Bila Temanmu Masih Seperti Itu

Bila Temanmu Masih Seperti Itu

berhenti merokokBal-bul. Wuss-wuss. Oh, oh, ternyata teman kamu mulai merokok lagi. Selain mengganggu pernafasan orang lain, merokok kan juga dilarang agama. Tentu bete juga punya teman yang seperti ini. Ini baru satu teman. Yang lainnya? Masih ada yang suka jalan-jalan sama anak lain jenis, ada lagi yang sukanya kebut-kebutan, dan masih buanyak yang ‘konsisten’ dengan acara ngegosip sana-sininya! Waduh, gimana, ya, kalau punya temen-temen seperti ini?

 

Jauhi atau Gimana?

“Jauhi aja mereka, ntar ketularan, lho..!” Yak, tul, juga. Saya kan anak baek-baek. Kalau dekat-dekat, iman saya bisa turun, dong. Eit, tapi pikir-pikir dulu, lihat sendiri keadaan imanmu, dan keadaan mereka baru ambil keputusan, jangan buru-buru, oke?

Kalo kamu baru saja taubat dari kebiasaan buruk kamu, sedangkan imanmu masih lemah, memang mending kamu jauhin mereka dulu. Apalagi jika teman-temanmu sangat mempengaruhi kepribadianmu. Tapi menjauh dulu dari mereka bukan berarti kemudian tidak menyapa mereka, pasang muka tebal, dan mahal senyum, lho! Lagian, kalo mereka muslim, mereka kan masih saudara kita-kita.

Agak beda keadaannya jika iman kamu sudah tebal, dan kamu yakin nggak akan terpengaruh dengan mereka. Nah, kalo kamu memang sudah begitu, sedikit-sedikit dekatilah mereka, dengan tujuan menasehati mereka.

 

Nasehat: Hak dan Kewajiban Muslim

Allah sendiri kan berfirman, yang artinya, “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman, dan beramal shalih, dan saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran.” (Al-Ashr:1-3). Nggak mau rugi, kan? Makanya, nasehatilah mereka.

Setiap muslim punya hak untuk dinasehati. Setiap muslim punya hak untuk mengetahui kebenaran. Jangan sampai kita sendiri yang udah jadi baek malah merampas hak-hak mereka dengan tidak pernah mau menasehati mereka. Seharusnyalah orang yang mendapat nikmat hidayah dari Allah juga ingin agar nikmat hidayah itu sampai juga ke orang lain. Inilah buah cinta sesama muslim.

Rasulullah bersabda, yang artinya, “Tidak sempurna iman kalian hingga kalian mencintai untuk saudara kalian apa-apa yang kalian cintai.” (Muttafaq alaih).

Siap menasehati? Sabar dulu, biar nasehatmu tepat sasaran, simak, nih, adab menasehati teman:

 

Ikhlas

Nasehat termasuk dakwah, sedangkan dakwah termasuk amal sholih. Agar amal sholih itu diterima oleh Allah, tentu salah satu syaratnya adalah harus ada keikhlasan di dalamnya.

Menasehati siapa pun, termasuk teman, harus dengan niat ikhlas lillahi ta’ala, artinya niat kamu adalah agar teman itu benar-benar bisa meninggalkan kebiasaan buruknya untuk kemudian menjadi muslim yang taat kepada Allah. Kalau niat kamu untuk mengungkit keburukan dia, atau menjatuhkan nama baiknya, atau biar kamu dianggap orang alim, atau biar nanti dapat boncengan gratis waktu pulang sekolah, atau yang sejenisnya, silakan siap-siap untuk menabung dosa.

 

Dengan Ilmu

Ini syarat yang kedua. Sudah semangat dakwah: bilang ini haram, itu nggak boleh, tapi waktu ditanya, “Kok, bisa haram dan nggak boleh?” cuma bisa cengar-cengir saja, ya, gawat, tuh. Idealnya kamu mengerti betul kenapa ini haram dan itu nggak boleh. Kalo pun ilmumu mepet, paling tidak kamu bisa nunjukkin di mana kamu dapat ilmu bahwa ini haram dan itu nggak boleh.

Itu baru ilmu tentang yang didakwahkan. Kamu juga perlu tahu ilmu tentang keadaan diri teman kamu itu, karena tiap orang bisa beda-beda cara mendakwahinya, walaupun materi dakwahnya sama. Lihat saja Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam ketika ada pemuda yang minta izin kepada beliau untuk berzina. Beliau tidak langsung bersabda, “Zina itu haram, titik ! Dalilnya Al-Isra: 32!” Tapi beliau Shalallahu ‘alaihi wa sallam tanya dulu, bagaimana (menurut kamu) jika yang dizinai itu saudara perempuan mu, ibu mu, dan seterusnya, dan seterusnya.

Ilmu yang ketiga adalah tentang metode dakwah. Jangan sampai metode yang kamu gunakan malah menyalahi syariat sendiri. Misalnya saja, anak putra mendakwahi anak putri agar pakai jilbab tapi dengan cara ngobrol berdua-duaan, di tempat sepi-sepi lagi. Hiiii..

 

Lemah Lembut

Kebenaran bisa ditolak bukan karena isi materi dakwah yang benar itu, melainkan karena caranya yang nggak simpatik. Lemah lembut itu modal penting dalam dakwah, dan metode asal dalam dakwah. Ingatlah Nabi Musa dan Fir’aun! Nabi Musa yang lebih baik imannya daripada kita tetap diperintah oleh Allah agar berlemah lembut ketika mendakwahi si kafir Fir’aun yang tentu kejelekannya sangat melebihi kejelekan teman-teman kita.

 

Empat Mata

Menasehati orang bukan berarti menyebarkan kejelekan orang. Bayangkan bagaimana bila kejelekanmu disiarkan seseorang di mana-mana dan orang itu beralasan bahwa hal itu adalah nasehat kepadamu. Dongkol, bukan? Itu sih namanya bukan nasehat, tapi cari musuh!

Karena itu para ulama zaman dulu sangat menjunjung metode empat mata dalam menasehati seseorang itu.

Imam Ibnu Hibban berkata, “Nasehat itu merupakan kewajiban manusia semuanya, sebagaimana telah kami sebutkan sebelum ini, tapi dalam teknik penyampaiannya haruslah secara rahasia, tidak boleh tidak, karena barangsiapa yang menasehati saudaranya di hadapan orang lain, maka berarti dia telah mencelanya, dan barangsiapa yang menasehatinya secara rahasia, maka ia telah memperbaikinya.”

Tapi ingat, ini khusus untuk sesama jenis, kalau antar lain jenis nanti malah bisa jadi gawat.

 

Sudah jelas, kan? Sekarang, cari ilmu dulu untuk menasehati temanmu, kenapa yang ia lakukan tidak boleh, dan bagaimana tipe kepribadian temanmu itu. Kalau sudah siap, dekatilah dia, ajaklah bicara empat mata dengan lemah lembut.

Nggak berhasil? Bukan urusan kita! Eit, maksudnya hidayah itu Allah-lah yang memberi, kita tidak dibebani untuk memaksa manusia, yang harus kita lakukan hanyalah dakwah. Perkara orang mau melaksanakan kebaikan atau tidak, Allah-lah yang lebih mengetahui siapa yang pantas Ia beri hidayah.

 

Alif.

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *