DIPUTER, DIJILAT

DIPUTER, DIJILAT

tngnkiri

DIPUTER, DIJILAT……………
EH, TANGAN KIRI ?!

Yang suka makan biskuit tentu tahu iklan sebuah produk biskuit di mana terlihat seorang bocah mau makan biskuit item dengan krim putih rasa vanillanya yang wow. Si bocah pun beraksi dengan memuter biskuitnya, menjilat krim putih rasa vanillanya, dan ternyata tangan kirinya yang maju ke mulut mungilnya. Lho?

Nggak cuma biskuit. Iklan lain pun tidak beda dalam masalah tangan kiri ini. Sebut saja iklan permen karet nomor satu di Amerika yang dipakai untuk menghilangkan bau mulut, serta iklan minuman pembangkit energi yang (katanya) dapat memulihkan stamina kita.

Nggak cuma iklan, video klip dan sinetron pun memamerkan aksi makan minum dengan tangan kiri ini. Dan nggak cuma masalah tangan kiri, aksi makan minum yang tidak Islamy lainnya pun diobral sana-sini. Yang standing party, yang menyisakan makanan di piring, yang mencela makanan, wah pokoknya beragam.

Aduh, kalo begini bisa-bisa aktifitas makan kita dinilai sebagai perbuatan dosa yang hanya nambahin dosa kita yang udah bertumpuk itu. Padahal kan, dalam Islam, tiap perbuatan mubah dapat bernilai ibadah jika niatnya benar dan dilakukan sesuai dengan tuntunan syari’at.

Agar Makan Minum Jadi Ibadah
Agar aktifitas makan minum kita bernilai ibadah, kita semua harus mencontoh cara Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam makan. Apa saja itu ?

1. Niat makan dengan tujuan untuk menguatkan ibadah kepada Allah Subhaanahu wa ta’ala serta agar diberi pahala dari apa yang dimakan.

2. Sebelum makan cuci tangan dulu dan membaca basmalah. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya, “ Apabila salah seorang di antara kalian makan, maka hendaklah membaca basmalah. Jika ia lupa membaca basmalah di awal maka hendaklah ia membaca, ‘Bismillah awwaluhu wa akhiruhu (dengan nama Allah pada awalnya dan akhirnya)’.” (H.R. Abu Daud, at-Tirmidzy, dan al-Hakim).

3. Makan dengan tangan kanan. Dari Ibnu Umar radhiyallahu’anhu, bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya, “Apabila salah seorang dari kalian makan, hendaklah dia makan dengan tangan kanannya, dan apabila minum, maka hendaklah ia minum dengan tangan kanannya, karena setan itu makan dan minum dengan tangan kirinya.” (H.R. Muslim).

4. Menerima makanan yang ada, nggak mencacatnya, jika tertarik kepadanya maka dimakan, jika tidak tertarik maka tidak dimakan. Abu Hurairah radhiyallahu’anhu berkata, “Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah sekali pun mencacat makanan, jika beliau tertarik kepadanya beliau memakannya dan jika beliau tidak tertarik kepadanya maka beliau meninggalkannya.” (H.R. Abu Daud).

5. Mengambil makanan yang paling dekat (jika makanannya satu macam). Umar bin Salamah radhiyallahu’anhu bercerita, “Dulu, aku pernah berada dalam asuhan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, suatu hari saat makan,tangnku terulur hendak menjangkau talam, tetapi Rasulllah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bertutur kepadaku, ‘Wahai anak muda, bacalah basmalah, mekanlah dengan tangan kananmu dan makanlah makanan yang ada di dekatmu!’.” (H.R. Muslim).

6. Memberikan makanan kepada yang lebih tua, kemudian memutarnya kepada orang yang berada di sebelah kanannya dan seterusnya.

7. Makan bersama orang lain, misal dengan tamunya, istrinya, anaknya, pembantunya, atau yang lainnya. Rasullullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya, “Berkumpullah kalian di makanan kalian, niscaya kalian akan diberi keberkahan di dalamnya.” (H.R. Abu Daud, disahihkan at-Tirmidzy).

8. Tidak meniup makanan yang masih panas, dan memakannya ketika dingin.

9. Makan dengan tiga jari kanannya (ibu jari, jari telunjuk, dan jari tengah), mengecilkan suapan, mengunyah dengan baik, dan menghabiskan makanan sampai piringnya bersih, serta menjilati jarinya. “Ih, masak sih makan sampai habis, dan sampai jarinya dijilati, ndeso !” Mungkin komentar ini bisa terucap manakala orang yang belum tahu adab makan yang Islamy melihat pertama kali ada muslim yang makan seperti itu. Tapi ternyata, di balik itu semua ada hikmah yang tersembunyi.

Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya, “ Sesungguhnya setan itu datang kepada setiap orang dari kalian dalam segala kesibukannya, sampai setan pun datang pada saat seseorang makan, karena itu jika suapan seseorang di antara kalian jatuh, maka hendaklah dia membuang kotoran yang melekat pada makanan itu, kemudian memakannya dan jangan sampai meninggalkannya untuk setan. apabila telah selesai makan, hendaklah ia menjilati jari-jarinya, karena dia tidak tahu di dalam makanan yang mana terdapat berkah.” (H.R. Muslim).

Nah, kalo ada makanan yang jatuh dan dibiarkan saja, atau ada sisa makanan ada di piring kita, itu artinya kita memberi subsidi bagi musuh kita, yaitu si setan laknatullah alaihi.

11. Tidak bersandar saat makan. Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya, “Janganlah kamu makan sambil bersandar.”

12. Membaca doa setelah selesai makan dan mencuci tangan. Doa setelah selesai makan adalah, ‘Alhamdulillahil ladzi ath’amanii haadzaa wa razaqaniihi min ghoiri haulin minni wa laa quwwah’. Artinya, ‘Segala puji bagi Allah yang telah memberiku makan dan minum tanpa daya upaya dan tanpa kekuatan apa pun dariku.’ (H.R. Abu Daud).

Begitulah cara makan Islamy yang jika senantiasa kita praktekkan akan membuat makan kita bernilai ibadah dan nggak malah menambah dosa kita.

Waspada !
Yang kamu kudu waspadai juga adalah propraganda cara makan ala orang non-Islam yang dikampanyekan di iklan, film, sinetron, dan lainnya seperti disinggung pada awal bahasan tadi.

Cara makan seperti makan dengan tangan kiri (baik tangan kirinya beraksi sendirian, atau maju dengan garpu sedangkan tangan kanannya pegang pisau), standing party, makan dengan bersandar, tidak menghabiskan makanan, makan tanpa doa di awal dan akhirnya, mencela makanan merupakan akhlak orang non-Islam yang berusaha ditanamkan kepada kaum muslilm lewat media massa.

Ingat, jika kita bertingkah laku seperti mereka, bisa-bisa kita termasuk bagian dari mereka. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya, “Barangsiapa yang serupa dengan suatu kaum, maka ia adalah bagian mereka.” (HR Imam Ahmad dan Abu Dawud)

OK lah, itu dulu bahasan kita tentang tata cara makan en minum ala Islam. Mudah – mudahan Allah memberi kemudahan kepada kita semua untuk mengamalkannya, Amin.

Alif #11

.

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *