DAPET BUAAANYAK DI MASJID

DAPET BUAAANYAK DI MASJID

Masjid Selat Melaka in Malacca - Malaysia

Ketika adzan berkumandang, acap kali kita tidak menghiraukan panggilan shalat yang begitu agung nan merdu itu. Kebanyakan dari kita masih ada yang sempat-sempatnya beraktifitas keduniawian semata, seperti sibuk bekerja, katanya sich “belajar” atau ngerjain PR, ngobrol, nonton TV, dan laen-laen. Sementara ada juga yang berfikir “Entar dech shalatnya, khan masih banyak waktu !”. Wah … … kalo begini, gimana donk ISLAM kita ini ?.

 

Sholat itu khan tiang agama, dan barang siapa menegakkannya maka ia telah menegakkan agama. Saking pentingnya arti sholat wajib ini bagi umat Islam, maka Allah pun mengkhususkan pemberian perintahnya dengan peristiwa Isra’ Mi’raj lebih dahulu, tidak sebagaimana perintah-perintah lain dalam Islam.

 

Seorang muslim yang menegakkan sholat wajib 5 waktu, minimal telah menggugurkan kewajibannya, artinya dia tidak terkena dosa besar karena meninggalkan sholat. Namun lebih benar lagi jika ia membaguskan sholatnya, berusaha khusyu’ dalam sholatnya, serta berusaha menegakkan sholat secara berjama’ah.

 

Kenapa harus berjama’ah, kan kita cuma diperintahkan sholat, tanpa diperintahkan secara berjama’ah? Eh, siapa bilang? Allah Subhaanahu wa ta’ala berfirman yang artinya “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan ruku’lah bersama orang-orang yang ruku’.” (al-Baqarah:43). Ibnu Katsir, seorang ulama tafsir yang dimiliki kaum muslimin, berkata mengenai ayat di atas, “Yakni hendaklah kalian bersama orang-orang yang beriman dalam berbagai perbuatan mereka yang terbaik. Dan yang paling utama dan sempurna dari semua itu adalah shalat. Banyak para ulama Islam yang menjadikan ayat ini sebagai dalil diwajibkannya shalat berjama’ah.”

 

Tentunya, jika Allah Subhaanahu wa ta’ala memerintahkan shalat berjama’ah, pasti ada rahasia-rahasianya. Apa saja rahasia shalat berjama’ah?

 

Dapat Pahala Lebih Banyak

 

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya, “Shalat berjama’ah itu lebih utama 25 derajat (dalam riwayat lain: 27 derajat) dari pada shalat sendirian.” (H.R. al-Bukhary).

Khusus untuk shalat Subuh dan Isya’ berjama’ah pahalanya sangat besar, sampai-sampai Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, yang artinya, “Tak ada shalat yang lebih berat menurut orang-orang munafik melebihi (beratnya) shalat Subuh dan Isya’. Dan seandainya mereka mengetahui pahala pada keduanya, niscaya mereka akan datang (untuk berjama’ah) meskipun dengan merangkak.” (Mutafaq ‘alaih).

Dalam riwayat lain, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam membeberkan pahala kedua shalat ini –yang memang tidak main-main besarnya, “Siapa yang shalat Isya’ secara berjama’ah, maka seakan-akan ia shalat separuh malam. Dan siapa yang shalat Subuh secara berjama’ah, maka seakan-akan ia shalat sepanjang malam.”(H.R. Muslim).

Bayangkan bagaimana perjuangan orang yang shalat separuh malam atau sepanjang malam non stop, dan itu bisa diperoleh ‘cuma’ dengan menunaikan shalat Subuh dan Isya’ secara berjama’ah di masjid.

 

Diampuni Dosa-dosanya

 

Tidak cuma pahala lebih yang didapat orang yang menegakkan shalat berjama’ah di masjid, dosa-dosanya pun diampuni. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya, “Siapa yang berwudhu untuk shalat dan ia menyempurnakan wudhunya, lalu berjalan (untuk menunaikan) shalat wajib, dan ia shalat bersama manusia atau bersama jama’ah atau di dalam masjid, niscaya Allah mengampuni dosa-dosanya.” (H.R. Muslim).

Belum sampai ke masjid pun, langkah-langkah seorang muslim sudah memberi manfaat yang tak terhingga bagi dirinya. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya, “Siapa yang berangkat ke masjid (untuk) berjama’ah maka langkah (yang satu) menghapus keburukan dan langkah (yang lain) menuliskan baginya satu kebaikan, saat pergi dan kembali.”(Shahihut-Targhib wat-Tarhib).

Karena itu sebenarnya tidak ada alasan bagi orang yang rumahnya jauh dari masjid untuk bermalas-malas ke masjid, bahkan ia seharusnya lebih senang untuk pergi ke masjid. Karena rumahnya lebih jauh daripada masjid, tentu saja langkah kakinya jadi lebih banyak, dan tentunya keburukan yang terhapus serta kebaikan yang didapat akan lebih banyak daripada yang dekat-dekat dengan masjid.

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya, “Orang yang paling besar pahalanya dalam shalat adalah orang yang paling jauh (dari masjid), kemudian yang agak jauh perjalanannya di antara yang lain.” (al-Lu’lu wal-Marjan).

 

Bebas dari Neraka dan Bebas dari Sifat Nifaq

 

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya, “Siapa yang melakukan shalat berjama’ah selama 40 hari, dan ia mendapatkan takbir pertama, niscaya dituliskan untuknya dua pembebasan; bebas dari Neraka dan bebas dari sifat nifaq (munafiq).” (Shahihul-Jami’).

Ibnu Mas’ud Radhiyallahu’anhu, seorang shahabat Nabi, pernah berkata, “Dan sesungguhnya kita telah menyaksikan bahwa tidaklah meninggalkan shalat berjama’ah kecuali seorang munafik yang tampak jelas kemunafikannya.”

 

Memperkuat Persatuan Umat Islam

 

Dengan pergi berjama’ah ke masjid, kita akan mengenal saudara kita sesama muslim. Dari perkenalan itu, timbullah saling memahami antara saudara seiman, sehingga akan terwujud saling menolong yang akan memperkuat barisan umat Islam.

Banyak sekali hadits yang memerintahkan dijaganya persatuan dan terlarangnya perpecahan. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya,“Berjama’ah adalah rahmat dan perpecahan adalah adzab”(Shahih Sunan at-Tirmidzy).

Berjama’ah adalah lebih kuat untuk menjaga iman seseorang, karena di sampingnya terdapat saudara seiman yang siap untuk menjaga, membela dan menasehatinya. Sebaliknya, orang yang sendirian akan lebih mudah terjerumus ke dalam perbuatan yang tidak baik.

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya, “Tidaklah tiga orang berada di suatu desa atau dusun dan mereka tidak mendirikan shalat (berjama’ah) kecuali mereka telah dikuasai oleh setan. Karena itu, hendaklah kalian senantiasa berjama’ah. Sungguh serigala itu hanya makan hewan yang jauh (dari gerombolan kawan-kawannya).” (Shahihul-Jami’).

 

Tunggu apa lagi? Kalau kita bisa mendapat yang lebih banyak dengan berjama’ah di masjid, mengapa masih mau dapat yang sedikit-sedikit saja?

 

 

Alif.

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *