baitul Maqdis atau ke tempat lain. Ada pula yang katanya (baca: karena dibawa jin) pada sore hari ke arafah untuk pergi haji, kemudian malam harinya sudah datang lagi”.

Jadi janganlah kita itu buru-buru menyimpulkan bahwa ketika ada seseorang yang memiliki suatu kemampuan yang luar biasa itu adalah pasti berasal dari Allah, dan orang yang memilikinya itu tentu orang yang dekat dan dicintai oleh Allah. Sebab boleh jadi kemampuan itu didapatkan karena adanya campur tangan dari Jin. Dan hal-hal seperti ini tentunya sangat mudah bagi jin.

Dan biasanya jin-jin tersebut memberikan syarat-syarat yang harus dilakukan oleh orang tersebut agar ia dapat memiliki kemampuan yang diinginkan. Dan tidak diragukan lagi bahwa hal-hal seperti ini dapat menjatuhkan pelakunya ke dalam kesyirikan.

Yunus bin Abdil A’la ash-Shadafi berkata: ”saya berkata kepada Imam Asy-Syafi’I:’Sesungguhnya sahabat kami -Al Laits- mengatakan, bahwa apabila engkau melihat seseorang bisa berjalan di atas (permukaan) air, maka janganlah engkau anggap ia sebelum engkau teliti keadaan orang tersebut, apakah ia sesuai dengan al-Kitab dan as-Sunnah’. Imam As-Syafi’I menjawab: Al Laits terlalu meringkas (keterangannya), bahkan apabila engkau melihat seseorang (bisa) berjalan di atas air atau bisa terbang di udara, maka janganlah engkau anggap ia sebelum engkau teliti keadaan orang tersebut apakah sesuai dengan al kitab dan as sunnah”. (Syarh al Aqidah ath Thohawiyah, tahqiq Dr. Abdullah Abdul Muhsin at Turki dan Syu’aib al arnauth).

Dan diantara fenomena yang saat ini sedang marak dan banyak diminati adalah adanya latihan-latihan tenaga dalam. Yang mana banyak di antaranya yang tidak sesuai dengan alquran dan as sunnah. Banyak tenaga dalam yang dipunyai itu diperoleh dengan cara-cara atau “laku” khusus yang bid’ah, seperi puasa “mutih”, bertapa, semedi di kuburan atau ditempat-tempat yang di anggap keramat lainnya. Ada pula yang dibungkus dengan doa-doa atau dzikir-dzikir yang seolah-olah islami. Padahal bisa jadi doa-doa atau dzikir-dzikir tersebut termasuk dalam kategori dzikir dan doa yang bid’ah, karena dibatasi dengan waktu, tempat, dan jumlah-jumlah yang tertentu yang tidak ada tuntunannya dari Rosulullah, para sahabat maupun dari kalangan ulama. Dan boleh jadi bahwa doa-doa dan dzikir-dzikir tersebut merupakan kunci lafadz-lafadz pembuka supaya orang tersebut dapat masuk ke dalam alam jin (sesuai dengan apa yang diajarkan jin ). Apalagi dzikir-dzikir atau doa-doa ini tidak dilakukan semata hanya untuk Allah, namun dengan tujuan untuk memperoleh tenaga dalam yang itu tidak pernah dilakukan oleh nabi dan para salafus sholih. .

So…., jangan gampang ketipu yaa???

Wallaahu a’lam.

 

Alif.

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *