CUKUP SATU SURAT SAJA

CUKUP SATU SURAT SAJA

hadistWaktu berlalu, masa berganti. Tak terasa, berbilang tahun sudah kita hirup udara dunia yang makin hari makin kurang segar akibat polusi ini. Kebayang nggak?, kalau cepat atau lambat kita nantinya musti berpisah dengan yang namanya dunia fana ini. Masya Allah … syerem yah !. Apalagi kalau mikir kehidupan setelah mati, dibangkitkan dari kubur, dikumpulin di padang mahsyar, kudu mempertanggung jawabkan perbuatan kita di dunia, trus … masih deg – degan mau dimasukkan ke surga apa neraka. Wah … apa nggak mendebarkan tuch, bikin hati was – was.

 

Mungkin hari ini kita masih sempat bercanda plus ngrumpi bareng teman – teman kita, jalan – jalan di mall, atau masih sibuk bikin laporan praktikum. Tapi besok pagi, lusa, atau bahkan sebentar lagi, siapa tahu … ?

 

Hidup di dunia memang tidak akan lama, paling banter cuma dalam hitungan tahun, belum sampai abad. Masalahnya adalah : Bagaimana caranya mengisi hidup kita yang sebentar ini dengan sesuatu yang bermanfaat. Tidak sekedar “bikin hidup lebih hidup”, tetapi bikin hidup lebih bermanfaat di dunia ini, serta lebih bermanfaat di kehidupan super panjang bin kekal kelak di akhirat. Pendeknya : Gimana caranya agar kita tak rugi dunia – akhirat.

 

Surat Al Ashr sebagai solusi

 

Allah Subhaanahu wa ta’ala berfirman dalam Qur’an Surat Al Ashr: 1 – 4 yang artinya: “Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar – benar berada dalam kerugian. Kecuali orang – orang yang beriman dan beramal shaleh, dan saling menasehati supaya menetapi kebenaran dan saling menasehati supaya menetapi kesabaran.“

 

Imam Syafi’I Rahimahullah (itu tuch, salah seorang ulama terkenal di dunia Islam yang memiliki segudang prestasi, baik di bidang Al Qur’an, Hadits, Aqidah, Fiqh, Ibadah, Akhlaq, maupun yang lainnya. Pokoknya kamu rugi dech, kalo nggak kenal sama beliau yang satu ini, melalui karya – karya besarnya.), beliau berkata dalam rangka mengomentari surat tersebut: “Seandainya Allah tidak menurunkan hujjah (argumentasi) atas makhluq-Nya, kecuali hanya surat ini saja, niscaya ia (surat Al Ashr) sudah mencukupi mereka.”

 

Maksud “sudah mencukupi” disini tentu bukan berarti bahwa surat ini telah mencukupi manusia dalam syariat agama secara keseluruhannya. Akan tetapi, surat Al Ashr ini telah cukup bagi segenap manusia dalam menyeru mereka untuk berpegang teguh kepada agama Allah. Yaitu dengan iman, amal shalih, dakwah di jalan Allah, serta bersabar.

 

Allah bersumpah demi masa, bahwa setiap manusia pasti akan merugi, kecuali orang yang mengantongi empat hal selama hidupnya :

 

Pertama : IMAN

 

Yang dimaksud iman disini meliputi semua hal yang dapat mendekatkan diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla, yaitu berupa keyakinan yang benar dan ilmu yang bermanfaat.

 

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda yang artinya: “Barang siapa menghendaki dunia, maka hendaknya dengan ilmu. Barang siapa menghendaki akhirat, maka hendaknya dengan ilmu. Dan barang siapa menghendaki keduanya, maka hendaknya dengan ilmu juga.”

 

Dus, … salah satu sarana terbesar sukses dunia – akhirat adalah dengan belajar, alias menuntut ilmu. Lebih specific lagi, menuntut ilmu yang dengan ilmu tersebut dapat mempertebal keimanan kita. Yaitu ilmu yang semakin dalam kita mempelajarinya, semakin menjadikan kita tunduk dan patuh kepada-Nya. Bukannya malah membuat kita menjadi sombong, ingkar, dan sok tahu terhadap Sang Pencipta.

 

Kedua : AMAL SHOLIH

 

Kewajiban orang yang berilmu adalah mengamalkan ilmunya. Percuma donk, jika ilmunya setinggi langit segedhe gunung seluas samudra, tetapi tidak diamalkan. Sufyan Ats Tsauriy, seorang ulama’ Islam terkenal yang hidup beberapa abad yang lalu pernah berkata: “Ilmu itu menuntut amal. Maka jika ilmu diamalkan, maka ia akan tetap tinggal, tetapi jika tidak diamalkan, niscaya ia akan pergi.”

 

Makanya udah mengenal dan belajar Islam bertahun – tahun (memangnya sudah berapa tahun sich kita berislam ?), koq rasanya masih biasa – biasa saja. Sepertinya amat sedikit ilmu yang sudah kita pelajari ini (sejak TK/SD plus TPA nya, sampai … segedhe gini) yang nyantol di otak dan hati kita. Karena memang jarang diamalkan. Kami ingatkan secuil contoh: sholat 5 waktu … … !!! Bagaimanakah keadaan shalat kita?

 

Ketiga : DAKWAH

 

Dakwah merupakan kewajiban selanjutnya setelah ilmu dan amal, sesuai dengan kapasitas kita masing – masing. Artinya jangan sok semangat dakwah kesana – sini tapi tanpa ilmu, ataupun juga enggan dan ragu berdakwah padahal sebenarnya sudah punya ilmu.

 

Dakwah tidak musti di atas mimbar (apa nggak sekalian mimbarnya dinaiki … ?). Nyebarkan salam Islam, ngajar adik-adik TPA, ngingetkan teman yang udah mulai nge-gosip, ngajak shalat, keluar rumah pake jilbab syar’I, … de el el.

 

Atau ngasih link internet bermanfaat (seperti website ini, he he he …) ke orang lain untuk dibaca. Insya Allah juga termasuk dakwah.

 

Keempat : SABAR

 

Beriman, beramal, berdakwah tidak selamanya mulus tanpa gangguan. Terkadang suatu ujian/cobaan tersebut menunjukkan kualitas dan kuantitas iman, amal, dan dakwah seseorang. Sedasyat-dasyatnya bala’ (cobaan) itu menimpa para Nabi, kemudian yang semisal dengan mereka, dan seterusnya.

 

Oleh karena itu dibutuhkanlah kesabaran dalam menghadapi semua itu. Mempertahankan keyakinan bahwa Allah lah satu-satunya sesembahan yang berhaq disembah, dan sesembahan-sesembahan selain Allah adalah bathil membutuhkan kesabaran. Konsisten mengamalkan ajaran Islam sesuai tuntunan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat, seperti sholat, berpakaian menutup aurat (hijab syar’I), puasa, zakat, dan lain lainnya juga membutuhkan kesabaran yang ekstra. Lebih – lebih jika kemudian berdakwah di jalan Allah, maka bersabar adalah rumus patennya.

 

Beriman, beramal, berdakwah, serta sabar adalah panggilan hidup seorang yang tidak ingin rugi dunia – akhirat. Mari kita koreksi diri kita masing – masing, nggak usah ke yang lain dulu lah. Lha wong … sekedar dititipin temennya fotokopi saja, tidak mau rugi koq (alias bayar pake uang kita sendiri), padahal selembar cuma Rp 100,-. Apalagi ini menyangkut permasalahan hidup di dunia dan akhirat yang tak ternilai harganya.

 

Siapkah kita menjadi orang yang beruntung seperti dalam Surat Al Ashr tsb?

 

Alif.

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *