BERISLAM MULAI DARI MANA?

BERISLAM MULAI DARI MANA?

Alhamdulillah, Islam kini telah menyebar di segala penjuru dunia. Seruan untuk menegakkan sholat selalu berkumandang di masjid mana pun di belahan dunia ini. Perintah untuk berinfaq disampaikan di setiap pengajian. Kewajiban berbakti pada orang tua selalu disampaikan di TPA-TPA.  Perintah ini-itu tersebar di mana-mana.

Namun, bisa jadi malah ada seseorang yang baru melangkah ke jalan Islam akan bingung melihat begitu banyaknya, lengkapnya, dan sempurnanya ajaran Islam. Ia tidak tahu mana yang harus ia lakukan lebih dulu. Naik hajikah ? Atau membayar zakat maal yang belum ia bayar dulu ? Atau mewakafkan tanah untuk masjid ? Mungkin sekali ia bertanya, ” Saya bingung dengan banyaknya perintah dalam Islam. Apa yang harus saya lakukan pertama kali untuk menegakkan ajaran Islam pada diri saya ?” Kebingungan yang sama juga menghinggapi pemuda/i yang berlabel aktifis, sekian banyak tampilan pergerakan Islam, ada yang memulai dari ekonomi, politik, kekuasaan (kekhalifahan), budaya, sedekah, dll. Haruskah ia memulai dari cabang jalan yang beragam itu?

Islam bisa diibaratkan sebagai bangunan yang ada pada diri seorang muslim, dan muslim itulah yang menjadi pembangunnya. Seorang tukang bangunan jika ingin membangun suatu rumah tentu dia harus tahu bagaimana memilih batu yang kuat sebagai pondasi, bagaimana mengatur komposisi semen dan pasir untuk perekat, bagaimana batu bata yang bagus, dan lain-lain. Jika ia tidak tahu menahu sekitar masalah bangun-membangun ini tentu hasil bangunannya tidak akan bagus; rapuh, dan mudah rubuh. Pondasi gubuk non-permanen tentulah berbeda dengan pondasi gedung pencakar langit, kalau pondasinya sama atau bahkan kebalik, bisa dibayangkan akibatnya kan? Nah, jadi, seorang tukang bangunan harus mempunyai pengetahuan dan ilmu tentang bangunan lebih dahulu sebelum membangunnya.

Nggak beda dengan seorang muslim. Untuk berislam –membangun Islam pada dirinya- hal awal yang pertama kali harus ia lakukan adalah mencari ilmu tentang Islam itu sendiri. Jadi, kita semua harus belajar Islam dulu sebelum mengamalkannya.

Saking pentingnya ilmu tentang Islam itu, maka Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam mewajibkannya pada setiap muslim dalam sebuah hadits yang artinya, ” Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim.” ( HR. Ibnu Majah, sanadnya hasan).

Karena keharusan menjadikan ilmu  sebagai awal dari segalanya, maka Imam Bukhori menulis satu bab tersendiri tentang hal tersebut, yaitu : ” Bab : Ilmu itu didahulukan sebelum berucap dan berbuat”. Beliau berdalil dengan firman Allah subhaanahu wa ta’alaa, yang artinya : ” Maka ketahuilah (ilmuilah) bahwa sesungguhnya tiada sesembahan yang berhak  untuk disembah kecuali Allah…(QS Muhammad : 19).

Secara akal sehat, memang benar pernyataan Imam Bukhori tersebut. Lihat saja, bagaimana mungkin seseorang bisa menegakkan sholat dengan benar padahal ia belum belajar bagaimana tata cara sholat yang benar tersebut. Bagaimana dia bisa berwudhu dengan benar sedangkan ia tidak pernah mau belajar bagaimana tata cara wudhu yang benar? Bukankah orang yang mau belajar itu pasti lebih tahu dan lebih benar tata caranya daripada orang yang tidak pernah  belajar? Tul, nggak? Maka suatu hal yang tidak akan pernah terbantahkan lagi bahwa menuntut ilmu agama dan mempelajarinya itu merupakan awal penegakan Islam, sebelum beramal dan berdakwah.

Biar kamu tambah mantap untuk memulai membangun Islam dengan awal yang benar, ada sabda-sabda Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam yang berkaitan dengan pentingnya ilmu dan keutamaan orang yang mempunyai ilmu. Simak saja :

” Keutamaan seorang yang berilmu dibandingkan dengan seorang yang ahli ibadah adalah seperti keutamaan bulan atas bintang-bintang. Sesungguhnya orang-orang yang berilmu itu pewaris para Nabi. Sesungguhnya para nabi tidaklah mewariskan dinar maupun dirham. Mereka hanyalah mewariskan ilmu. Maka barangsiapa yang mengambilnya (mempelajarinya), maka dia telah mengambil keuntungan yang banyak.” (HR. At-Tirmidzy).

” Barangsiapa yang Allah kehendaki padanya kebaikan , maka Allah akan memahamkan dia dalam masalah agama.” (HR. Bukhary dalam Kitab Ilmu : 10, Muslim dalam Kitab Al-Imarah : 3/175, SHAHIH).

” Barangsiapa meniti suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga. ” (HR Muslim).

” Sesungguhnya para malaikat benar-benar meletakkan sayapnya kepada orang-orang yang mencari ilmu, karena ridha terhadap apa yang dicarinya. ” (HR Imam Ahmad dan Ibnu Majah).

Nah, lho! Coba saja perhatikan! Orang yang mempunyai ilmu agama itu merupakan pewaris Nabi, lebih utama kedudukannya daripada ahli ibadah semata, orang yang berstatus baik di mata Allah, dan ia akan dimudahkan untuk menuju surga, selain itu para malaikat pun ridha terhadap ilmu yang ia cari.

Allah Subhaanahu wa ta’ala pun berfirman mengenai orang yang berilmu ini, yang artinya, “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (Al-Mujaadilah : 11).

Yang dimaksud mendahulukan ilmu sebelum beramal dan berdakwah tidaklah mewajibkan kamu-kamu untuk menjadi seorang ulama yang faqih (paham) dalam semua masalah agama lebih dulu baru beramal dan berdakwah, namun yang dimaksudkan adalah: sebelum kita mengamalkan suatu amalan agama atau meyakini suatu keyakinan dalam agama, kita harus mengetahui bahwa amalan atau keyakinan tersebut ada dasarnya dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Pengetahuan kita terhadap dasar amalan atau keyakinan tersebut sudah mencukupi bagi kita untuk mengamalkan amalan atau keyakinan tersebut, namun jika kita bisa menghafalkannya itu lebih baik.

Jika setiap muslim memulai membangun Islam ini dengan cara yang benar, yaitu dengan mencari ilmu dulu, tentu bangunannya akan kokoh, tidak mudah roboh walau diterjang badai kehidupan. Amalan dan keyakinan yang ia punyai akan diterima oleh Allah Subhaanahu wa ta’ala karena berdasar ilmu yang benar. Akhirnya, ia pun sukses, beruntung dunia akhirat

Alif#13

.

Share this post

Comment (1)

  • Tommy Hutomo

    “sebelum kita mengamalkan suatu amalan agama atau meyakini suatu keyakinan dalam agama, kita harus mengetahui bahwa amalan atau keyakinan tersebut ada dasarnya dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah.”
    Wah., bener itu….. 😀

    March 13, 2013 at 12:02 am

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *