Aku Puasa (lagi)

Aku Puasa (lagi)

Apabila Ramadhan tiba
Dibuka pintu-pintu Syurga
Ditutup pintu-pintu Neraka
Dan dibelenggu syaitan-syaitan

Alhamdulillah, bulan penuh berkah kembali menyertai kita. Bulan yang diturunkan padanya Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia. Bulan di saat syaitan dibelenggu, pintu-pintu Neraka ditutup dan pintu-pintu Syurga dibuka. Diantara malam-malamnya terdapat suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan.

Ramadhan telah tiba. Wajib bagi setiap muslim yang berakal, baligh alias sudah gedhe, bermukim (tidak melakukan perjalanan, safar) lagi mampu serta selamat dari penghalang, untuk melakukan ibadah puasa. Mari persiapkan diri sebaik-baiknya, mari berlomba…

Puasa Itu Apa, Ya?
Shaum atau puasa secara bahasa bermakna imsak (menahan). Dalam pengertian agama (secara Syar’i) bermakna menahan diri dari segala sesuatu yang dapat membatalkan, mulai terbitnya fajar shubuh hingga terbenamnya matahari, dengan disertai dengan niat.

Puasa di bulan ini hukumnya wajib berdasarkan Al Quran, As-Sunnah (Hadits), dan kesepakatan seluruh kaum muslimin (ijma’). Artinya, bila ibadah ini dikerjakan, mendapat pahala, jika ditinggalkan, maka berdosa.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman -yang artinya-: ”Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atasmu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa.” (terjemahan Al Qur’an surat Al-Baqarah :183)

Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda -yang artinya-: ”Islam dibangun diatas lima perkara,-disebutkan diantaranya-: puasa bulan Ramadhan.”(terjemahan hadits riwayat Al-Bukhari),

Barangsiapa tidak berpuasa, walau satu hari saja di siang bulan ini, tanpa alasan yang dibenarkan syar’iat maka ia telah melakukan dosa besar!

Indahnya Puasa

Allah dan Rasul-Nya memberikan dorongan semangat (targhib) untuk melaksanakan puasa ini dengan menjelaskan keutamaan serta tingginya kedudukan puasa. Kalau seandainya orang yang berpuasa mempunyai dosa sebanyak buih di lautan niscaya akan diampuni dengan sebab ibadah yang baik dan diberkahi ini. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda -yang artinya-: “Barangsiapa yang berpuasa di bulan ramadhan dengan penuh iman dan intisab maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu..” (terjemahan hadits riwayat. Bukhari dan Muslim).

Makna dari “Penuh iman dan intisab” adalah membenarkan wajibnya puasa, mengharapkan pahalanya, hatinya senang dalam mengamalkan, tidak membencinya, tidak merasa berat dalam mengamalkannya.(Sifat Puasa Nabi, Syaikh Salim dan Syaikh ‘Ali, halaman .27).

Amalan Khusus

Allah mengkhususkan puasa untuk dirinya sendiri karena amalan puasa sangat dicintai disisi-Nya. Lagipula Puasa merupakan rahasia antara seorang hamba dengan Rabbnya. Kalau ada seseorang sholat, orang banyak bisa menyaksikannya. Akan tetapi kalau orang sedang puasa, tidak tampak oleh orang lain kecuali kalau ia mempublikasikannya.

Rasulullah bersabda –yang artinya-: “Tiap-tiap amalan anak Adam adalah untuk dirinya sendiri kecuali puasa,karena puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya…” (terjemahan hadits riwayat Bukhary dan Muslim)

Pahala orang yang berpuasa disandarkan oleh Allah pada diri-Nya. Amal shaleh kelak akan dilipatgandakan pahalanya sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat. Akan tetapi khusus untuk puasa, Allah menyandarkan imbalan orang yang berpuasa pada diri-Nya dengan balasan yang tidak terbilang. Maka rugi banget bagi mereka yang tidak berpuasa.

Bau Kesturi

Rasulullah bersabda –yang artinya-: “…Demi Dzat yang jiwa Muhammad ditangan-Nya, bau busuk mulut orang yang berpuasa lebih baik dan lebih harum di sisi Allah daripada bau kesturi yang harum semerbak…” (terjemahan hadits riwayat Bukhary dan Muslim)

Betapa luhur dan mulianya puasa. Apa yang menurut manusia jelek dan tidak disukai, menjadi hal yang disukai Allah. Maka bagi mereka yang berprinsip “Biarlah manusia benci asal Allah mencintai” tentunya tidak bakalan melewatkan kesempatan emas ini.

Dua Kali Gembira

Bagaimana rasanya waktu tiba buka puasa? Gembira banget. Haus hilang, lapar pun melayang. Tapi, masih ada kegembiraan yang lain. Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa salam bersabda –yang artinya-: “…Orang berpuasa itu mempunyai dua kesenangan; jika berbuka ia bergembira karena berbukanya, dan ketika ia bertemu Rabbnya ia bergembira karena puasanya.” (terjemahan hadits riwayat Bukhary dan Muslim)

Kegembiraan yang lain bagi mereka yang berpuasa adalah ketika mereka bertemu Rabbnya. Mereka telah bersusah payah beribadah di dunia, maka balasan yang sempurna dari Allah di hari Akhir akan datang kepadanya.

Niat di dalam berpuasa

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda -yang artinya-: “Barangsiapa yang tidak berniat melakukan puasa sebelum fajar, maka tidak ada puasa baginya”. (terjemahan hadits riwayat Abu Dawud, Ibnu Majah, Al-Baihaqi). Niat boleh dilakukan kapan saja dimalam hari, walaupun sesaat sebelum fajar. Niat adalah tekad dan hasrat hati untuk melakukan pekerjaan.

Adapun melafalkan (membaca lafal) niat itu tidak pernah dicontohkan oleh Nabi. Setiap orang yang mengetahui bahwa besok adalah hari bulan Ramadhan dan ia bermaksud akan berpuasa, maka ia berarti telah berniat.

Orang yang berpuasa ramadhan tidak perlu memperbaharui niatnya pada setiap malam hari bulan ini. Sudah cukup baginya niat disaat datangnya bulan Ramadhan. Namun jika ia membatalkan puasa karena sakit, dalam perjalanan (safar) maka ia wajib memperbaharui niatnya. (Risalah Puasa, syaikh Shalih Al-munajjid, halaman. 32)

Mengakhirkan Sahur dan Menyegerakan Berbuka

Ada orang yang begitu semangatnya puasa sampai-sampai mereka mengawalkan sahur dan mengakhirkan berbuka. Benar tidak sih? Mari kita lihat para shahabat nabi, kelompok yang paling memahami Al Qur’an dan Hadits. Para shahabat Nabi –Semoga Allah meridhoi mereka- adalah orang-orang yang paling bersegera dalam berbuka dan paling akhir dalam sahur. Bahkan inilah yang dituntunkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dalam sabdanya yang artinya : “Senantiasa manusia dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka”. (terjemahan hadits riwayat. Bukhari dan Muslim). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berbuka sebelum sholat Maghrib, dengan kurma . Kalau tidak ada kurma beliau minum dengan satu tegukan air.

Jangan lupa membaca do’a “Dzahabadh dhama’u wabtalatil ‘uruqu…dst”. (terjemahan hadits riwayat Abu Dawud ,dll).

Kalau matahari telah tenggelam secara sempurna, maka orang yang berpuasa boleh berbuka. Kalau masih ada sisa cahaya kemerah-merahan di ufuk barat? Itu tidak menjadi penghalang untuk berbuka. Dan sunnahnya adalah segera berbuka.

Tentang sahur Nabipun bersabda -yang artinya-: ”makan sahurlah kamu, karena sahur itu mengandung berkah”. (terjemahan hadits riwayat Al-Bukhari).

Jangan ‘Balas Dendam’…

Kita memang disunnahkan untuk menyegerakan berbuka tapi ini bukan berarti kesempatan buat balas dendam. Setelah siangnya perut kosong, pas buka inginnya semua makanan, minuman, dimasukkan ke dalam perut. Padahal nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda -yang artinya-: “Tiada bejana yang dipenuhi oleh manusia yang lebih buruk daripada perutnya…” (terjemahan hadits riwayat Tirmidzi).

Syaikh Shalih Al-Munajjid menggambarkan keadaan yang memprihatinkan ini dalam bukunya,”Betapa banyak manusia yang tenggelam dalam pembuatan berbagai macam makanan, hingga menyita banyak waktu bagi ibu-ibu di rumah dan para pembantu sampai membuat mereka lupa beribadah, bahkan uang yang habis dibelikan bahan-bahan makanan jauh lebih besar daripada biasanya, dengan demikian bulan puasa menjadi bulan memupuk lemak dan berbagai penyakit pencernaan, makan bagai orang yang tak pernah makan dan minum bagaikan orang yang tak pernah minum, lalu apabila bangkit untuk sholat Tarawih maka kemalasanpun menyelimutinya, sampai ada diantara mereka yang sampai meninggalkan sholat Tarawih pada raka’at yang pertama. (Risalah Puasa, halaman 14).

Yang boleh dan yang Membatalkan

Hal-hal yang diperbolehkan bagi orang yang berpuasa yakni : masuk waktu shubuh dalam keadaan junub (karena mimpi basah atau lainnya), bersiwak/gosok gigi, berkumur ketika berwudhu, memasukkan air ke hidung tetapi jangan berlebihan, berdarah karena luka, suntikan/infus yang tidak mengandung makanan, mencicipi makanan selama tidak sampai tenggorokan, muntah tanpa disengaja, memakai obat tetes mata, mengguyurkan air ke atas kepala atau bahkan mandi masih diperbolehkaan.

Sedangkan pembatal-pembatal puasa yakni : makan dan minum dengan sengaja, muntah dengan sengaja, haidh dan nifas bagi wanita, suntikan yang mengandung makanan/infuse, dan berhubungan suami istri. Termasuk hal-hal yang wajib ditinggalkan oleh orang yang sedang berpuasa adalah perkataan dusta, perbuatan sia-sia dan keji, walaupun hal itu tidak membatalkan puasa.

Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa salam bersabda –yang artinya-; “Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan batil, maka Allah tidak memerlukan ia meninggalkan makan dan minumnya.” (terjemahan hadits riwayat Bukhary)

Hentikan kebiasaan ngerumpi…lebih bagus lagi baca Quran, Insya Allah dapat pahala berlipat-lipat.

Majelis Ramadlan, Muhammad Al ‘Utsaimin

(alif).

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *