Dicari: IDOLA

Dicari: IDOLA

singing“Beberapa saat berkaca-kaca, tak terbendung, tumpahlah air mata oleh rasa rindu dan keinginan bertemu pemuda idola, anggota sebuah band di tanah air yang sangat ternama.

Ciuman, kecupan, cubitan pun tak terelakkan, tatkala sang idola ada di depan mata, tak sadar bahwa dirinya adalah seorang gadis muda yang harus menjaga rasa malu dan keanggunannya, lupa akan jutaan pasang mata yang menyaksikannya.

Malu, dimanakah dirimu…..?”

 

Padahal…

Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wa salam bersabda–yang artinya-: “Sesungguhnya diantara yang diketahui manusia dari perkataan kenabian adalah: Apabila kamu tidak malu maka lakukanlah apa saja sesukamu!” (terjemahan hadits riwayat Bukhari)

 

Sepenggal kata pembuka di atas adalah gambaran salah satu anak bangsa, calon pemegang tongkat estafet negeri ini manakala bertemu sang idola pujaan hati.

Keberadaan sosok menawan penuh pesona bagi tiap-tiap individu adalah fakta yang tidak bisa dipungkiri, realita yang insya Allah akan senantiasa terjadi. Akan tetapi sebagian besar dari kita tidak tahu mengapa “si dia” itu idola saya. “Ya pokoknya saya suka, titik”, apakah itu jawabannya?

Sebagai kaum muslimin, kamu pasti setuju kalau Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wa salam adalah sosok mutlak suri tauladan bagi kita. Allah berfirman -yang artinya-: “Sungguh telah ada pada diri Rasulullah suri tauladan yang baik bagi orang-orang yang mengharapkan Allah dan hari akhirat.” (terjemahan Al-Ahzab).

 

Kemudian, dengan tetap meletakkan Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wa salam sebagai teladan dan acuan utama, Kami ingin sedikit berusaha membantu saudara sekalian menentukan kriteria sosok ideal yang pantas dikagumi dan diikuti dalam bidangnya masing-masing, seperti hadist, fiqh, teknologi, kedokteran, de el el.

 

Muslim

Agama merupakan kriteria utama, tidak sepatutnya seorang muslim mengagumi orang-orang non-muslim yang jelas-jelas memusuhi Allah dan rasul-Nya. Mengapa?

Karena seorang muslim (walau bagaimanapun ujudnya) lebih baik daripada seorang non-muslim, sebagaimana firman-Nya –yang artinya-: “Sesungguhnya wanita sahaya yang mu`min lebih baik daripada wanita musyrik walupun dia menarik hatimu” (terjemahan Al-Baqoroh : 221)

Kalau Allah saja menilai sahaya yang mu`min lebih baik daripada orang musyrik, masak kita mau mengatakan yang sebaliknya. Penilaian-Nya mutlaq lebih utama dari penilaian segenap manusia, karena Dia Yang Maha Mengetahui segalanya!

Ini sebab yang pertama, kemudian sebab yang kedua:

Orang yang beriman nggak bakalan mungkin mencintai orang-orang yang memusuhi Allah dan rasul-Nya, sebagaimana firman-Nya –yang artinya-: “Kamu tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang orang itu bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, ataupun keluarga mereka.” (terjemahan Al-Mujadilah:22)

Dapatkah terkumpul dalam hati, rasa cinta kepada Allah dan rasul-Nya dengan rasa sayang kepada musuh-musuh Allah dan rasul-Nya? Tidak akan pernah, kecuali kalau gajah bisa naik delman.

Sebab yang ketiga:

Dari Anas bin Malik radliyallaahu ‘anhuma bahwasanya seorang laki-laki bertanya kepada Nabi saw –yang artinya-: “Wahai Rasulullah kapan hari kiamat terjadi?” Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wa salam berkata –yang artinya-: “Apa yang telah kamu siapkan untuknya?” Orang itu berkata –yang artinya-: “Aku tidak punya persiapan baginya, baik itu berupa banyaknya sholat, puasa maupun sodaqoh, akan tetapi aku mencintai Allah dan rasul-Nya.” Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wa salam berkata –yang artinya-: Kamu bersama-sama orang yang kau cintai.” (terjemahan hadits riwayat Bukhori)

Nah, memangnya kita mau dikumpulkan bersama-sama orang yang ingkar di neraka….??

 

Kaya dan tampang Oke punya???

Wah, kalo` kamu pasang kriteria yang satu ini, kamu bakalan rugi besar. Karena Allah sendiri tidak menggunakan kriteria ini untuk menilai hamba-Nya.

“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa diantara kamu” (terjemahan Al-Hujurat: 13).

Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wa salam juga berkata –yang artinya-: “Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa-rupa kalian dan tidak pula harta-harta kalian, akan tetapi Dia melihat hati dan amal perbuatan kalian” (terjemahan hadits riwayat Muslim).

Betapa banyak orang yang kaya, ganteng, penampilan OK` punya, tapi hatinya sakit dan culas. Kalo` kamu punya idola yang seperti ini, bisa-bisa sudah jatuh tertimpa tangga. Lagian kekayaan dan penampilan nggak permanen, kalau mau bisa saja dalam waktu kurang dari kejapan mata Allah mencabut kekayaanya dan merubah penampilannya. Tapi kalau orang berhati bersih dan baik yang jadi kriteria kamu, bakalan `ndak nyesel deh, insya Allah!

 

Kumal, pakai anting-anting satu, plus celana `ndak bisa dipakai sholat (alias bolong di aurat)

Tak pantaslah kita sebagai seorang muslim mempunyai sosok idola seperti ini, karena Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wa salam berkata –yang artinya-: “Sesungguhnya Allah itu indah, dan menyukai keindahan.” (terjemahan hadits riwayat Muslim).

Dari Ibnu `Abbas radliyallaahu ‘anhuma berkata –yang artinya-: “Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wa salam melaknat para lelaki yang menyerupai wanita dan para wanita yang menyerupai laki-laki” (terjemahan hadits riwayat Bukhori)

Pantasnya kamu mengidolakan orang yang bersih, rapi, dan berakhlak mulia. Gaul juga ndak masalah selama masih dalam batas-batas syar`i. Ehm… kalau kamu punya teman laki-laki yang punya penampilan agak “beda”, misalnya celana panjangnya di atas mata kaki (congklang), jangan buru-buru curiga dan mencelanya. Lho, kenapa? Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wa salam begitu bersemangat memerintahkan para sahabatnya untuk menaikkan pakaian laki-laki di atas mata kaki. Maka dari itu, jangan sampai ikutan-ikutan ngerjain dengan kata-kata ”kebanjiran nggih mas?”

Syukur-syukur kamu (yang laki-laki) bisa ikutan melaksanakannya. Kalau belum bisa, istighfar kepada Allah dan memohon kepada-Nya agar diberi kemudahan untuk mengamalkannya.

 

Ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Ini adalah kriteria yang harus ada pada sosok yang kamu kagumi, karena Allah mencintai orang-orang yang taat. Apabila Allah mencintainya, Dia jadikan hamba-hamba-Nya yang lain juga mencintainya. Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wa salam berkata –yang artinya-: “Ada tiga perkara yang barang siapa ada padanya tiga perkara ini, dia akan menemukan dengannya manisnya iman:………,dia mencintai seseorang semata-mata karena Allah,….” (terjemahan hadits riwayat Bukhori)

 

Inilah beberapa kriteria sosok yang patut kamu jadikan panutan, sudah barang tentu banyak kriteria-kriteria yang lain. Dan sebaik-baik contoh bagi kita adalah Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wa salam. Kemudian sesudah beliau adalah para sahabatnya. Abdullah bin Mas`ud (salah satu sahabat nabi) berkata -yang artinya-: “Sesungguhnya Allah telah melihat hati hamba-hamba-Nya maka Dia temukan hati Muhammad shollallaahu ‘alaihi wa salam adalah sebaik-baik hati hamba, maka Allah memilihnya untuk diri-Nya sendiri, maka Dia pun mengutusnya dengan risalah-Nya. Kemudian Allah melihat kepada hati hamba-hamba-Nya sesudah hati Muhammad shollallaahu ‘alaihi wa salam, maka Dia temukan hati sahabat-sahabatnya adalah sebaik-baik hati hamba, maka Allah jadikan mereka sebagai pendamping-pendamping nabi-Nya, mereka berperang diatas agamanya, maka apa-apa yang dilihat oleh kaum muslimin (sahabat) sebagai hal yang baik maka hal itu adalah baik di sisi Allah, dan apa-apa yang mereka lihat sebagai hal yang jelek maka hal itu adalah jelek di sisi Allah”.

 

Naaah…Siapakah panutanmu? Moga-moga seseorang yang bisa menuntunmu menuju naungan cinta yang haqiqi, yakni cinta dari Ilahi.

 

Alif.

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *