Hak Seorang Muslim Terhadap Sesama Muslim

Hadits tentang Akhlak dan Adab

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu ia berkata:
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Hak seorang muslim terhadap sesama muslim itu ada enam :
jika kamu bertemu dengannya maka ucapkanlah salam,
jika ia mengundangmu maka penuhilah undangannya,
jika ia meminta nasihat kepadamu maka berilah ia nasihat,
jika ia bersin dan mengucapkan : ‘Alhamdulillah’ maka do’akanlah ia dengan ‘Yarhamukallah’,
jika ia sakit maka jenguklah,
jika ia meninggal dunia maka iringilah jenazahnya.”
(HR. Muslim)

Penjelasan:

@ (tidak dibatasi 6,jumlahnya bisa 8,10 dst.hadits-hadits ini menjelaskan pokok-pokok ke-enam hal tersebut)

ucapan salam diantaranya sebagai do’a dan kalimat yang menyatukkan kaum muslim

@ jika kita meneliti tentang memberi/mengucapkan salam jika digabungkan dengan hadits lain maka mengucapkan salam sangat dianjurkan,menjawab salam wajib dan yang paling bagus yang memulai salam.

hadits tentang urutan-urutan yang lebih afdhal.

1.”Sepantasnya orang yang kecil (lebih muda) mengucapkan salam kepada yang besar (lebih tua), yang berjalan kaki kepada yang duduk, dan yang sedikit kepada yang banyak, yang berkendaraan kepada yang berjalan kaki.” (HR Muttafaq ‘Alaih dan HR Muslim)

2.”Apabila ada sekelompok (beberapa) orang yang lewat, maka cukuplah salah seorang saja di antara mereka yang mengucapkan salam dan dianggap mencukupi dari satu jamaah jika salah seorang di antara mereka yang menjawab salam itu.” (HR Ahmad dan Baihaqi)

@ maka yang di undang harus memenuhi undangannya (ketika berhalangan hadir,kita pamit-minta izin)
terkecuali, udzur seperti : sakit, safar, acara yang bersamaan-sudah terlanjur berjanji memenuhi undangan ke yang lain-tempat dan tidak mungkin digabungkan antar undangan, waktu-rentang jarak yang berjauhan.

ada perbedaan menghadiri undangan misal resepsi pernikahan dengan menjenguk orang sakit.
kalau menjenguk orang sakit-kita bisa mengajak-ajak teman namun kalau undangan-kalau sama2 di undang bisa datang bersama tapi misal tidak diundang-maka tidak dibenarkan bagi yang diundang mengajak temannya yang tidak diundang.karena semisal  konsumsi yang tadinya sekian bisa jadi tidak cukup seandainya ada yang tidak diundang menghadiri.

@ meminta saran maka berilah saran,namun jika tidak tahu,katakan saja maaf saya tidak tahu

@ bener2 mendengar orang yang bersin kemudian memuji Allah

@ cukup dia sakit tanpa perlu dia mengumumkan/mengundang namun cukup katanya,itu sudah cukup.

Dari Nu’man bin Basyir RA berkata “Rasulullah SAW bersabda : “Perumpamaan kaum muslimin dalam mencintai,berkasih sayang dan berlemah lembut bagaikan satu jasad yang apabila salah satu anggota badannya merasa sakit maka sekujur tubuhpun ikut merintih juga ditambah dengan bergadang dan demam”. (HR.MUSLIM)

secara sederhana jika kepala kita gatal secara otomatis tangan kita yang menggaruk,ketika kaki kita sakit/pegal secara otomatis tangan kita yang akan memegangnya,memijatnya.

jadi tidak perlu adanya undangan,diperlukan kepekaan.

@ jika memang jenazahnya seorang muslim, walau pelaksanaannya belum sesuai pelaksanaan jenazah,kita harus tetap mengiringinya. lebih baik disegerakan penguburannya tanpa menunggu.

kisah shahabiyah ummu mahjan.

Begitulah fungsi masjid pada zaman Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, demikian pulalah yang terjadi pada zaman khulafa‘ur rasyidin dan begitu pula seharusnya peranan masjid hari ini hingga tegaknya hari kiamat.

Untuk itulah Ummu Mahjan Radhiyallahu ‘anha tidak kendor semangatnya, sebab pekerjaan itu merupakan target yang dapat beliau kerjakan. Beliau tidak pernah meremehkan pentingnya membersihkan kotoran untuk membuat suasana yang nyaman bagi Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat beliau dalam bermusyawarah yang senantiasa mereka kerjakan secara rutin.

Ummu Mahjan Radhiyallahu ‘anha terus menerus menekuni pekerjaan tersebut hingga beliau wafat pada zaman Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika ia wafat, para shahabat Ridhwanullahi ‘Alaihim membawa jenazahnya setelah malam menjelang dan mereka mendapati Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam masih tertidur. Mereka pun tidak ingin membangunkan beliau, sehingga mereka langsung menshalatkan dan menguburkannya di Baqi‘ul Gharqad.

Pagi harinya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam merasa kehilangan wanita itu, kemudian beliau tanyakan kepada para sahabat, mereka menjawab, “Beliau telah dikubur wahai Rasulullah, kami telah mendatangi anda dan kami dapatkan anda masih dalam keadaan tidur sehingga kami tidak ingin membangunkan anda.” Maka beliau bersabda, “Marilah kita pergi!” Lantas bersama para shahabat, Rasulullah pergi menuju kubur Ummu Mahjan. Maka Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam berdiri, sementara para sahabat berdiri bershaf-shaf di belakang beliau, lantas Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam menshalatkannya dan bertakbir empat kali [lihat al-Ishabah dalam Tamyizish Shahabah (VIII/187)]

Sebuah riwayat dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, bahwa ada seorang wanita yang berkulit hitam yang biasanya membersihkan masjid, suatu ketika Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam merasa kehilangan dia, lantas beliau bertanya tentangnya. Mereka telah berkata, “Dia telah wafat.” Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Mengapa kalian tidak memberitahukan hal itu kepadaku?” Abu Hurairah berkata, “Seolah-olah mereka menganggap bahwa kematian Ummu Mahjan itu adalah hal yang sepele.” Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tunjukkan kepadaku di mana kuburnya!” Maka mereka menunjukkan kuburnya kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam kemudian beliau menyalatkannya, lalu bersabda:

“Sesungguhnya kubur ini terisi dengan kegelapan atas penghuninya dan Allah meneranginya bagi mereka karena aku telah menyalatkannya.” [Lihat al-Ishabah(VIII/187), al-Muwatha’ (I/227), an-Nasa’i (I/9) hadits tersebut mursal, akan tetapi maknanya sesuai dengan hadits yang setelahnya yang bersambung dengan riwayat al-Bukhari dan Muslim.]

1 Qirath dan 2 Qirath.

“Barangsiapa yang menyaksikan jenazah sampai ia menyolatkannya, maka baginya satu qiroth. Lalu barangsiapa yang menyaksikan jenazah hingga dimakamkan, maka baginya dua qiroth.” Ada yang bertanya, “Apa yang dimaksud dua qiroth?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas menjawab, “Dua qiroth itu semisal dua gunung yang besar.” (HR. Bukhari no. 1325 dan Muslim no. 945)

Sumber :
Terinspirasi, kajian di Geografi oleh Ust. Ridwan hamidi, L.c. at mushala geografi – 5 Desember 2012

Created by:

Oky Suryana

Mahasiswa Statistika UGM 2010,

email:suryanaokyuugm@gmail.com

.

Mujahadah : Bersungguh-sungguh Dalam Ibadah

Kurang lebih kisahnya seperti ini Muridnya Imam Ahmad berkata, “Wahai Imam Ahmad, kapan waktunya untuk beristirahat

Kemudian beliau menjawab, “Ketika engkau menginjakkan kaki pertama kali masuk ke dalam surga”.

(ketika kita beristirahat barang sejenak itu untuk berpindahnya dari ketaatan yang satu menuju ketaatan yang lain)

Keseharian Kita

Untuk kita shalat subuh dua (2) rakaat perlu mujahadah, kita perlu bangun sebelum adzan shalat subuh dan kita bisa luangkan waktu untuk Qiyamullail kemudian berwudhu kemudian ke masjid. Dan rangkaian dari menunggu waktu shalat hingga shalat tidak kurang dari setengah jam (ini bisa dilakukan dzikir) sampai kembali ke penginapan (tempat tinggal/kos/asrama).Dan untuk yang demikian membutuhkan banyak-banyak mujahadah.

Dan ada sebagian orang yang mengatakan bahwasanya, waktu tidur paling enak itu pas adzan shalat subuh, bahkan setelah shalat subuh , enak juga itu waktu untuk tidur-tiduran kemudian tidur. Semoga kita dijauhkan dari sikap tersebut.

Apakah karena saking Mujahadah-nya (Bersungguh-sungguh) membuat orang susah tersenyum ?

Tidak, seseorang masih bisa tersenyum bahkan bercanda.

Kurang lebih kisahnya dari salah seorang Imam Ahli Hadits,

Ketika beliau ditanya oleh seseorang dengan ‘guyon’ maka jawabnya dengan ‘guyon’ juga. Seperti ini pertanyaannya,

Siapa nama istrinya Iblis ?

kemudian Beliau menjawab, Pada saat Walimatul ursy kami tidak hadir (jadi tidak tahu nama istrinya iblis).

Ini contoh bahwa mujahadah tidak membuat orang jadi susah untuk berinteraksi dengan seseorang. Padahal beliau paling tinggi mujahadahnya.


Mengenai Bersungguh-sungguh di dalam beribadah dijelaskan dalam ayat berikut,

1. Al Ankabut [29] : 69

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. al-‘Ankabut [29] : 69)

Penjelasan :

Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk (mencari keridhaan) Kami  
maksudnya, Mencurahkan segenap kemampuannya untuk

menepis hawa nafsu,
godaan setan dan ambisi-ambisi pribadi, 
serta melawan musuh-musuh agama.

karena Allah semata.

Jalan-jalan Kami
maksudnya, Jalan-jalan yang bisa

mendekatkan kepada Allah dan mengantarkan pada surga-Nya.

jalan-jalan ini hanya bisa ditempuh dengan amal-amal ketaatan dan kesungguhan dalam beribadah.

Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.
 maksudnya, Allah selalu menolong dan menguatkan mental mereka.

==> Orang yang bersungguh-sungguh di Jalan Allah tentulah orang yang berbuat baik

2. Al Hijr [15] : 99

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ
“Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).”(QS. al-Hijr [15] : 99)
الْيَقِينُ maksudnya sesuatu yang diyakini, intinya kematian yang menjemput, kematian yang pasti terjadi (ajal).
==> Dalam penjelasan ayat diatas, bahwasanya batas akhir dari mujahadah atau bersungguh-sungguh di dalam beribadah yakni sampai ajal (sampai berakhirnya hidup di dunia).
3. Al Muzzammil [73] : 8وَاذْكُرِ اسْمَ رَبِّكَ وَتَبَتَّلْ إِلَيْهِ تَبْتِيلًا”Sebutlah nama Tuhanmu, dan beribadahlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan.” (QS. al-Muzzammil [73] : 8)

وَاذْكُرِ maksudnya Berdzikir, dan berdzikir itu membutuhkan mujahadah.

تَبْتِيلًا maksudnya dengan penuh ketekunan ialah dengan sebenar-benarnya ibadah.

==> Mujahadah perlu adanya ketekunan bukan cuma pernah, semisal : pernah shalat malam kemudian mandeg, lalu pernah hafal 5 juz kemudian lupa lagi karena jarangnya di muroja’ah,dsb.

4.  Az Zalzalah [99] : 7

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ

“Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.”(QS. Az Zalzalah [99] : 7)

==> yang dimaksud melihat (balasan)nya ialah menunjukkan makna bahwa perbuatan ini akan di balas oleh Allah subhanahu wata’ala.

dan yang dimaksud  ذَرَّةٍ maksudnya partikel debu yang bisa dilihat ketika sinar matahari menembus kaca; ada juga yang memaknainya dengan semut kecil. lafadz  ذَرَّةٍ bisa juga diarahkan maknanya pada bagian terkecil dari suatu unsur (atom).

5. Al Muzzammil [73] : 20

…وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ هُوَ خَيْرًا وَأَعْظَمَ أَجْرًا ۚ…

“…Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya…”.(QS. al-Muzzammil [73] : 20)

مَا yang dimaksud adalah diartikan kebaikan
وَ yang dimaksud disini adalah diartikan perbuatan apa pun (apa saja).

==> Bukan hanya kebaikan saja yang akan dibalas, namun keburukan pun akan dibalas. dan Allah itu Maha Adil.

Allah membalas kebaikan bukan hanya 1 kebaikan, bisa dikalikan 10, 100, 700, 1000 atau hanya Allah yang tahu karena saking besarnya kebaikan tersebut (dimasukan ke Jannah), jika kita bisa haji mabrur maka balasannya Jannah (dan ini membutuhkan mujahadah).

6. Al Baqarah [2] : 273

وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ

“…Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Mengatahui…”.(QS. al-Baqarah [2] : 273)

==> yang dimaksud disini ialah meng-infakkan dari kebaikan (harta yang baik).

(surya#13)Referensi :
Kajian Tafsir Hadits di Masjid Kampus UGM oleh Ust. Ridwan Hamidi,
http://31.media.tumblr.com/tumblr_m0m12c2WHW1r6xffoo1_500.jpg

.